Jembatan Hancur, Aktivitas Warga Padang Pariaman Terganggu

 

Warga Padang Pariaman Menyebrangi Derasnya Arus Sungai Demi Kehidupan


PADANG PARIAMAN, KITAPUNYA.ID– Arus Sungai Batang Anai pada pagi itu mengalir sangat deras. Di tengah kondisi berbahaya tersebut, Afrizal Yatim, seorang pria berusia 70 tahun, tetap berusaha menyeberang dengan berpegangan pada seutas tali yang terbentang di sungai.

Namun, derasnya arus membuat upayanya hampir berakhir tragis. Pegangan Afrizal terlepas dan tubuhnya nyaris terseret arus. Beruntung, seorang pemuda setempat dengan cepat bertindak nekat menerjang sungai untuk menyelamatkan nyawa pria lanjut usia tersebut.

Peristiwa yang menimpa Afrizal itu menjadi gambaran sulitnya kondisi yang dialami warga Nagari Anduring, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman. Sejak jembatan utama mereka hancur akibat banjir bandang pada November 2025, warga terpaksa menjadikan penyeberangan sungai sebagai satu-satunya akses, meski penuh risiko.

Kerusakan jembatan tersebut tidak hanya memutus akses transportasi, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi di tiga korong yang dihuni lebih dari dua ribu penduduk. Puing-puing jembatan yang kini tersisa di dasar sungai menjadi saksi bisu terputusnya jalur vital masyarakat.

Sebagai solusi sementara, warga menggunakan rakit darurat yang dibuat dari kayu dan drum plastik bekas. Namun, fasilitas ini pun kerap tidak bertahan lama, terlebih setelah jembatan darurat sebelumnya yang sempat dibangun bersama relawan dan TNI kembali rusak akibat banjir.

Setiap hari, rakit tersebut menjadi satu-satunya alat penyeberangan bagi warga, termasuk pelajar. Anak-anak sekolah harus mengantre sejak pagi untuk bisa menyeberang. Kondisi ini membuat mereka sering terlambat sampai ke sekolah.

“Antrenya panjang karena rakit hanya satu. Kadang kami terlambat sampai sekolah,” ungkap Sifa, salah satu pelajar pengguna jasa penyeberangan tersebut.

Dalam sekali perjalanan, rakit darurat itu bahkan dipaksa mengangkut hingga lima sepeda motor sekaligus, selain penumpang pejalan kaki. Para pengemudi rakit harus sangat berhati-hati karena sedikit kesalahan bisa berakibat fatal.

Dampak lain yang cukup terasa adalah terganggunya perekonomian warga. Para petani kesulitan mengangkut hasil panen ke pasar sehingga harus mengeluarkan biaya tambahan dan waktu yang lebih lama. Kondisi ini turut memicu kenaikan harga kebutuhan pokok akibat tersendatnya distribusi barang.

Meski menjadi solusi sementara, warga menyadari bahwa rakit berbahan sederhana tersebut tidak akan mampu bertahan lama, terutama saat musim hujan kembali meningkatkan debit air sungai.

Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman sebelumnya telah merencanakan pembangunan jembatan darurat sebagai langkah awal sebelum pembangunan jembatan permanen dilakukan. Namun, bagi warga yang setiap hari bergantung pada penyeberangan ini, penantian terasa sangat berat.

Kisah Afrizal Yatim menjadi pengingat keras betapa berbahayanya kondisi yang harus dihadapi warga. Mereka kini hanya bisa berharap agar jembatan baru segera dibangun, sehingga tidak ada lagi korban yang mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyeberangi sungai.(def*)

0 Komentar

silakan komentar yang berguna