PESSEL, KITAPUNYA.ID – Ardio Omar Asmara, bayi berusia 23 hari asal Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, tengah menjalani perawatan setelah didiagnosis menderita hidrosefalus sejak masih berada dalam kandungan.
Kondisi tersebut menyebabkan ukuran kepala Ardio membesar secara tidak normal dan membuatnya harus menjalani tindakan medis serta operasi.
Ardio adalah putra pasangan Beni Martin (40), seorang petani, dan Febri Putri Yana (37), ibu rumah tangga. Keluarga tersebut tinggal di Kampung Padang Lawas, Nagari Ampiang Parak, Kecamatan Sutera, Pesisir Selatan.
Beni menceritakan, kelainan pada janin mulai diketahui ketika kehamilan istrinya memasuki usia tujuh bulan. Saat itu, Febri yang cukup sering mengalami sakit perut dibawa untuk menjalani pemeriksaan USG.
Dari pemeriksaan tersebut, dokter menemukan adanya pembesaran pada ukuran kepala janin dan menyarankan agar kondisi itu segera mendapat penanganan.
Setelah lahir, lingkar kepala Ardio mencapai sekitar 55 sentimeter. Berdasarkan pemeriksaan dokter, bayi tersebut kemudian dinyatakan mengalami hidrosefalus dan dirujuk ke RSUP M. Djamil Padang untuk menjalani operasi pada Selasa (18/8/2026).
Namun, dua hari setelah operasi, Ardio harus kembali mendapat penanganan medis. Bayi tersebut dirujuk ke RS Unand setelah keluarganya mendapati urine Ardio berwarna hijau.
Selama berada di RS Unand, Ardio menjalani perawatan selama tiga hari. Setelah itu, ia kembali dirujuk ke RSUP M. Djamil Padang dan menjalani perawatan selama empat hari.
Setelah kondisinya dinilai membaik, Ardio akhirnya diperbolehkan pulang. Untuk sementara, ia tinggal di rumah neneknya yang berada di Sariak Lawang, Nagari Rawang Gunung Malelo, Kecamatan Sutera. Beni berencana membawa Ardio kembali ke rumah mereka di Padang Lawas.
Beni mengaku kondisi kesehatan anaknya turut memberikan tekanan emosional bagi istrinya. Febri disebut sering menangis saat melihat keadaan Ardio.
Meski demikian, Beni menyebut kondisi Ardio mulai menunjukkan perkembangan positif setelah menjalani operasi. Ukuran kepala bayinya berangsur berkurang sekitar tiga sentimeter.
Kendati demikian, Ardio masih harus menjalani operasi lanjutan yang dijadwalkan pada 10 September 2026.
Di tengah perjuangan merawat buah hatinya, keluarga Beni juga menghadapi kendala biaya. Selama menjalani perawatan di RS Unand, keluarga harus menanggung biaya sekitar Rp27 juta. Sementara biaya perawatan Ardio di RSUP M. Djamil ditanggung melalui BPJS Kesehatan sehingga keluarga tidak perlu membayarnya.
Beni kini berharap adanya bantuan dari masyarakat maupun para dermawan untuk meringankan biaya perawatan Ardio di RS Unand yang mencapai Rp27 juta.
Bagi masyarakat yang ingin memberikan bantuan, donasi dapat disalurkan melalui rekening BRI nomor 548401021845533 atas nama Fitria Ningsih, yang merupakan bibi Ardio.
Informasi lebih lanjut mengenai kondisi Ardio juga dapat diperoleh dengan menghubungi Beni melalui nomor 085182769579.(def*)
