Harga Avtur Naik, Tiket Pesawat Dibatasi Maksimal 13 Persen

Suasana pesawat yang bersiap mengangkut penumpang di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. 


JAKARTA,KITAPUNYA.ID – Pemerintah menegaskan harga tiket pesawat tetap diupayakan terjangkau bagi masyarakat, meskipun harga avtur mengalami kenaikan akibat konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa avtur merupakan bahan bakar non-subsidi sehingga nilainya mengikuti mekanisme pasar. 

Jika tidak ada penyesuaian di dalam negeri, kondisi tersebut berpotensi dimanfaatkan maskapai asing karena perbedaan harga dengan negara lain yang sudah lebih dulu naik.

Menurut Airlangga, pemerintah tetap berfokus menjaga daya beli masyarakat sebagaimana arahan Presiden RI Prabowo Subianto. Oleh karena itu, sejumlah langkah disiapkan untuk menahan lonjakan harga tiket, mengingat avtur menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional penerbangan.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemberian insentif berupa subsidi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) melalui skema Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp1,3 triliun per bulan. Program ini direncanakan berjalan selama dua bulan dengan total anggaran mencapai Rp2,6 triliun.

Selain itu, pemerintah juga menetapkan fuel surcharge sebesar 38 persen untuk seluruh jenis pesawat. Kebijakan ini memberi ruang bagi maskapai untuk menyesuaikan Tarif Batas Atas (TBA).

Dengan kombinasi kebijakan tersebut, pemerintah membatasi kenaikan harga tiket pesawat domestik kelas ekonomi agar tidak lebih dari 13 persen, dengan kisaran kenaikan ideal antara 9 hingga 13 persen.

Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan keringanan berupa pembebasan bea masuk untuk impor suku cadang pesawat. Langkah ini diharapkan dapat menekan biaya operasional maskapai sehingga turut membantu menjaga harga tiket tetap terkendali.

Di sisi lain, harga avtur di berbagai negara memang sudah mengalami kenaikan sejak bulan lalu. Namun, harga di Indonesia masih relatif lebih rendah. Per 1 April 2026, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta tercatat sekitar Rp23.551 per liter, lebih murah dibandingkan Thailand yang mencapai Rp29.518 per liter dan Filipina sebesar Rp25.326 per liter.

Kenaikan harga avtur dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang berdampak pada terganggunya pasokan energi global, termasuk akibat penutupan Selat Hormuz.

Meski demikian, pemerintah memastikan ketersediaan energi nasional, terutama bahan bakar minyak (BBM), masih dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan dalam negeri.(def*)

0 Komentar

silakan komentar yang berguna