Jangan Sampai Jadi Raksasa Lumpuh, DPR Desak SIG Rombak Total Strategi Bisnis

 

Foto Hj. Nevi Zuairina yang diolah menggunakan AI oleh timnya. Ist 

JAKARTA, KITAPUNYA ID — Kinerja raksasa semen tanah air, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), tengah berada dalam sorotan tajam. Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Hj. Nevi Zuairina, melontarkan peringatan keras menyusul laporan keuangan tahun 2025 yang menunjukkan tekanan berat pada profitabilitas perusahaan plat merah tersebut.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang membahas evaluasi kinerja 2025 dan roadmap 2026, Nevi membedah angka-angka krusial yang dianggap mengkhawatirkan. Pendapatan SIG tercatat melandai ke angka Rp37,8 triliun (turun 2,6%), namun hantaman paling keras terlihat pada laba bersih yang anjlok drastis menjadi hanya Rp191 miliar.

Menurut Nevi, fenomena ini adalah alarm bagi industri semen nasional. Ia menyoroti kondisi oversupply di mana tingkat utilisasi industri hanya menyentuh angka 54%. Kondisi ini memicu "perang harga" yang tidak sehat dan menggerus margin keuntungan perusahaan.

"Masalah utama SIG bukan semata soal jualan, tapi struktur industri yang sudah jenuh. Dengan utilisasi hanya setengah dari kapasitas, perang harga tidak terhindarkan. SIG terjepit di antara harga jual yang tertekan dan beban biaya energi yang membengkak hingga 54% dari total biaya produksi," urai Legislator asal Sumatera Barat II ini.

Strategi 3 Juta Rumah: Peluang Emas yang Tak Boleh Lepas

Nevi menegaskan bahwa SIG harus mengubah pola pikir. Model bisnis lama yang hanya menjual semen sebagai komoditas dianggap sudah usang dan tidak lagi relevan. Ia mendorong transformasi cepat menuju Building Material Ecosystem.

Beberapa poin transformasi yang ditekankan Nevi antara lain:

Hilirisasi Produk: Penguatan pada produk turunan seperti mortar, readymix, dan solusi konstruksi terintegrasi.

Optimalisasi Program Pemerintah: Memanfaatkan momentum program 3 Juta Rumah yang diprediksi menyerap 9 juta ton semen. Nevi ingin SIG melakukan skema bundling produk, bukan sekadar menjadi pemasok bahan baku.

Kemandirian Energi: Mempercepat penggunaan energi alternatif seperti biomassa dan RDF (Refuse Derived Fuel) untuk menangkal volatilitas harga energi global akibat tensi geopolitik.

Peringatan untuk Masa Depan

Menutup pernyataannya, Nevi mengingatkan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang tepat dan keberanian bertransformasi, SIG terancam kehilangan taringnya sebagai aset negara.

“Kita tidak ingin SIG hanya menjadi perusahaan besar secara fisik, tapi keropos secara nilai tambah. Intervensi kebijakan dan transformasi bisnis adalah kunci agar SIG tidak terjebak dalam industri dengan margin rendah secara permanen,” tegas Nevi.

Komisi VI DPR RI pun berkomitmen untuk terus mengawal roadmap transformasi SIG agar mampu kembali menjadi market stabilizer yang sehat dan memberikan kontribusi optimal bagi pendapatan negara di tahun 2026.

0 Komentar

silakan komentar yang berguna