PADANG PARIAMAN, KITAPUNYA.ID – Suasana penuh kehangatan dan nilai-nilai religius menyelimuti Surau Tangah Padang, Korong Gantiang Tangah Padang, Nagari Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan tradisi khas keagamaan masyarakat Minangkabau, Manjamu Labai, berlangsung khidmat dan sarat kebersamaan.
Kegiatan ini mendapat perhatian khusus dari Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hj. Nevi Zuairina. Politisi asal daerah pemilihan Sumatera Barat II tersebut menyampaikan dukungan penuh serta apresiasinya atas konsistensi masyarakat lokal dalam merawat tradisi luhur yang telah mengakar kuat.
Menurut Nevi, peringatan Maulid Nabi bukan sekadar agenda tahunan rutin, melainkan momentum penting untuk merefleksikan nilai-nilai kebaikan dan mempererat persaudaraan.
“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah momentum untuk memperkuat kecintaan kita kepada Rasulullah, meneladani akhlak mulia beliau, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat,” ujar Nevi.
Simbol Penghormatan Ulama dan Gotong Royong
Tak hanya peringatan syiar Islam, hadirnya tradisi Manjamu Labai memberikan warna spiritual dan sosial tersendiri. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan mendalam masyarakat terhadap para ulama dan tokoh agama yang berperan penting menjaga benteng moral umat.
Nevi menilai bahwa dalam tradisi tersebut tercermin semangat gotong royong dan silaturahmi yang tinggi antarwarga. Secara khusus, ia memberikan penghargaan kepada Labai Ali Azar, para tokoh agama, panitia penyelenggara, serta seluruh lapisan masyarakat yang bahu-membahu menyukseskan acara tersebut.
“Tradisi keagamaan seperti Manjamu Labai harus terus kita jaga dan wariskan kepada generasi muda. Di dalamnya terkandung nilai penghormatan kepada ulama, kepedulian sosial, dan semangat persaudaraan yang menjadi kekuatan utama masyarakat Minangkabau,” ungkapnya tegas.
Selaras dengan Falsafah Minangkabau
Lebih jauh, Nevi menekankan bahwa pelestarian nilai keagamaan dan adat seperti ini sangat sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Minangkabau, yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, yang menempatkan syariat Islam sebagai fondasi utama adat dan kehidupan sehari-hari.
Ia berharap kegiatan peringatan Maulid dan tradisi lokal ini dapat menjadi sarana edukasi karakter bagi generasi penerus, memupuk empati sosial, serta menciptakan kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan religius.
“Semoga kegiatan ini membawa keberkahan bagi kita semua, memperkuat persatuan umat, dan semakin menumbuhkan semangat untuk meneladani Rasulullah SAW dalam setiap langkah kehidupan,” tutup Nevi.
