Harga Plastik Melonjak Hingga 70 Persen, Nevi Zuairina: Jangan Sampai Nasibnya Seperti Industri Tekstil



JAKARTA, KITAPUNYA.ID-Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Hj. Nevi Zuairina, memberikan peringatan keras terkait masa depan industri plastik nasional. 

Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini mulai memberikan tekanan nyata pada rantai pasok industri di tanah air, terutama akibat ketergantungan impor bahan baku yang sangat tinggi.

Legislator asal Sumatera Barat ini mengungkapkan bahwa sektor industri plastik Indonesia saat ini berada dalam posisi rentan. Hal ini disebabkan oleh belum mandirinya kapasitas industri petrokimia dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan komponen vital seperti resin dan nafta.

Krisis Bahan Baku di Ambang Mata

Nevi menjelaskan bahwa sekitar 60 hingga 70 persen bahan baku plastik Indonesia masih bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah. Ketika wilayah tersebut dilanda konflik, jalur pasokan nafta langsung terganggu, memicu lonjakan harga yang drastis.

“Harga resin dan produk plastik kini melonjak tajam antara 30 hingga 50 persen, bahkan untuk jenis tertentu menyentuh angka 70 persen. Jika ini dibiarkan, industri hilir seperti kemasan, makanan, minuman, hingga otomotif akan ikut tercekik,” tegas Nevi dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026).

Cari Alternatif: Dari Afrika hingga India

Menghadapi kondisi darurat ini, Nevi mendesak Kementerian Perdagangan untuk segera melakukan diversifikasi sumber bahan baku. Langkah jangka pendek yang harus diambil adalah mengalihkan peta impor ke negara-negara yang relatif stabil.

“Pemerintah perlu segera mencari alternatif sumber bahan baku dari kawasan lain seperti Afrika dan India. Rantai pasok tidak boleh terhenti hanya karena satu wilayah sedang bergejolak,” tambah srikandi PKS tersebut.

Momentum Transformasi dan Kemandirian

Selain langkah darurat, Nevi melihat krisis ini sebagai momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi industri. Ia mendorong penguatan industri petrokimia nasional melalui pembangunan kilang dan pabrik resin di dalam negeri agar Indonesia tidak terus-menerus menjadi "pemain pinggiran" dalam pasar global.

Di sisi lain, ia juga menuntut kebijakan afirmatif dari pemerintah melalui:

Insentif Fiskal: Untuk meringankan beban biaya produksi pelaku usaha.

Subsidi Terbatas: Menjaga agar harga barang konsumsi di masyarakat tidak meledak.

Penyesuaian Bea Impor: Sebagai langkah perlindungan industri dalam negeri.

Peringatan bagi Pemerintah

Menutup pernyataannya, Nevi mengingatkan pemerintah agar tidak abai terhadap kondisi ini. Ia mengibaratkan ancaman ini dengan krisis yang pernah memukul industri tekstil nasional.

“Negara harus hadir sekarang juga. Jangan sampai kita terlambat bertindak dan membiarkan industri plastik kita rontok. Penyelamatan industri ini adalah penyelamatan ekonomi rakyat,” tutupnya. (rel/nz)



0 Komentar

silakan komentar yang berguna