PADANG, KITAPUNYA.ID— Dari sebuah foto, sebuah kota bisa menyimpan banyak cerita. Wajah masyarakat, perubahan ruang kota, budaya, hingga aktivitas sehari-hari dapat menjadi rekaman visual yang suatu saat menjadi bagian dari sejarah.
Semangat inilah yang dibawa dalam Padang Photo Festival (PPF) 2026 yang tahun ini memasuki tahun kedua.
PPF 2026 berlangsung sejak 6 Agustus hingga 13 September 2026 dan menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Padang ke-357. Berbagai agenda digelar, mulai dari Lomba Foto On The Spot, lokakarya “Liku-Liku Padang”, pameran foto cerita, hingga talkshow dan diskusi yang mengajak masyarakat melihat Kota Padang melalui perspektif fotografi.
Pelaksanaan PPF 2026 mendapat support melalui dana Pokok Pikiran (Pokir) Nanda Satria, S.IP, Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya membuka ruang kreatif bagi para fotografer sekaligus mendorong hadirnya dokumentasi visual tentang perjalanan Kota Padang.
Salah satu rangkaian PPF adalah Lomba Foto On The Spot yang diikuti ratusan karya. Dari karya-karya tersebut, terpilih lima pemenang, yakni Shabrina Mazaya sebagai Juara 1, Rahmat Yusri Juara 2, Maizal Chaniago Juara 3, Adji Nugraha Tri Giantsa Harapan 1, dan Deni Dahniel Harapan 2.
Sementara pada kategori pameran foto cerita, karya Diah Angginauli Sitompul dengan tema “Angkot: Simpul yang Bertahan” menjadi salah satu karya yang mengangkat cerita kuat tentang kehidupan Kota Padang. Angkot tidak hanya dilihat sebagai moda transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan, mobilitas, dan identitas masyarakat kota.
![]() |
| Foto bersama |
Rangkaian PPF kemudian diperkaya dengan talkshow bertema “Padang; Dulu, Kini dan Nanti” yang digelar di Taman Bermain, Kelurahan Batang Arau, Kecamatan Padang Selatan, Sabtu (12/9/2026).
Talkshow tersebut menghadirkan Nanda Satria, S.IP, Founder Padang Heritage Bayu Haryanto, ST., M.Si, Kepala UPTD Museum Adityawarman Dr. Tuti Alawiyah, S.E., S.Pd.I., MA, serta Uyung Hamdani sebagai moderator. Diskusi membahas perjalanan Kota Padang dari masa lalu, kondisi hari ini, hingga arah dan tantangan kota di masa mendatang.
Dalam rangkaian tersebut, fotografi ditempatkan bukan sekadar sebagai karya visual, tetapi sebagai cara untuk membaca dan merekam perjalanan sebuah kota. Apa yang tertangkap kamera hari ini dapat menjadi cerita yang membantu generasi berikutnya memahami bagaimana Padang pernah tumbuh dan berubah.
Melalui PPF tahun kedua, ruang kreatif bagi fotografer sekaligus ruang untuk mendokumentasikan Kota Padang terus diperkuat. Dari lomba, lokakarya, foto cerita hingga diskusi, seluruh rangkaian tersebut bermuara pada satu hal: merekam Padang hari ini agar tetap memiliki cerita untuk masa depan.

