-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Bukan Pesantren Ramadan, Perjalanan Dinas yang Bikin Covid-19 Melonjak

Friday, 23 April 2021 | 21:42 WIB Last Updated 2021-04-23T14:42:43Z

Wakil Ketua Komisis I DPRD Sumbar, Evi Yandri


PADANG-Wakil Ketua Komisis I DPRD Sumbar, Evi Yandri menilai tingginya angka Covid-19 di Sumbar karena banyaknya perjalanan dinas luar daerah. Selain itu, diperparah dengan perjalanan tersebut diduga menggunakan surat rapid test bodong.

"Janganlah kita mengkambinghitamkan pesantren Ramadan, sekolah tatap muka. Tingginya angka covid-19 di Sumbar adalah karena perjalanan ke luar daerah sangat tinggi,"sebutnya, Jumat (23/4).

Menurutnya, mereka yang terpapar di Sumbar karena dari orang yang sudah melakukan perjalanan. Parahnya, mereka tidak mau di rapid test, atau tes PCR yang kemudian mencari surat keterangan bodong, alias palsu.

"Surat keterangannya ada, tapi orangnya tidak ditest,"ujarnya.

Untuk itu, menurutnya jika ada desakan untuk mengevaluasi kegiatan pesantren Ramadan karena tingginya angka Covid-19 adalah salah. Apalagi untuk kemudian melarang sekolah tatap muka.

"Yang bandel itu adalah mereka yang melakukan perjalanan ke luar daerah, tidak patuh, pulang tidak tes. Kemudian dibawa ke rumah, dari rumah membawa ke tempat lainnya, akhirnya berkembang banyak,"ujarnya.

Bahkan, politis Partai Gerindra ini menegaskan, jika pesantren Ramadan dihentikan, dia mendesak kegiatan safari Ramadhan juga dihentikan. Karena pesantren Ramadan sangat bermanfaat bagi anak-anak.

Menurutnya, justru safari Ramadan yang paling berpotensi menyebabkan penyebaran covid-19. Karena mendatangkan banyak orang, tamu dari pejabat daerah. Sementara mereka juga melakukan perjalanan dari mana-mana.

Sementara, anak-anak pesantren Ramadan, pada umumnya hanya berasal dari daerah yang sama. Komplek yang sama. Sehingga akan mudah terdeteksi, kalau ada yang terpapar.

"Mereka kan hanya dari daerah tertentu saja, aktivitasnya hanya di lingkungan yang sama. Kalau safari Ramadan, ada kunjungan pejabat, pejabatnya entah dari mana, termasuk ke Jakarta. Ini yang paling membahayakan,"ulasnya.

Sumbar baru saja mengalami peningkatan tajam. Dua hari belakang jumlah mengkawatirkan. Rabu (21/4) sudah 34.916 Warga Sumbar terinfeksi covid-19. Terjadi penambahan 514 orang warga sumbar positif terinfeksi covid-19. Sembuh bertambah 106 orang, sehingga total sembuh 32.088 orang

Sehari sebelumnya, enam warga Sumbar meninggal karena virus mematikan tersebut. Mereka berasal dari lima daerah yakni Padang, Kabupaten Solok Pasbar, Solsel dan Dharmasraya.

Sudah 34.402 warga Sumbar terinfeksi covid-19. Terjadi penambahan 176 warga sumbar positif terinfeksi covid-19. Sembuh bertambah 148 orang, sehingga total sembuh 31.982 orang.

Dari 34.402 orang yang telah dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 di Sumatera Barat, dirawat di berbagai rumah sakit 395 orang (1,15%), isolasi mandiri 1157 orang (3,36%), isolasi Provinsi 0 orang (0%), isolasi Kab/ Kota 115 orang (0,33%). Meninggal eninggal dunia 753 orang (2,19%) dan sembuh 31.982 orang (92,97%).

Kemudian, Disebutkannya, hingga Rabu (21/4) sudah 34.916 Warga Sumbar terinfeksi covid-19. Terjadi penambahan 514 orang warga sumbar positif terinfeksi covid-19. Sembuh bertambah 106 orang, sehingga total sembuh 32.088 orang.  YS

×
Berita Terbaru Update