Sumatera Barat Perkuat Ketahanan Keluarga: P2TP2A Limpapeh Rumah Nan Gadang Gencarkan Program Hingga Mentawai

Suasana sosialisasi Kepulauan Mentawai. Ist

PADANG– Komitmen Provinsi Sumatera Barat dalam melindungi perempuan dan anak semakin nyata. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Limpapeh Rumah Nan Gadang Provinsi Sumatera Barat baru saja merampungkan serangkaian Dialog Interaktif Penguatan Keluarga di dua kabupaten penting: Kepulauan Mentawai (1-3 Juli 2025) dan Padang Pariaman (2-4 Juli 2025).

Tim P2TP2A, yang beranggotakan Dra. Hj. Daslinur, Mutmar Yenny Daimis S.Ag, Dra. Hj. Hallen A, M.Pd, Dra. Hj. Mardiah, M.Si, dan Erry Gusman, SH.MH., turun langsung ke lapangan untuk menyosialisasikan pentingnya peran keluarga sebagai garda terdepan dalam pencegahan kekerasan.

Ketahanan Keluarga: Pondasi Utama Melawan Kekerasan

Dalam sesi dialog, Ketua P2TP2A Limpapeh Rumah Nan Gadang Provinsi Sumatera Barat, Ny. Hj. Harneli Mahyeldi, menegaskan bahwa ketahanan keluarga adalah kunci utama. "Keluarga yang kuat dan harmonis menjadi benteng pertama dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ini adalah sistem perlindungan paling awal sebelum intervensi dari pihak luar diperlukan," jelasnya.

Beliau juga menguraikan faktor-faktor penting yang membentuk ketahanan keluarga, termasuk komunikasi yang efektif, kepemimpinan yang adil, nilai-nilai kasih sayang dan saling menghargai, kemandirian ekonomi, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan.

Merajut Masa Depan dengan "Ruang Bersama Indonesia (RBI) Merah Putih

Inovasi tak berhenti di situ. Kepala Dinas DP3AP2KB Provinsi Sumatera Barat, dr. Hj. Herlin Sridiani, M.Kes, memperkenalkan konsep Ruang Bersama Indonesia (RBI) Merah Putih. Program kolaboratif ini dirancang untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, aman, dan setara bagi perempuan dan anak-anak. Tujuannya ambisius: menurunkan angka kekerasan, menjaga kesejahteraan ibu dan anak, mengurangi stunting, hingga meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan dan kualitas hidup.

Di Mentawai, dialog diperkaya oleh Kepala Panti Sosial Asuhan Anak Kaum, Jefri Samuel Kayai, yang membahas penguatan ketahanan keluarga di daerah. Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Kab. Kepulauan Mentawai, Rosmaida Sagurung, SE. M.Si, memaparkan potensi daerah, termasuk 43 desa, dua di antaranya menjadi pilot project DRPPA, serta adanya relawan SAPA dan kelompok pemberdayaan perempuan yang aktif.

Tak kalah penting, di Padang Pariaman, Ketua Bundo Kanduang Kab. Padang Pariaman, Dra. Hj. Fatma Erni, menekankan pentingnya penerapan nilai-nilai kearifan lokal seperti Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) dan Sumbang Duo Baleh dalam membangun RBI Merah Putih. Kepala Dinas Sosial P3A Kab. Padang Pariaman, Dra. Sumarni, M.Pd, juga menguraikan potensi dan strategi daerah dalam mewujudkan RBI.

Komitmen Bersama untuk Aksi Nyata

Dialog interaktif ini juga menjadi forum bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Pertanyaan seputar peran masyarakat dalam mencegah kekerasan, penanganan isu seperti LGBT, hingga upaya mengatasi stunting melalui program gizi, menunjukkan kepedulian tinggi warga.

Menanggapi hal tersebut, P2TP2A Limpapeh Rumah Nan Gadang berkomitmen menindaklanjuti setiap masukan. Sebagai langkah konkret, telah disepakati Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk membentuk satu Ruang Bersama Indonesia (RBI) di setiap nagari di Kabupaten Kepulauan Mentawai dan Padang Pariaman. RTL ini mencakup serangkaian tahapan: sosialisasi, pembentukan tim RBI dan relawan SAPA (Sahabat Perempuan dan Anak), kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, hingga evaluasi berkelanjutan.

Langkah strategis ini menandai babak baru dalam upaya P2TP2A Limpapeh Rumah Nan Gadang untuk mewujudkan Sumatera Barat yang lebih aman dan ramah bagi perempuan dan anak-anak.

0 Comments