-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Duduk Tuo Kegiatan yang Pernah Disalahkan, Kini Menjadi Tradisi di Abai Siat

Friday, 25 September 2020 | 17:39 WIB Last Updated 2020-09-25T10:39:18Z
Begini suasana tradisi duduk tuo di Nagari Abai Siat. Gulana

ABAI SIAT- Ketika gelap mulai datang, para pemuda akan menyerbu hidangan yang tersedia di pelataran atau di halaman tuan rumah. Begitulah tradisi duduk tuo yang ada di Nagari Abai Siat.

Berbagai macam hidangan akan menjadi santap malam para pemuda yang hadir. Mulai dari nasi goreng, pecel ayam dan nasi padang. Minuman seperti kopi, kopi susu dan teh hangat juga tersedia di dalam acara ini.

Duduk tuo adalah tradisi di Nagari Abai Siat yang hingga hari masih dilestarikan oleh pembimbing adat di Nagari Abai Siat. Hal ini bermaksud untuk mendapatkan sumbangan dari pemuda, agar bisa meringankan beban tuan rumah dalam membiayai pesta perkawinan.

Duduk tuo adalah bahasa minang, yang berarti duduk tua. Artinya menuakan kesepakatan dalam ninik mamak, apabila sudah disepakati tidak bisa diubah lagi. Hal itu berlaku, apabila melanggar akan dikenakan sanksi oleh ninik mamak setempat.

Selain pemuda, duduk tuo juga mengundang para tokoh masyarakat dan semua unsur, dikecualikan untuk anak yang masih dalam bangku pendidikan. Ibu-ibu juga dipanggil dalam acara ini dengan tujuan yang sama. Meringankan beban si pemilik pesta.

"Ini ibaratkan silaturahmi, tradisi ini bisa menjalin keharmonisan hidup di dalam nagari," terang Umel ninik mamak Abai Siat.

Duduk tuo juga ada di daerah yang berdekatan dengan Abai Siat, penyelenggaraan tetap sama, tapi berbeda dari segi hidangan yang jamukan dan cara memberi bantuan berupa uang. Di Nagari Abai Siat pemberian bantuan cukup dilempar saja ke dalam kotak yang telah disediakan oleh tuan rumah, sedangkan ada di daerah tetangga Abai Siat, cara pemberiannya langsung kepada panitia dan ditulis nama pemberi beserta jumlah yang diberi oleh tamunya.

Duduk tuo sudah menjadi tradisi di Abai Siat dan daerah yang berdekatan. Namun, duduk tuo bukanlah hal yang diwajibkan, melaksanakan pesta tanpa duduk tuo tidak menjadi masalah oleh ninik mamak, namun alangkah baiknya jika duduk duo. Karena akan ada beberapa bantuan dari tamu yang hadir.

Bagi pasangan yang nikah siri, tidak dibolehkan melaksanakan duduk tuo, bahkan berpesta pun dilarang oleh pelaku adat di Nagari Abai Siat. Hal itu disepakati oleh Datuk delapan yang berdiri di Abai Siat. Karena nikah sirih bukanlah menikah resmi secara hukum, oleh karena dilarang untuk duduk tuo dan berpesta sebagai sanksi untuk mereka yang tidak menghargai keberadaan mamak.

"Menikah adalah ibadah, bukanlah hal yang bisa dilarang. Ninik mamak adalah orang membimbing keponakan, malu jika itu terjadi di dalam sebuah kelompok," ujar Umel.


Sejarah Duduk Tuo

Duduk tuo sudah menjadi tradisi oleh Nagari Abai Siat sejak lama, namun duduk tuo bukan sesuatu yang wajib. Menurut sejarah yang beredar, duduk tuo awalnya dicetus oleh sebuah suku, awalnya mereka hanya mengundang kelompok mereka saja untuk melaksanakan duduk tuo, dengan niat makan bersama dan memberikan sedikit bagi keluarganya yang ingin melangsungkan pesta.

Setelah itu ada keluarga lain yang ikut meniru kegiatan itu, namun mereka mengundang anak nagari/pemuda agar mendapatkan bantuan lebih banyak.

Setelah itu kelompok yang meniru kegiatan ini disanksi oleh ninik mamak yang berkuasa di Nagari Abai Siat, karena telah membuat sesuatu yang baru tanpa bersepakat dengan ninik mamak dan mereka dianggap salah.

Lalu keluarga ini sedikit kecewa dan sakit hati, melampiaskan kemarahannya mereka berpesta dengan hajatan yang sangat megah. Sekaligus menutup malu, karena dianggap sudah mengundang anak nagari/pemuda untuk mengharapkan bantuan, padahal mereka masih mampu berpesta tanpa bantuan.

Seiring berjalannya waktu, duduk tuo kemudian dibahas dalam rapat adat ninik mamak nagari. Setelah mendapatkan kesepakatan oleh semua pihak, acara duduk tuo akhirnya diperbolehkan diadakan sebelum pesta pernikahan dan diperbolehkan mengundang semua unsur yang dianggap patut.

Hingga saat ini duduk tuo masih berjalan di Abai Siat. Kegiatan itu sempat terhendi, selama wabah Covid-19 merebak di Indonesia. Sekarang sudah sedikit aman, duduk tuo kembali semarak di Abai Siat. GL

×
Berita Terbaru Update