BI Sumbar Optimalkan TPID untuk Jaga Stabilitas Harga 2026

  

Pasokan Membaik, Sumbar Alami Deflasi Terdalam Nasional pada Januari 2026


PADANG, KITAPUNYA.ID– Provinsi Sumatera Barat mencatat deflasi sebesar 1,15 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Januari 2026. 

Angka ini menjadi deflasi terdalam di tingkat nasional, melampaui sejumlah daerah lain yang juga terdampak bencana, seperti Aceh dan Sumatera Utara.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat, Andy Setyo Biwado, menyampaikan bahwa deflasi yang cukup dalam tersebut didorong oleh semakin pulihnya pasokan barang. Kondisi ini tidak terlepas dari langkah cepat dan aktif pemerintah daerah dalam mempercepat pemulihan pascabencana.

“Perbaikan infrastruktur transportasi dan distribusi, serta kebijakan pemberian diskon tarif Perusahaan Air Minum (PAM), menjadi faktor penting yang mendukung kelancaran pasokan,” ujarnya.

Dari kelompok komoditas pangan bergejolak (volatile foods), deflasi terutama disumbang oleh penurunan harga komoditas hortikultura, khususnya cabai merah dan bawang merah. Penurunan harga tersebut sejalan dengan normalisasi pasokan dari sentra produksi lokal, serta masuknya pasokan tambahan dari Sumatera Utara dan Pulau Jawa.

Meski demikian, laju deflasi yang lebih dalam tertahan oleh masih adanya tekanan inflasi pada sejumlah komoditas pangan, seperti beras dan tomat. Kondisi ini dipengaruhi faktor musiman serta dampak bencana yang masih dirasakan di sebagian lahan pertanian.

Sementara itu, dari kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), kebijakan Pemerintah Kota Padang berupa diskon tarif PAM sebesar 50 persen memberikan kontribusi deflasi sebesar 0,12 persen. Selain itu, membaiknya kondisi lalu lintas dan jalur transportasi turut mendorong penurunan tarif angkutan antarkota hingga 17,22 persen (mtm), dengan andil deflasi sekitar 0,05 persen.

Di sisi lain, tekanan inflasi pada Januari 2026 terutama bersumber dari kenaikan harga emas perhiasan. Kenaikan tersebut sejalan dengan tren peningkatan harga emas dunia di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Emas perhiasan tercatat sebagai penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan andil 0,13 persen (mtm), diikuti oleh tomat, beras, ikan nila, dan ikan asin teri.

Secara wilayah, seluruh kabupaten dan kota yang tercatat dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Barat mengalami deflasi pada Januari 2026. Kabupaten Pasaman Barat mencatat deflasi terdalam sebesar 1,84 persen (mtm), disusul Kota Padang sebesar 1,02 persen, Kabupaten Dharmasraya 0,92 persen, dan Kota Bukittinggi 0,73 persen.

Deflasi yang cukup besar di Kabupaten Pasaman Barat sejalan dengan semakin membaiknya pasokan komoditas hortikultura di daerah tersebut. 

Namun demikian, secara tahunan Sumatera Barat masih mencatat inflasi di atas target nasional. Inflasi tahunan pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,92 persen, dipengaruhi oleh low base effect, terutama akibat penerapan diskon tarif listrik pada Januari dan Februari 2025.

Selain itu, inflasi tahunan juga didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, peningkatan harga mobil sebagai dampak pemberlakuan opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), serta pengaruh depresiasi nilai tukar rupiah.

“Harga sejumlah komoditas pangan strategis seperti beras dan cabai rawit masih relatif tinggi, meskipun menunjukkan tren perbaikan dibandingkan akhir 2025,” tambahnya.

Untuk menjaga stabilitas harga, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi melalui berbagai langkah strategis. Upaya tersebut meliputi fasilitasi koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat dalam percepatan rekonstruksi infrastruktur, pelaksanaan rapat teknis TPID, intensifikasi operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM), penguatan kerja sama antardaerah, perluasan program Sekolah Lapang DAUN dan DAUN BANGKIT, serta penguatan komunikasi kebijakan kepada masyarakat.

Ke depan, inflasi tahunan Sumatera Barat masih menghadapi sejumlah risiko, antara lain dampak low base effect, peningkatan permintaan pangan menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, rigiditas konsumsi beras, potensi aliran pasokan ke luar daerah akibat disparitas harga, serta berlanjutnya kenaikan harga emas perhiasan dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Oleh sebab itu, sinergi pengendalian inflasi melalui TPID akan terus dioptimalkan guna menjaga inflasi Sumatera Barat tetap berada dalam kisaran sasaran nasional, yakni 2,5±1 persen secara tahunan pada 2026.(def*)

0 Comments