-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dampak dari Penyakit Mulut dan Kuku, Pasar Ternak Payakumbuh Ditutup

Monday, 16 May 2022 | 19:48 WIB Last Updated 2022-05-16T12:48:14Z



PAYAKUMBUH-Pemerintah Kota Payakumbuh terpaksa menutup pasar ternak kota itu untuk sementara waktu, hingga ada pemberitahuan selanjutnya. Hal itu disebabkan telah ditemukannya kasus positif Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi di Pasar Ternak Palangki, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat, serta untuk menghindari meluasnya kasus penyakit tersebut.


Walikota Payakumbuh Riza Falepi mengeluarkan Surat Pemberitahuan Walikota Payakumbuh Nomor 579/719/Diperta-Pyk-2022 tentang pemberitahuan penutupan sementara pasar ternak yang berada di Kelurahan Koto Baru, Kecamatan Payakumbuh Timur tersebut. Berdasarkan Surat Edaran Gubernur Sumatera Barat Nomor 559/EDIGSB 2022, Tanggal 12 Mei 2022 tentang Pengendalian dan Penanggulangan terhadap Ancaman Masuk dan Menyebarnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) ke dalam Wilayah Sumatera Barat.


"Betul, kita menutup sementara pasar tetnak untuk menghindari meluasnya kasus penyakit tersebut. Untuk sementara waktu pasar ternak Kota Payakumbuh terhitung mulai tanggal 15 Mei 2022 ditutup sampai dengan pemberitahuan lebih lanjut," ujar Kepala Dinas Pertanian Kota Payakumbuh Depi Sastra, didampingi Kabid Pertanian Sujarmen, kepada wartawan, Sabtu (14/5).


Menurutnya, terkait penutupan sementara pasar ternak Payakumbuh, pihaknya diperintahkan walikota untuk bekerjasama dengan bantuan Polres Payakumbuh dan Satpol PP, untuk membentuk Gugus tugas penanganan wabah PMK dengan membentuk Unit Respon Cepat (URC) dan posko pengendalian dan penangulangan PMK, karena indikasi penyakit ternak yang sudah menyebar.


"Untuk melaksanakan pencegahan terhadap sapi yang sudah ada saat ini sebagai stock untuk kita di Payakumbuh dan perlu sosialisasi ke lapangan serta menyemprotkan langsung ke lokasi peternakan sapi H. Endi Dt. Majo Lobiah di Kecamatan Latina. Kita bergerak cepat untuk mengatisipasi agar tidak terjadi penyebaran. Karena disini belum ada vaksin untuk ternak yang terkontaminasi oleh penyakit tersebut. Serta menugaskan dokter hewan untuk melakukan pengawasan terhadap ternak yang diperjualbelikan di pasar ternak," tambahnya.


Sementara itu, Walikota Payakumbuh Riza Falepi, saat ditemui di kediamannya, menyampaikan rasa khawatir terhadap penyebaran penyakit menular hewan ternak ini. Dia menghimbau warga Kota Payakunbuh, Luak Limopuluah dan Sumbar, agar tetap berhati-hati melakukan penjagaan terhadap hewan ternaknya.


"Jaga hewan ternak kita dari penyakit dan interaksinya dengan hewan lain. Penyakit ini hampir mirip dengan Covid-19, dimana virus menyebar melalui aerosol atau udara. Pastikan konsultasi juga dengan dinas terkait di daerah. Sehingga ada jalan keluar. Selamat bekerja selemat berjuang, semoga ternak kita selalu terjaga," ucapnya.


Sementara, sebagaimana dikutip KCM, dokter hewan di Pusat Penyelamatan Satwa Bali (BWRC) Dyah Ayu Risdasari Tiyar Noviarini juga menyebutkan gejala-gejala klinis lain, seperti: Deman tinggi, mulai dari 39 derajat sampai 41 derajat, hipersalivasi dan berbusa, sebagian muncul luka lepuh di lidah dan di mukosa rongga mulut pincang, luka pada kaki dan diakhiri lepasnya kuku pada beberapa ekor sapi. Tidak mau makan, gemetar atau sulit berdiri Bernapas dengan cepat, menular sangat cepat dan bisa menyerang 100 persen satu kawanan dalam satu kandang. BL




×
Berita Terbaru Update