PADANG, KITAPUNYA.ID – Persoalan sampah yang mencapai sekitar 669 ton setiap hari serta pencemaran Sungai Batang Arau menjadi perhatian serius dalam momentum Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357.
Untuk mencari solusi atas persoalan tersebut, Pemerintah Kota (Pemko) Padang memperkuat kerja sama dengan mitra internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Pemerintah Jerman.
Komitmen tersebut ditandai melalui pelaksanaan International Symposium Ekosistem Kota Tua Padang di Convention Hall Universitas Bung Hatta (UBH), Kamis (6/8/2026).
Wali Kota Padang Fadly Amran mengatakan, persoalan pengelolaan sampah dan pemulihan Sungai Batang Arau merupakan tantangan lingkungan yang harus ditangani secara bersamaan. Data Pemko Padang mencatat, timbulan sampah di kota tersebut mencapai 669 ton per hari.
Dari jumlah itu, sekitar 73 persen masih masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Sebanyak 26 persen telah ditangani melalui pendekatan 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle, sedangkan sekitar 1 persen lainnya masih berakhir di tempat pembuangan terbuka.
Menurut Fadly, perbaikan sistem persampahan tidak cukup hanya dengan membenahi TPA. Perubahan harus dimulai sejak sampah dihasilkan, terutama melalui pemilahan dari sumbernya.
Karena itu, Pemko Padang menjalankan sejumlah program, termasuk Padang Rancak Award yang bertujuan mendorong masyarakat mengubah perilaku dalam mengelola sampah. Pemerintah kota juga berupaya memperkuat Lembaga Pengelola Sampah (LPS), bank sampah, serta mendorong pemanfaatan teknologi seperti Refuse-Derived Fuel (RDF) dan waste-to-energy.
Di sisi lain, Fadly menjelaskan bahwa persoalan pencemaran di bagian hilir Sungai Batang Arau dipengaruhi aliran drainase serta limbah rumah tangga dan aktivitas komersial.
Ia menilai, pemulihan kondisi sungai akan memberikan dampak positif terhadap pengembangan kawasan Kota Tua Padang. Revitalisasi Sungai Batang Arau diyakini dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Upaya tersebut mendapat respons positif dari mitra internasional. Perwakilan Residen United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia, Sara Ferrer Olivella, menyampaikan kesiapan pihaknya mendukung pengembangan ekonomi sirkular di Padang, termasuk upaya melacak aliran sampah plastik dari daratan hingga ke laut.
Sara menilai Padang mempunyai peluang besar untuk berkembang sebagai kota wisata yang bersih dan tangguh dengan mengandalkan ekonomi sirkular, digitalisasi, inovasi, serta kerja sama antarkota.
Ia juga melihat revitalisasi Sungai Batang Arau dapat menjadi contoh penerapan solusi berbasis alam atau nature-based solutions. Langkah tersebut dinilai berpotensi memperbaiki kesehatan ekosistem, menekan dampak perubahan iklim, sekaligus menciptakan ruang publik yang lebih baik bagi masyarakat.
Dukungan terhadap agenda lingkungan Padang juga disampaikan Wali Kota Hildesheim, Jerman, Ingo Meyer. Hildesheim dan Padang diketahui telah menjalin hubungan sebagai kota kembar sejak 1988.
Ingo mengatakan, pihaknya ingin memperluas hubungan kedua kota melalui berbagai program strategis, khususnya dalam kerja sama yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan dan lingkungan.
Ia juga menyambut rencana kunjungan delegasi Pemko Padang ke Hildesheim pada 2027 mendatang sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan kedua kota.
Simposium tersebut mengangkat sejumlah isu terkait warisan sejarah, sungai, pasar, dan lingkungan. Kegiatan turut diikuti delegasi dari Malaysia dan Thailand, perwakilan pemerintah daerah dari berbagai wilayah di Indonesia, serta Rektor UBH Diana Kartika sebagai tuan rumah.(def*)
