JAKARTA, KITAPUNYA.ID – Hutan Indonesia tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi juga memegang kunci penting dalam industri wewangian mewah dunia. Sejak abad ke-19, Indonesia telah menjadi raksasa dengan memasok sekitar 80% kebutuhan patchouli (minyak nilam) global.
Namun, kisah para petani di balik industri bernilai ekonomi tinggi ini kerap luput dari perhatian dunia.
Menembus batasan tersebut, ParagonCorp membawa kisah perjuangan dan ketangguhan para petani nilam asal Sulawesi ke panggung internasional dalam Partnership for Forests Conference (P4F) yang digelar di Barbican Conservatory, London, Inggris, pada 29 Mei 2026. Forum bergengsi ini mempertemukan para pelaku bisnis top, investor, dan organisasi keberlanjutan dari berbagai belahan dunia.
Hebatnya, ParagonCorp hadir sebagai satu-satunya perusahaan kecantikan asal Indonesia yang berpartisipasi dalam konferensi global tersebut pada tahun ini.
Membawa Suara 700 Petani Sulawesi ke Ranah Internasional
Melalui forum ini, ParagonCorp mengangkat cerita sukses transparansi rantai pasok nilam di Sulawesi yang melibatkan lebih dari 700 petani aktif. Jaringan ini bahkan telah mengantongi sertifikasi internasional For Life dari Ecocert.
“Indonesia memiliki posisi yang sangat krusial dalam rantai pasok patchouli dunia. Namun yang sering terlupakan adalah para petani yang berada di balik komoditas tersebut. Melalui forum ini, kami ingin membawa cerita mereka ke percakapan global yang lebih luas,” ujar dr. Sari Chairunnisa, Deputy CEO & Chief R&D Officer ParagonCorp.
Dr. Sari memaparkan betapa besarnya dedikasi para petani lokal dalam industri ini. Sebagai gambaran, dibutuhkan sekitar 250 kilogram daun patchouli segar hanya untuk menghasilkan 1 kilogram minyak sulingan murni yang menjadi bahan baku utama parfum-parfum global.
Komitmen Pertanian Regeneratif yang Menjaga Bumi
Patchouli dikenal sebagai komoditas premium, namun keberlanjutannya sangat bergantung pada kesehatan tanah. Oleh karena itu, sistem budidaya yang didukung oleh ParagonCorp menerapkan pendekatan pertanian regeneratif yang ramah lingkungan.
Setelah melalui empat kali masa panen dalam periode 15 bulan, lahan pertanian sengaja diistirahatkan melalui sistem rotasi tanaman demi memulihkan kesuburan tanah. Tidak ada yang terbuang; limbah hasil penyulingan daun nilam diolah kembali menjadi pupuk kompos untuk dikembalikan ke alam. selain itu, para petani juga dibekali pelatihan pertanian modern serta jaminan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Langkah Nyata Purposeful Beauty Tech Company
Bagi ParagonCorp—perusahaan raksasa FMCG yang menaungi brand-brand besar seperti Wardah, Kahf, Make Over, hingga Emina—keberlanjutan bukanlah sebuah status, melainkan perjalanan panjang yang harus terus diupayakan secara nyata.
Sebagai purposeful beauty tech company, inovasi ParagonCorp tidak hanya mengejar kualitas produk akhir, tetapi juga menakar dampak sosial dan lingkungan sejak dari hulu.
“Kami menyadari perjalanan ini masih panjang. Namun kami percaya bahwa perubahan dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Bagi kami, kemajuan lebih penting daripada kesempurnaan,” tutup dr. Sari dengan optimis. (*)
0 Komentar
silakan komentar yang berguna