PADANG PARIAMAN, KITAPUNYA.ID -PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat mencatat pertumbuhan signifikan pada aktivitas penumpang di Stasiun Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.
Stasiun ini kini tidak sekadar menjadi titik transit, melainkan simpul vital yang memperkuat konektivitas antarwilayah di Sumatera Barat.
Berdasarkan data KAI Divre II Sumbar, volume penumpang di Stasiun Lubuk Alung terus menunjukkan tren lonjakan dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Pada Semester I 2021, stasiun ini mencatatkan 23.268 pelanggan, lalu naik berturut-turut menjadi 40.418 (2022), 63.702 (2023), 77.702 (2024), dan 86.020 (2025).
Kenaikan paling tajam terjadi pada pertengahan tahun ini. Hingga Semester I 2026, jumlah penumpang telah menyentuh angka 132.054 orang—melonjak hingga 53,51 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, mengungkapkan bahwa lonjakan ini dipicu oleh optimalisasi pola operasi dan penambahan frekuensi perjalanan kereta api di wilayah tersebut.
"Pertumbuhan pelanggan di Stasiun Lubuk Alung berjalan seiring dengan peningkatan frekuensi perjalanan dan pengembangan pola operasi. Ini menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap moda transportasi kereta api terus berkembang pesat," kata Reza Shahab dalam keterangannya, Rabu (23/9/2026).
Peningkatan Layanan dan Perubahan Rute
Untuk mengakomodasi tingginya mobilitas masyarakat, KAI secara bertahap menambah operasional rangkaian kereta. KA Pariaman Ekspres yang pada 2021 hanya melayani 8 perjalanan per hari, sejak 2025 telah ditingkatkan menjadi 10 perjalanan saban hari.
Selain itu, KAI memperluas jangkauan operasional KA Lembah Anai. Rute yang sebelumnya melayani koridor Kayu Tanam–Bandara Internasional Minangkabau (BIM) PP (6 perjalanan), kini dialihkan menjadi relasi Kayu Tanam–Padang PP. Langkah strategis ini mempermudah akses langsung warga Padang Pariaman menuju pusat ekonomi dan kegiatan di Kota Padang.
Secara geografis dan operasional, Stasiun Lubuk Alung berada di posisi perlintasan tiga koridor utama, yakni Lubuk Alung–Duku, Lubuk Alung–Pariaman, serta Lubuk Alung–Kayu Tanam.
Dorong Ekosistem Modern dan Optimalisasi Aset
Melihat potensi besar tersebut, KAI Divre II Sumbar berencana memperluas peran Stasiun Lubuk Alung melalui optimalisasi aset perusahaan secara produktif. Lingkungan sekitar pasar rakyat di dekat stasiun dilirik untuk dikembangkan menjadi area komersial yang bernilai tambah bagi perekonomian lokal.
Selain itu, KAI juga menyiapkan pengembangan area parkir modern serta fasilitas penunjang seperti stasiun pengisian daya kendaraan listrik (EV charger), sebagai bentuk komitmen terhadap ekosistem transportasi hijau dan berkelanjutan.
Fasilitas kesehatan seperti Klinik Mediska yang berada di kawasan stasiun turut melengkapi ekosistem layanan KAI, memberikan kemudahan akses medis bagi para pekerja maupun masyarakat sekitar.
"Pengembangan Stasiun Lubuk Alung kami lihat secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi perjalanan kereta api, tetapi juga potensi kawasan dan fasilitas pendukungnya. Seluruh langkah ini kami jalankan dengan tetap memprioritaskan keselamatan, regulasi, dan kenyamanan masyarakat," pungkas Reza.
