![]() |
| Visualisasi Gunung Marapi Sumatera Barat dari kamera pengawas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Bukittinggi, Selasa (11/11/2025). (Dok. Pos PGA Bukittinggi) |
KITAPUNYA.ID, AGAM – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan hasil evaluasi terbaru aktivitas Gunung Marapi di Provinsi Sumatera Barat untuk periode 16–31 Oktober 2025. Berdasarkan analisis data visual, kegempaan, dan emisi gas, aktivitas Gunung Marapi dinilai masih fluktuatif, namun relatif menurun dibandingkan periode sebelumnya.
Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Badan Geologi, Priatin Hadi Wijaya, menjelaskan bahwa sejak penurunan status dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada 1 Desember 2024, aktivitas Gunung Marapi belum menunjukkan adanya letusan baru.
“Secara visual, aktivitas Marapi relatif tidak berbeda dibandingkan dua minggu sebelumnya. Tidak teramati letusan, namun hembusan asap putih dengan ketinggian mencapai 250 meter dari puncak masih terjadi,” ujar Priatin Hadi Wijaya dalam keterangan resmi, Selasa (11/11/2025).
Kondisi Visual dan Kegempaan
Selama periode pengamatan, cuaca di sekitar Gunung Marapi bervariasi dari cerah hingga hujan dengan suhu udara berkisar antara 14,4 hingga 23,4 derajat Celsius. Angin bertiup lemah hingga kencang ke berbagai arah.
Dari hasil pemantauan instrumental, tercatat 71 kali Gempa Hembusan, 85 kali Tremor Non-Harmonik, 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal, 24 kali Gempa Vulkanik Dalam, serta 102 kali Gempa Tektonik Lokal.
Aktivitas kegempaan ini menunjukkan adanya fluktuasi tekanan dan pasokan fluida di tubuh gunung, namun belum mengindikasikan peningkatan signifikan menuju erupsi besar.
“Peningkatan gempa vulkanik dalam dan tektonik lokal menunjukkan adanya akumulasi tekanan di bagian dalam tubuh gunung. Namun tekanan di dekat permukaan saat ini relatif kecil dan kondisi medium tubuh gunungapi masih stabil,” tambah Priatin.
Pemantauan satelit menunjukkan laju emisi gas SO₂ Gunung Marapi tergolong rendah, terakhir terukur pada 30 Oktober 2025 sebesar 10 ton per hari. Rendahnya nilai emisi ini bisa disebabkan oleh kondisi puncak yang tertutup awan atau volume gas yang kecil.
Meski aktivitas menurun, Badan Geologi tetap mengingatkan adanya potensi bahaya berupa lontaran material dalam radius 3 kilometer dari Kawah Verbeek, serta abu vulkanik yang dapat mengganggu saluran pernapasan dan penerbangan jika terjadi erupsi.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Warga di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak Marapi juga perlu waspada terhadap potensi lahar, terutama saat hujan,” jelas Priatin.
Badan Geologi memberikan enam rekomendasi utama, di antaranya masyarakat dan pendaki dilarang beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah.
Waspada potensi lahar di daerah aliran sungai saat musim hujan. Gunakan masker jika terjadi hujan abu. Hindari penyebaran informasi hoaks terkait aktivitas gunung.
Pemerintah daerah diminta terus berkoordinasi dengan PVMBG dan Pos Pengamatan Marapi di Bukittinggi.
Informasi resmi dapat diakses melalui website Badan Geologi, Magma Indonesia, atau akun media sosial resmi Badan Geologi.
Priatin menegaskan bahwa status Gunung Marapi tetap berada pada Level II (Waspada) hingga ada evaluasi lanjutan.
“Tingkat aktivitas Gunung Marapi akan terus dievaluasi secara berkala. Rekomendasi yang berlaku saat ini tetap digunakan sampai ada laporan terbaru,” tutupnya.

0 Comments