Sempat Bangkrut, Kini Jasril Bangkit Bersama JKN KIS
Padang, Singgalang
Lima tahun sudah berlalu pasca menjalani transplantasi ginjal, Jasril Rostian, 54 tahun kini
kembali produktif menjalani hari-hari sebagai kepala koki di sebuah kapal batu bara. Jauh sebelum
sakit, dia dengan tubuh segar bugar melakoni profesi yang sudah belasan tahun digeluti.
Terpuruk dan tak berdaya pernah dijalaninya tatkala materi yang didapat sebagai kepala koki
sebuah kapal habis terkuras ketika dia gagal ginjal. Cuci darah dua kali seminggu selama satu
tahun lebih, ditambah obat-obatan dengan harga mahal menguras semua harta bendanya. Keluarganya
bangkut! Rumah yang menjadi tempat berteduh terjual, setelah benda-benda berharga lain dijual
untuk berobat.
Suatu waktu saat berobat dengan status umum, seorang petugas kesehatan di RS Cikini bertanya
tentang status Jasril. Petugas itu pun menyarankan Jasril untuk mendaftar sebagai peserta JKN-
KIS, sebab jika memakai biaya pribadi seorang pasien gagal ginjal tak akan mampu membayar
karena mahalnya biaya pengobatan. Sedangkan peserta JKN KIS yang mendaftar dengan iuran
terendah ketika itu Rp25.500 per bulan, semua pengobatan pasien akan ditanggung.
"Awalnya saya kurang percaya dengan apa yang disampaikan petugas kesehatan itu. Masa' hanya
dengan membayar iuran sesuai kelas yang diinginkan semua biaya pengobatan pasien ditanggung.
Karena belum percaya, saya pun searching di google tentang apa itu program JKN KIS," tuturnya
ibu tiga anak itu.
Setelah tahu apa manfaat JKN KIS, Dwi Diawati tak lagi berpikir panjang. Dia daftarkan suami
dan keluarganya sebagai peserta JKN KIS dan memilih kelas 1 dengan iuran Rp80 ribuan per bulan.
"Setelah terdaftar sebagai peserta JKN KIS, beban saya terasa begitu ringan. Saya tak perlu
pusing kemana mencari uang untuk cuci darah dua kali seminggu. Tapi karena bapak sudah tak ada
gaji, kami pun memilih untuk pulang ke rumah orangtua saya di Padang. Anak-anak saya titipkan
sama kakak di Payakumbuh, karena saya ingin fokus melayani pengobatan suami," terang Dwi.
Tak Dibedakan
Di Padang, suami Dwi, berobat di RSUP M. Djamil Padang Sumatera Barat. Di sana suaminya
dilayani dr. Harnavi Harun, seorang dokter spesialis ginjal. M. Djamil ketika itu sedang
melakukan program transplantasi ginjal bersama timnya. Dwi Dianawati dan Jasril merupakan
pasien pertama untuk transplantasi ginjal tersebut.
Tak ada ragu, menjalani transplantasi ginjal yang akan mereka hadapi bisa gagal, karena
pelayanan yang didapat selama menjadi peserta JKN-KIS tak ada bedanya dibanding ketika sang
suami terdaftar sebagai pasien umum.
"Tak ada beda pelayanan ketika suami saya tercatat sebagai peserta JKN-KIS dibanding saat
berstatus pasien umum dulu. Yang membedakan ya biaya itu tadi. Kalau umum langsung uang tunai.
Jutaan uang tunai melayang tiap hari. Kalau jadi peserta JKN-KIS, kita cukup disiplin bayar
iuran per bulan sesuai kelas yang diinginkan. Jumlah iuran yang kami keluarkan sangat kecil
dibanding biaya yang harus dikeluarkan ketika sebagai pasien umum dulu. JKN-KIS benar-benar
membantu saya dan keluarga," kata Dwi.
Sementara, untuk transplantasi ginjal, Dwi Dianawati sendiri adalah penyumbang ginjal untuk
suaminya. Sebab berdasarkan prediksi medis, tingkat kecocokan ginjal setiap pasangan atau orang
terdekat dengan penerima transplantasi ginjal sangat tinggi.
