![]() |
| Foto Nevi Zuairina, Anggota DPR RI sedang beraktivitas yang diolah menggunakan AI. Ist |
JAKARTA, KITAPUNYA.ID– Bayang-bayang krisis energi global akibat konflik geopolitik dunia kian nyata.
Menanggapi situasi tersebut, Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Hj. Nevi Zuairina, menegaskan bahwa transparansi informasi dan keterlibatan aktif masyarakat adalah "senjata" utama Indonesia untuk tetap bertahan.
Nevi mengapresiasi keputusan pemerintah yang telah memberikan kepastian bahwa harga BBM tidak akan naik hingga akhir tahun 2026. Menurutnya, langkah ini menjadi jangkar stabilitas ekonomi di tengah badai tekanan global yang belum mereda.
Komunikasi Publik yang Jujur dan Sederhana
Meski harga BBM tetap stabil, legislator asal Sumatera Barat II ini mengingatkan agar pemerintah tidak lengah. Ia mendesak adanya strategi komunikasi publik yang lebih terbuka dan mudah dicerna oleh masyarakat awam.
"Pemerintah perlu menyampaikan secara jujur apa yang sedang terjadi di dunia, bagaimana dampaknya terhadap pasokan minyak kita, dan langkah mitigasi apa yang disiapkan. Komunikasi yang transparan akan mencegah masyarakat terjebak dalam kepanikan," ujar Nevi di Jakarta, Sabtu (11/4).
Dampak Sistemik yang Menghantui
Kapoksi VI FPKS ini memaparkan bahwa gangguan pada jalur distribusi minyak dan gas dunia akibat konflik internasional bersifat sistemik. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, fluktuasi harga energi dapat memicu lonjakan biaya logistik dan inflasi yang langsung menghantam daya beli masyarakat.
"Efeknya mungkin tidak langsung terasa di pompa bensin, tapi beban subsidi di APBN bisa membengkak. Inilah mengapa kita butuh komunikasi yang jelas agar masyarakat paham tantangan besar yang sedang kita hadapi bersama," jelasnya.
Ubah Pola Pikir: Energi Tidak Selalu Ada
Lebih jauh, Nevi mengajak seluruh elemen masyarakat mulai dari generasi muda hingga para influencer untuk mengampanyekan gaya hidup hemat energi secara masif. Ia menekankan bahwa ketahanan energi nasional tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada pola konsumsi rakyatnya.
"Kita harus mengubah pola pikir. Energi sering dianggap sebagai komoditas yang akan selalu tersedia, padahal ia terbatas dan sangat dipengaruhi ekonomi global. Ketahanan energi harus menjadi gerakan bersama, mulai dari menghemat penggunaan listrik di rumah masing-masing," tambah Nevi.
Menutup pernyataannya, Nevi menegaskan bahwa sinergi antara kebijakan pemerintah yang pro-rakyat dan kesadaran energi dari masyarakat akan menjadi fondasi kuat bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia yang tidak menentu.

0 Komentar
silakan komentar yang berguna