![]() |
| Foto bersama Tim P2TP2A Limpapeh Rumah Nan Gadang Sumbar dengan masyarakat Sawahlunto dan Sijunjung Dok P2TP2A Limpapeh Rumah Nan Gadang |
Acara ini menjadi wadah penting bagi para tokoh masyarakat, adat, dan pemerintah untuk merumuskan strategi bersama dalam meningkatkan ketahanan keluarga.
Fokus Utama: Membangun Keluarga Kuat
Ny. Hj. Harneli Mahyeldi, Ketua P2TP2A Sumbar, menjelaskan bahwa keluarga adalah benteng utama. "Keluarga yang kuat dan harmonis menjadi benteng utama dalam mencegah terjadinya kekerasan," ujarnya. Ia memaparkan bahwa ketahanan keluarga bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga mencakup kekuatan spiritual, emosional, dan kemampuan menghadapi krisis.
Faktor-faktor seperti komunikasi yang efektif, kepemimpinan yang adil, dan keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial menjadi kunci untuk membangun fondasi keluarga yang kokoh.
"Ruang Bersama Merah Putih": Gerakan Kolaboratif
Agenda dialog juga mensosialisasikan program “Ruang Bersama Merah Putih” (RBI) yang digagas oleh Kemen PPPA. Hj. Herlin Sridiani M.Kes menjelaskan, RBI adalah sebuah institusi kolaboratif untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, aman, dan setara bagi perempuan dan anak.
Di Sawahlunto, gerakan ini disambut baik oleh pemerintah daerah. Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat, PP dan PA Kota Sawahlunto, Efriyanto, menekankan pentingnya sinergi untuk mewujudkan masyarakat yang aman dan inklusif. “Potensi dan strategi daerah harus kita perhatikan agar perempuan berdaya, anak terlindungi, dan Indonesia Maju,” katanya.
Kearifan Lokal Sebagai Solusi
Tokoh adat juga mengambil peran penting dalam dialog ini. Zulmafitra Dt., Ketua LKAAM Kabupaten Sijunjung, menyoroti bagaimana nilai-nilai kearifan lokal dapat menjadi senjata ampuh melawan kekerasan. Ia mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan tradisi seperti "pandai manggaleh" (pintar berdagang) dan "pandai basilek" (pintar bersilat, secara harfiah) sebagai cara untuk membangun kemandirian dan penyelesaian konflik.
Tindak Lanjut Nyata: Uji Coba Model Percontohan
Sebagai hasil konkret dari dialog ini, disepakati bahwa RBI akan diujicobakan sebagai pilot project di salah satu kelurahan/nagari di Kota Sawahlunto dan Kabupaten Sijunjung. Rencana tindak lanjut ini mencakup sosialisasi, pembentukan tim relawan SAPA (Sahabat Perempuan dan Anak), hingga pembagian tugas untuk memastikan program berjalan optimal.
Inisiatif ini membuktikan bahwa upaya perlindungan perempuan dan anak di Sumatera Barat tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat untuk membangun benteng keluarga yang tak tergoyahkan.

0 Komentar
silakan komentar yang berguna