Sampailah waktunya, pasangan suami istri itu menjalani transplantasi ginjal. Tepatnya pada 20
April 2015 Dwi Dianawati benar-benar siap melakukan donor ginjal untuk suami tercintanya.
"Sebelum menjalani transplantasi ginjal saya bertanya pada dr. Harnavi. Bagaimana dengan
biaya-biaya operasinya. Baik saya dan suami. Dr. Harnavi mengatakan semua ditanggung BPJS
Kesehatan, karena saya peserta JKN-KIS. Penjelasan dr. Harnavi membuat saya benar-benar siap.
Dan tak sabar suami saya bisa pulih kembali, dengan ginjal yang diambil dari diri saya," cerita
Dwi Dianawati panjang lebar.
Andai kata biaya transplantasi ginjal yang mereka jalani tak ditanggung BPJS Kesehatan, ibu
tiga anak itu mengaku tak akan sanggup membayarnya dengan uang tunai. Sebab setelah ditelusuri
oleh Dwi Dianawati, dana transplantasi ginjal, baik untuk penerima atau pun pemberi donor
berkisar lebih dari setengah miliar rupiah.
"Dari mana punya uang sebanyak itu, sebab keluarga kami ketika itu benar-benar tak punya uang.
Saya menumpang hidup dengan orangtua dan dibantu kakak-kakak saya," ujarnya.
Transpalantasi ginjal tersebut sukses terlaksana, Kondisi itu kembali memberi harapan pada
Jasril, istri, anak dan keluarga besarnya. Saat menjalani status sebagai pasien JKN-KIS, jelas
Dwi Dianawati, tak ada pembedaan yang dirasakannya dibanding dengan status pasien umum. Dari
sana keluarga Jasril mengaku sangat beruntung menjadi peserta JKN-KIS.
Setelah menjalani transplantasi ginjal Dwi Dianawati dan suaminya seolah kembali pada kehidupan
baru. Kurang lebih 1 tahun mereka menjalani masa pemulihan. Selama itu mereka menghindari hal-
hal yang bisa berdampak negatif pada fisik setelah menjalani transplantasi ginjal. Pola hidup
mereka atur dengan ketat, agar sehat tanpa penyakit.
Perlahan namun pasti kondisi suami Dwi Dianawati kembali pulih. Dia pun memutuskan untuk
kembali bekerja sebagai koki kepala di kapal, agar ekonomi keluarga kembali pulih seperti
sebelumnya. Sebab selama sakit selama dua tahun, mereka bergantung pada keluarga besar.
Ketika tulisan ini ditulis Jasril sedang berada jauh di lautan lepas dengan kondisi signal tak
bagus. Dia menitipkan pesan melalui WhatsApp istrinya. Untuk mereka yang belum terdaftar
sebagai peserta JKN-KIS, segera mendaftar. Jangan sampai ketika sakit baru mendaftar. Sebab
sakit tak mengenal waktu dan tentunya dengan biaya yang mahal untuk penyakit berat seperti yang
dijalaninya.
"Kalau sudah ada kartu JKN-KIS kita sudah merasa aman. Ketika sakit cukup membawa kartu ke
fasilitas kesehatan sesuai dengan yang telah kita pilih. Iuran tiap bulan harus selalu rutin
kita bayar agar tak ada kendala ketika kita tiba-tiba membutuhkan pengobatan medis. Saya dan
keluarga sudah membuktikan dan merasakan manfaat program JKN-KIS," terang Jasril.
saat ini Jasril dan keluarganya tercatat sebagai peserta kelas 1. Tiap bulan dia membayar Rp150
ribu per kepala. Angka itu sangat kecil nominalnya jika dibanding dengan pelayanan yang telah
dia dapatkan selama mengalami gagal ginjal.
"Terima kasih JKN-KIS, tanpa program ini kami tidak akan sanggup membayar semua pengobatan yang saya jalani," tutupnya masih melalui pesan whatsApp.