-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tak Punya Uang untuk Melunasi Biaya Pengobatan, Korban Begal di Padang Butuh Uluran Tangan Dermawan

Tuesday, 23 February 2021 | 11:36 WIB Last Updated 2021-02-25T03:53:46Z



RH, korban begal di Padang merintih menahan rasa sakit setelah menjalani dua kali operasi dari bekas luka sabetan samurai para begal. Dia butuh uluran tangan dermawan untuk biaya pengobatannya selama dirawat di rumah sakit. Biaya pengobatan lebih dari Rp51 juta. Ist

PADANG- Seorang pemuda jolong gadang jadi korban begal. Beruntung Tuhan memberi dia umur panjang. Hingga selamat dari maut. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Inilah realita hidup yang dijalani pasangan suami istri Arma (51) dan Eli  (47).


Anak mereka RH, (17) dibegal segerombolan orang di kawasan By Pass TaratakPaneh Padang, pada Minggu dini hari (7/2). Tuhan  menyelamatkannya setelah samurai tertancap di pinggang dan sejumlah tusukkan bersarang di tubuh tipisnya. Tiga jarinya putus dan pundak kirinya nyaris putus.


Hari itu juga anak ketiga delapan saudara itu langsung dilarikan masyarakat setempat ke RSUP M. Djamil Padang. Dia pun mendapat perawatan intensif, hingga kondisinya membaik. Tak sampai di situ ketika satu masalah selesai, muncul masalah lain. Biaya pengobatan dan perawatannya selama belasan hari di M. Djamil Padang mencapai puluhan juta rupiah, setelah menjalani dua kali operasi.


Senin, (22/2) dia sudah diperbolehkan pulang oleh pihak M. Djamil. Namun Arma, sebagai kepala rumah tangga tak punya biaya untuk membayar seluruh biaya yang tertera di kuitansi tagihan.


“Kami orang tak berpunya dengan apa akan dibayar hutang sebanyak itu. Suami saya hanya buruh harian, sedang anak saya sudah semakin pulih setelah dirawat di rumah sakit. Hari ini (kemarin-red) dia sudah dibolehkan pulang tapi kami tak punya uang untuk melunasi hutang di rumah sakit,” kata Eli Afrida, Senin (22/2).


Eli, termenung. Terbayang olehnya segerombol orang bersamurai menyerang anak bujangnya Minggu dini hari pada pukul 03.00 WIB. Saat itu Rehan dari rumahnya Simpang Tigo Rambutan hendak membeli nasi goreng ke Raja Minas By Pass. Sebab nasi habis di rumah mereka yang sedang menggelar pesta pernikahan.


Lalu RH bersama kawannya berboncengan menuju Raja Minas. Dipacunya sepeda motor dengan cukup kencang, sebab malam itu jalanan sepi. Di tengah perjalanan dari jauh terlihat orang ramai menghadang memegang samurai. Kawannya yang dibonceng sontak menghambur dari motor. Rehan tak bisa berhenti, karena sepeda motor yang dia bawa remnya bukan cakram, hingga dia sampai ke rombongan orang bersamurai itu.


Di sana dia langsung disambut samurai. Samurai tajam tertancap di pinggangnya. Dia kesakitan. Meski demikian RH bertahan. Disaat seperti itu gerombolan begal itu menyuruhnya turun dari motor. Mereka meminta RH melawan satu diantara mereka. Lawanya kalah. Kemudian RH berusaha menyelamatkan diri. Sayang dia masuk ke dalam lubang hingga gerombolan begal itu berhasil mendekatinya. Mereka menyerang dengan samurai. RH menangkis serangan itu hingga tiga jarinya putus. Dalam kondisi terjepit datang pertolongan dari pemuda sekitar By Pass yang dipanggil kawannya yang meloncat dari motor. Mereka melempari gerombolan begal itu dengan batu kemudia begal tersebut lari dan meninggalkan Rehan dengan kondisi bersimbah darah.


Pemuda By Pass melarikan RH yang terlihat pucat kehilangan darah ke RSUP M. Djamil Padang. Setelah menjalani SOP di M. Djamil, Minggu sore barulah dia dioperasi menyatukan lengannya yang nyaris putus karena samurai.


“Sekarang kondisi anak saya terus membaik tapi entah dari mana uang pengobatannya bisa kami dapatkan. Jumlahnya sudah lebih dari Rp51 juta. Sedangkan kami tidak punya apa-apa. Kemana kami harus mengadu agar hutang bisa dilunasi?” tanyanya.


Disebutkannya, RH tercatat sebagai peserta aktif BPJS Kesehatan. Namun kartu hebat dari pemerintah itu hanya melayani indikasi medis. Hingga statusnya tercacat sebagai pasien umum selama dirawat.


Eli berharap, ada dermawan yang mau membantu mereka hingga hutangnya bisa dilunasi. Namun dia juga risau akan kondisi pandemi Covid-19, sebab banyak masyarakat terimbas karena wabah virus menular itu. Kepada Tuhan saja dia mengadu, agar ada seorang hamba tergerak hatinya untuk membantu keluargnya yang dirundung duka. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.


Peristiwa yang dialami RH saat kejadian langsung dilaporkan ke Polsek Kuranji Padang. Sejak saat itu belum ada kabar tentang perkembangan kasusnya.


“Kata polisi ketika itu anak saya harus lapor ulang kalau kondisinya sudah sehat. Jadi kami harus menunggu anak saya sehat dulu,” katanya. YL

×
Berita Terbaru Update