-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Perempuan Pejuang Kemanusiaan itu Berpulang ke Rahmatullah

Monday, 26 October 2020 | 21:29 WIB Last Updated 2020-10-26T14:29:07Z

 Nurhayati Kahar, pejuang kemanusiaan

PARIAMAN
- Para aktivis bidang kemanusiaan dan emansipasi perempuan Indonesia kehilangan salah satu tokoh terbaiknya, Nurhayati Kahar, 60, berpulang ke pangkuan Sang Khaliq, Minggu pagi (25/10).


Bagi para aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Indonesia, nama perempuan asal kelahiran Naras, Pariaman, tidak asing lagi. Semasa hidupnya, ia pernah menjabat sebagai aktivis di bidang kemanusiaan dan emansipasi yang memperjuangkan emansipasi perempuan dan menegakkan anti kekerasan pada perempuan dan anak di Sumatera Barat melalui Lembaga Pelayanan Korban Tindak Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (LPKTPA) dan Limbubu yang dipimpinnya, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan lainnya.


Nurhayati juga dikenal sebagai salah satu perintis yang memperjuangkan Pariaman sebagai Kota Otonom, menyusul penerbitan UU No.12 tahun 2002 tentang Pembentukan Kota Pariaman.


Jenazah Nurhati Kahar yang akrab disapa Uni Yet ini dimakamkan pada Minggu petang di Kuburan Nasi, Balai Naras, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman. Uni Yet meninggal karena sakit. Setelah sempat semalam dirawat di RS Aisyiyah, Pariaman, sebelum ajal menjemputnya.


Menurut salah satu putera Uni Yet, Ridho Alsyukri, mengatakan ibunya yang sebelumnya berdomisili di Jakarta itu, sudah satu tahun ini sakit-sakitan, dan sudah sering bolak-balik dirawat di sejumlah rumah sakit di Jakarta, dan karena hidup menderita di ibukota negara, Uni Yet September lalu kembali pulang ke rumah ibunya di Naras, dan kembali mendapat rawatan di rumah sakit.


”Anehnya, mama setelah diperiksa kesehatannya oleh sejumlah dokter spesialis, termasuk dokter syaraf, tidak ditemukan penyakitnya. Beliau hanya merasa keletihan, sesak nafas,” ujar Ridho.


Plt. Walikota Pariaman Mardison Mahyuddin dan Ketua DPRD Pariaman Fitri Nora yang merupakan sahabat sejati Uni Yet menyatakan rasa duka yang mendalam atas kepergian perempuan yang semasa hidupnya dikenal sangat berani dan pantang menyerah dalam menyelamatkan kaum perempuan dari kasus human trafficking dan mengadvokasi anak-anak dan perempuan dari kekerasan rumah tangga dan pelecehan seksual.


“Kami sangat kehilangan sosok Uni Yet. Jasanya sangat besar untuk Sumatera Barat, dia pejuang emansipasi dan kemanusiaan, serta salah satu perintis yang memperjuangkan Pariaman sebagai Kota Otonom,” kata Mardison Mahyuddin, saat melepas jenazah Uni Yet di rumah duka.


Hal senada juga diungkapkan Fitri Nora.”Kami bangga pernah punya sosok pejuang seperti beliau, bagi saya dia tak hanya sebagai sahabat sejati, juga seperti kakak kandung. Kiprahnya melalui beberapa LSM sangat menginspirasi. Semoga almarhumah husnul khotimah, aamiin,” katanya.


Tidak sedikit sahabat Uni Yet, baik di dalam negeri dan luar negeri yang kehilangan dirinya. Salah satu sahabat Uni Yet, Junichi Hibino, asal Jepang, yang juga Ketua Umum Federasi Penyiaran Radio Komunitas Dunia Asia Pasifik (Amarc Asia-Pacific) menyatakan kesedihannya atas kepergian Uni Yet yang pernah aktif di Ikatan Radio Komunitas Indonesia (JRKI).


“Ketika saya terpilih sebagai direktur dan naik ke podium, dia datang dan memberkati saya terlebih dahulu. Saya kehilangan sahabat yang berharga. Saya tak bisa pergi ke Indonesia karena wabah corona,” ujarnya.


Banyak kenangan tentang Uni Yet sebagai aktivis, banyak perempuan dan anak-anak yang diadvokasinya dan memenangkan perkara hukum. Bahkan dirinya beberapa kali mendapat kekerasan fisik dari oknum penguasa dan sejumlah orang yang terusik dengan kiprahnya. Ia juga pernah dipenjara karena kasus narkoba yang dituduhkan kepadanya pada tahun 2012 namun dibebaskan Pengadilan Tinggi Padang karena tidak terbukti bersalah. SL

×
Berita Terbaru Update