Waspada Dehidrasi! BMKG Minangkabau Ungkap Penyebab Cuaca Panas Menyengat di Sumbar



Cuaca di Padang beberapa waktu belakang terasa begitu panas dan membuat gerah saat siang hari. BMKG mengimbau warga waspada terhadap perubahan cuaca pasca banjir bandang di Desember 2025. Ist 


PADANG, KITAPUNYA.ID– Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat di wilayah Sumatera Barat, khususnya Kota Padang, mengeluhkan suhu udara yang terasa lebih panas dan menyengat dari biasanya. Fenomena ini memicu kekhawatiran    masyarakat akan adanya gelombang panas.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BMKG Stasiun Minangkabau, Decky Irmawan, memberikan penjelasan mendalam mengenai faktor meteorologis yang memicu kondisi ini.

Mengapa Suhu Terasa Lebih Panas?

Menurut BMKG, ada tiga faktor utama yang menyebabkan cuaca terasa lebih "gerah" di Sumatera Barat:

Gerak Semu Matahari: Saat ini, posisi matahari berada dekat dengan garis khatulistiwa. Hal ini menyebabkan intensitas radiasi matahari yang diterima permukaan bumi mencapai titik maksimal.

Minimnya Tutupan Awan: Langit yang cerah tanpa awan berfungsi seperti "jalan tol" bagi radiasi matahari. Tanpa penghalang awan, sinar matahari langsung mengenai kulit dan permukaan bumi.

Kelembaban Udara Tinggi: Sumatera Barat memiliki kelembaban yang cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan keringat sulit menguap dari tubuh, sehingga suhu yang dirasakan (heat index) terasa jauh lebih panas daripada angka yang tertera di termometer.

“Meskipun suhu udara yang terukur tidak ekstrem, kombinasi radiasi tinggi dan kelembaban membuat tubuh kita merasakan panas yang lebih hebat,” jelas Decky Irmawan.

Dampak pada Malam Hari

Decky juga menambahkan bahwa panas matahari yang intens terserap oleh air laut di sepanjang pesisir Sumatera Barat. Karena sifat air yang lambat melepaskan panas, energi tersebut baru dilepaskan kembali pada malam hari. Itulah sebabnya, suhu udara di malam hari pun tetap terasa hangat dan lembab.

Tips dan Imbauan BMKG 

BMKG Minangkabau meminta masyarakat untuk tetap tenang dan melakukan langkah-langkah antisipasi berikut:

Kurangi Aktivitas Luar Ruangan: Hindari paparan langsung matahari pada puncak siang hari.

Proteksi Diri: Gunakan tabir surya (sunblock), pakaian lengan panjang, topi, atau payung saat berada di luar.

Cegah Dehidrasi: Pastikan asupan cairan tubuh terpenuhi dengan minum air putih secara rutin.

Waspada Karhutla: Jangan membakar sampah atau membuka lahan dengan api. Kondisi angin saat ini dapat dengan cepat memperluas sebaran api ke kawasan hutan atau pemukiman.

Bukan Gelombang Panas

BMKG menegaskan bahwa fenomena ini adalah cuaca harian yang lazim terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia, dan bukan merupakan gelombang panas (heatwave) ekstrem yang terjadi di negara-negara dengan lintang menengah.

Masyarakat diharapkan tetap merujuk pada informasi resmi melalui aplikasi InfoBMKG atau kanal media sosial resmi BMKG Minangkabau untuk mendapatkan data cuaca terkini yang akurat.



0 Comments