Transaksi Ilegal Tembus Ratusan Triliun, Polda Sumbar dan HGI Bekali Mahasiswa ‘Benteng’ Literasi Digital

 

Pemateri seminar. Ist 

PADANG, KITAPUNYA.ID- Di balik kemudahan layar ponsel, ancaman besar tengah mengintai generasi muda Indonesia. Data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap fakta mengejutkan: nilai transaksi aktivitas digital ilegal di tanah air melonjak drastis hingga menyentuh angka ratusan triliun rupiah pada tahun 2024.

Menyikapi fenomena yang mengkhawatirkan ini, penyelenggara HGI bekerja sama dengan Polda Sumatera Barat menggelar seminar edukatif bertajuk “TERJEBAK DI BALIK LAYAR: Psikologi dan Dampak Sosial Aktivitas Digital Berisiko bagi Generasi Muda” di Ballroom Hotel Santika, Padang, Selasa (12/5).

Generasi Muda: Kelompok Paling Rentan

Pesatnya perkembangan layanan hiburan digital dan platform online ibarat pisau bermata dua. Budaya ingin serba instan dan rendahnya kesadaran digital membuat mahasiswa dan masyarakat usia produktif menjadi sasaran empuk aktivitas digital manipulatif.

Kombes Andry Kurniawan, S.I.K, M.Hum selaku Ditreskrimsus Polda Sumbar, menegaskan bahwa penegakan hukum saja tidak akan cukup untuk memberantas praktik digital ilegal.

"Pencegahan tidak bisa dilakukan aparat penegak hukum saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, komunitas, dan pelaku industri digital," ujar Kombes Andry di hadapan ratusan mahasiswa dari Universitas Andalas, Universitas Putra Indonesia (UPI) Padang, dan berbagai institusi pendidikan lainnya.

Literasi Digital sebagai 'Benteng' Utama

Selain kerugian ekonomi, aktivitas digital yang tidak sehat juga berdampak buruk pada kondisi psikologis dan sosial. Ahli Hukum ITE, Ryan Abdisa Sukmadja, S.H., CEH., menyebutkan bahwa berpikir kritis adalah kemampuan wajib di era sekarang.

"Literasi digital menjadi benteng utama agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam sistem digital yang manipulatif dan merugikan," jelas Ryan. Menurutnya, pemahaman hukum ITE sangat diperlukan agar anak muda tidak terjerumus dalam pola penggunaan platform yang merusak masa depan.

Mendorong Budaya Digital Sehat

Perwakilan HGI, Ray, menambahkan bahwa tantangan zaman ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan kecanggihan teknologi semata, melainkan melalui penguatan edukasi.

"Di era platform online saat ini, literasi digital bukan lagi sekadar tambahan pengetahuan, tetapi sudah menjadi kemampuan dasar yang harus dimiliki. Kami ingin mendorong terbentuknya budaya digital yang lebih sehat agar teknologi bisa dimanfaatkan secara produktif," kata Ray.

Seminar ini menjadi ruang diskusi hangat bagi mahasiswa di Sumatera Barat untuk memahami risiko di balik layar gadget mereka. Melalui kolaborasi ini, diharapkan generasi muda tidak lagi menjadi korban sistem digital yang manipulatif, melainkan menjadi pengguna teknologi yang cerdas dan sadar hukum.



0 Komentar

silakan komentar yang berguna