KITAPUNYA.ID, PADANG PARIAMAN-Stasiun Kayu Tanam (KTN) di Kabupaten Padang Pariaman tidak sekadar berfungsi sebagai bangunan perkeretaapian Kelas II, tetapi juga menjadi
simpul hidup yang menyatukan sejarah, pendidikan, dan mobilitas masyarakat Sumatera Barat. Stasiun yang berdiri di kilometer 60+038 ini menyimpan rekam jejak panjang perkeretaapian sejak awal abad ke-20.
Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, menjelaskan bahwa keberadaan Stasiun Kayu Tanam tak lepas dari strategi Pemerintah Hindia Belanda yang saat itu membangun jaringan rel untuk menghubungkan kawasan tambang, pelabuhan, dan pusat ekonomi di pedalaman.
“Letaknya menjadikan Kayu Tanam sebagai titik penghubung utama, termasuk sebagai lokasi jalur kereta bergigi (rack railway) satu-satunya di Sumatera Barat yang menghubungkan Kayu Tanam dengan Padang Panjang,” kata Reza, Selasa (25/11/2025).
Cagar Budaya dan Pintu Masuk Ikonik
Arsitektur kolonial yang dipertahankan —mulai dari tiang besi tempa, jendela kayu besar, hingga langit-langit tinggi— mengukuhkan status Stasiun Kayu Tanam sebagai bangunan cagar budaya dengan nomor registrasi KB003149, sesuai SK Nomor 432-144-2019.
Nilai historis stasiun ini semakin diperkuat oleh letaknya yang strategis, berdekatan dengan objek wisata ikonik seperti Air Terjun Lembah Anai dan Jembatan Tinggi Kereta Api yang kini merupakan bagian dari Warisan Dunia UNESCO. Hal ini menjadikan Stasiun Kayu Tanam pintu masuk penting bagi wisatawan yang ingin menjelajahi destinasi sejarah dan alam di dataran tinggi Minangkabau.
Transformasi Menuju Mobilitas Modern
Meskipun nilai sejarahnya kental, Stasiun Kayu Tanam terus bertransformasi menuju layanan modern. Sejak 1 November 2016, KAI meresmikan layanan kereta lokal Lubuk Alung–Kayu Tanam, yang kemudian diperpanjang hingga Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada 22 Maret 2019.
Saat ini, Stasiun Kayu Tanam melayani enam frekuensi perjalanan KA Lembah Anai relasi Kayutanam–BIM. Layanan ini menjadi alternatif transportasi yang andal, efisien, dan ramah lingkungan bagi warga sekitar untuk mengakses pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, hingga bandara.
Harapan Menuju 'Smart Station'
Reza Shahab tidak menampik tantangan yang dihadapi, seperti integrasi transportasi lanjutan dan frekuensi perjalanan yang masih terbatas. Namun, ia melihat masa depan stasiun ini terbentang luas.
KAI berencana melakukan langkah strategis, yaitu penguatan digitalisasi layanan seperti informasi jadwal real-time dan peningkatan fasilitas inklusif untuk menjadikan KTN sebagai "smart station" di masa mendatang.
“Bagi masyarakat Kayu Tanam, stasiun ini bukan hanya bangunan bersejarah, melainkan bagian dari identitas mereka. Dari rel tua hingga perjalanan modern hari ini, Stasiun Kayu Tanam terus menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan mobilitas Sumatera Barat,” tutup Reza.
KAI Divre II Sumbar optimis bahwa dengan kolaborasi bersama pemerintah daerah, komunitas pecinta kereta api, dan masyarakat sekitar, Stasiun Kayu Tanam akan semakin memberikan manfaat luas dan menjadi bagian penting dari perjalanan transportasi berkelanjutan di Sumatera Barat.

0 Comments