PADANG, KITAPUNYA.ID — Sebanyak 740.357 unit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tercatat beroperasi di Sumatera Barat (Sumbar). Jumlah tersebut menunjukkan bahwa UMKM memiliki peran strategis, bukan hanya sebagai penggerak perekonomian, tetapi juga sebagai salah satu fondasi ketahanan ekonomi daerah.
Melihat besarnya potensi tersebut, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah mendorong pelaku UMKM serta sektor ekonomi kreatif untuk meningkatkan kapasitas usaha.
Upaya itu dilakukan melalui pemanfaatan teknologi digital, peningkatan mutu produk, hilirisasi, perluasan akses permodalan, hingga penguatan industri halal sehingga produk lokal mampu bersaing di pasar internasional.
“Lebih dari setengah penduduk Sumatera Barat bergerak di sektor UMKM. Ini merupakan kekuatan besar yang kita miliki,” ujar Mahyeldi saat menghadiri Sumatera Barat Creative Economy Festival (SCEF) 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia di Hotel Pangeran, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, ekonomi kreatif Sumbar memiliki modal besar karena ditopang beragam potensi daerah. Mulai dari kuliner, fesyen muslim, tenun, songket, kerajinan, seni dan budaya, hingga industri halal memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Mahyeldi berharap pengembangan sektor tersebut dapat meningkatkan pendapatan sekaligus daya beli masyarakat. Di sisi lain, ekonomi kreatif juga diharapkan mampu memperkuat struktur perekonomian daerah sehingga lebih siap menghadapi dinamika ekonomi global.
Ia menyebut daya tahan UMKM Sumbar sudah terlihat ketika daerah menghadapi berbagai situasi sulit, seperti gempa 2009, pandemi Covid-19, serta bencana banjir dan longsor. Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa keberlangsungan UMKM perlu terus dijaga melalui ekosistem usaha yang mendukung.
Salah satu hal penting yang menjadi perhatian adalah konektivitas dan distribusi. Mahyeldi mencontohkan dampak bencana yang menyebabkan akses Lembah Anai sempat terputus dan berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Menurutnya, jalur transportasi harus tetap diupayakan agar bisa dilalui, setidaknya oleh kendaraan roda dua, ketika terjadi kerusakan akibat bencana.
“Walaupun ada kerusakan akibat bencana, transportasi minimal roda dua harus tetap jalan sehingga ekonomi kita tetap bergerak,” tegasnya.
Dalam penguatan UMKM, Pemprov Sumbar juga menempatkan transformasi digital sebagai salah satu prioritas. Pelaku usaha didorong memanfaatkan platform digital untuk memperluas pemasaran sehingga tidak hanya bergantung pada pasar tradisional atau konvensional.
Selain digitalisasi, peningkatan kualitas dan tampilan kemasan produk, hilirisasi, kemudahan pembiayaan, serta penguatan sertifikasi halal menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam meningkatkan daya saing UMKM.
Mahyeldi menilai sektor ekonomi kreatif dan industri halal memiliki prospek besar di Sumbar karena sejalan dengan nilai budaya masyarakat yang berpegang pada prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
“Kita memiliki kekayaan budaya, kreativitas dan nilai-nilai lokal yang sangat kuat. Tinggal bagaimana semua itu kita olah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman yang mengikuti kegiatan secara virtual menyampaikan bahwa Sumbar memiliki berbagai keunggulan untuk mengembangkan ekonomi kreatif.
Menurut Aida, potensi tersebut antara lain berasal dari wastra, songket, sulaman, kerajinan, kuliner, serta beragam kearifan lokal yang telah dikenal luas.
“Sumatera Barat memiliki modal yang sangat kuat dan sudah terkenal di penjuru Nusantara,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan yang perlu dijawab selanjutnya adalah bagaimana kekayaan lokal tersebut dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Dengan demikian, sektor ekonomi kreatif dapat memperluas pasar, menciptakan lapangan pekerjaan, dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Bank Indonesia, lanjut Aida, terus memberikan dukungan kepada UMKM melalui peningkatan kapasitas, pengembangan model bisnis, sistem pembayaran, promosi, pembiayaan, serta pembukaan akses pasar.
Bahkan, sejumlah UMKM asal Sumbar telah berhasil memperluas pasar hingga ke luar negeri, termasuk Jepang, Prancis, dan Amerika Serikat.
“UMKM di Sumatera Barat sudah ada yang melakukan ekspor ke Jepang, Prancis, dan bahkan ke Amerika Serikat,” kata Aida.
Pelaksanaan SCEF 2026 menjadi salah satu wadah yang mempertemukan pelaku UMKM dengan pemerintah, sektor perbankan, dan berbagai pemangku kepentingan.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Sumbar agar semakin inovatif, adaptif, dan kompetitif, sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.(def*)
