Sajikan Senyum dan Harapan, Lisda Hendrajoni Traktir Ratusan Warga dan Anak Yatim Nonton Premier Film Anak-Anak Bambu


Suasana nobar warga Padang yang dittantik Anggota DPR RI, Lisda Hendrajoni. Dok
 Kitapunya.id 

PADANG, KITAPUNYA.ID -Kebahagiaan dan rasa haru menyelimuti Studio XXI Transmart Padang pada pemutaran perdana film drama keluarga terbaru, Anak-Anak Bambu.

Dalam upaya menghadirkan ruang hiburan yang nyaman sekaligus menguatkan nilai kepedulian sosial, Anggota DPR RI Fraksi NasDem, Dr. H. Lisda

Hendrajoni, S.E., MM.Tr., menggelar aksi sosial dengan menraktir warga Kota Padang serta puluhan anak yatim untuk nonton bareng (nobar), Kamis (23/7).

Kehadiran anak-anak yatim sebagai tamu khusus memberikan warna tersendiri dalam acara premiere ini. Suasana bioskop yang biasanya dipenuhi keriuhan penikmat film, seketika berubah menjadi lebih hangat, akrab, dan sarat emosi.

Sebuah Rumah, 50 Harapan, dan Arti Hakiki "Keluarga"

Film Anak-Anak Bambu karya sutradara Dyan Sunu Prastowo ini merupakan adaptasi dari kisah nyata inspiratif panti asuhan "Rumah Bambu". Berdurasi 98 menit, film bergenre drama, keluarga, dan musik ini menceritakan kehidupan 50 anak yatim yang menggantungkan canda, tawa, serta penderitaan mereka di bawah atap bambu yang sederhana.

Konflik menguras air mata bermula ketika panti asuhan tersebut terancam dijual untuk menyelesaikan masalah keluarga. Sosok Netta (diperankan oleh Ayushita), yang awalnya menganggap penjualan rumah adalah solusi paling rasional, mulai goyah saat mengenal dekat anak-anak panti satu per satu.

Lewat karakter Gebang (diperankan dengan ciamik oleh aktor cilik Muhammad Adhiyat), Netta belajar sebuah ajaran hidup yang mendalam: bahwa keluarga bukanlah sekadar ikatan darah, melainkan tentang siapa yang memilih untuk tetap tinggal, menjaga, dan saling menyayangi.

Pesan Moral yang Menyentuh Hati

Selain menyuguhkan visual dan aransemen musik yang menggugah, film berklasifikasi Semua Umur (SU) ini menyimpan pesan moral yang sangat relevan dengan dinamika kehidupan modern:

Rumah Sejati Adalah Cinta: Mengingatkan kembali bahwa kemewahan fisik tak menjamin kebahagiaan. Rumah terbaik adalah tempat di mana kita merasa dicintai dan dilindungi.

Resiliensi di Tengah Keterbatasan: Anak-anak panti mengajarkan cara untuk tetap tertawa dan bermimpi besar meski pernah mengalami kehilangan yang mendalam.

Cinta yang Menyembuhkan: Interaksi yang tulus mampu menyembuhkan luka batin, seperti halnya Netta yang justru menemukan jati diri dan "keluarga" baru di tengah kesederhanaan.

Komitmen untuk Kebahagiaan Masyarakat

Aksi memboyong anak-anak yatim dan warga menyaksikan film ini merupakan bentuk kepedulian Dr. Lisda Hendrajoni dalam membumikan nilai-nilai kebaikan dan kesederhanaan di tengah masyarakat.

"Kami ingin masyarakat bahagia dan memiliki ruang hiburan yang tak hanya menghibur, tetapi juga sarat akan pesan moral. Film 'Anak-Anak Bambu' ngajak kita melihat ulang arti keluarga dan kepedulian sesama di era yang makin individualis ini," ungkap legislator asal Sumatera Barat tersebut.

Film yang juga dibintangi oleh Irgi Fahrezi dan Abah Jatnika ini kini telah resmi tayang di bioskop-bioskop tanah air. Sebuah tontonan wajib bagi keluarga yang siap mengocok emosi, membagikan tawa, sekaligus meneteskan air mata kehangatan.


0 Komentar

silakan komentar yang berguna