Berita Pilihan

Efek Manfaat Wisata



Prof. Elfindri 

Pertengahan tahun 1980 an sebuah artikel ditulis oleh Takada Subrata, terbit di Jurnal Ekonomi Indonesia, EKI yang sekarang berubah nama journal of economics and finance of Indinesia. Beliau mengupas hasil kajian bagaimana dampak sebar pertumbuhan wisata terhadap pemerataan hasil hasil wisata. Hasil kajian beliau untuk wilayah Bali. 

Ketika Bali memang menjadi pusat tujuan wisata Nasional dan Internasional, dampaknya terhadap pemerataan pembangunan untuk wilayah ini memang tidak besar.

Hingga tahun 1980 an sendiri sebenarnya wisata yang masuk ke Bali sendiri memang bukan wisata selektive, namun massal "mass tourism". Hingga kini juga demikian siapa saja memang datang, dalam arti mulai wisatawan yang berduit, maupun yang back packer lokal dan manca negara.


Saya teringat dengan wisata seperti ke Mentawai, selain Bali. Hingga tahun 2020 Mentawai tidak banyak merasakan dampak dari banyaknya touris yang meminati untuk berselayang di permukaan arus laut di sana.


Bagaimana menjelaskan relative rendahnya efek rata pertumbuhan wisata seperti Bali dan Mentawai? 


Bisa dilihat dari komponen utama pengeluaran wisatawan dan untuk apa saja?


Selain biaya transport nasional dan lokal, pengeluaran untuk hotel untuk makanan dan minuman. Sementara pengeluaran untuk cendera mata relative bervariasi. Komponen komponen pengeluaran itu akan bertambah dengan semakin lama tinggal di daerah tujuan wisata.


Data Januari-April 2024 memperlihatkan rata rata kunjungan wisata di Indonesia selama 1.63 hari, tingkat hunian hotel masih pada kisaran 47 persen untuk hotel berbintang. Masa puncak jumlah wisatawan terbanyak ada pada Agustus dan Desember. Agustus merupakan liburan, musim dingin di Australia dan Panas di Eropa.


Selama 4 bulan, Januari-April 2024, jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia sebeaar 4.1 juta orang sementara wisatawan domestik sebeaar 2.9 juta orang.


Terus mengingat keperluan wisatawan akan banyak dirasakan manfaatnya pada komponen makanan dan minuman, serta tempat tinggal non berbintang. Sayang tingkat hunian hotel non bintang hanya pada angka 26 persen.


Karena wisatawan lebih terkoordinir, maka biasanya agen dan pengusaha mampu mengkoordinir semua keperluan wisatawan, mulai tiketing, penginapan dan makanan, sementara hal lainnya adalah bagaimana komponen peminatan yang perlu dibayar dengan pengeluaran oleh wisatawan.


Jika kita lihat dampak mass tourism tentu lebih banyak seharusnya berdampak pada pemerataan dibandingkan wisatawan selektif untuk aktifitas ekonomi di daerah tujuan wisata.


Di Mentawai misalnya dampak wisatawan mancanegara hampir tidak banyak dirasakan oleh aktifitas ekonomi tempatan. Karena wisatawan sudah menggunakan agen perjalanan perselancar, bahkan menginappun di atas kapal. Makanan dan minuman pun disediakan oleh pelaku usaha wisata.


Pilihan Berefek Ganda


Bagaimana di Sumatra Barat? RPJP 2025-2045 sudah mewadahi bahwa industri pariwisata dijadikan sebagai bagian penting mendukung ekonomi propinsi. Pilihan yang berefek besar terhadap pembangunan daerah adalah dengan mengajak masing-masing daerah untuk

Menjagokan apa kekhasan wisata yang mereka miliki, dan bagaimana peta ke depannya dalam kaitan dengan dukungan infrastruktur, teknologi dan isi dari wisata itu sendiri.


Bagi penulis mass local tourism diperkirakan akan jauh lebih berdampak pada aktifitas ekonomi lokal.


Fokus pada penyiapan daerah tujuan wisata yang terintegrasi satu dengan lainnya perlu disiapkan juga dengan pendidikan masyarakat setempat agar mereka concern pada kebersihan, keramahtamahan, dan mampu menawarkan apa yang menjadi daya tarik wisatawan itu sendiri.

Wisata di Jawa Timur, seperti di kota Batu misalnya, lahirnya desa wisata petik buah apel telah melahirkan banyanya yang membantu dan terlibat dalam siklus proses kunjungan. Mulai hotel, tranport lokal ke daerah tujuan wisata, rumah makan, dan jenis jenis jajanan yang disediakan pada titik keramaian yang laris dan diperlukan oleh wisatawan.

Masing masing daerah mesti berupaya agar daerahnya semakin dilirik untuk dikunjungi wisatawan.

 Hal hal yang praktis seperti kebersihan toilet, kebersihan rumah makan, tempat sholat, pinggiran jalan bebas sampah, serta keterlibatan dari warga setempat melayani, bukan memperkeruh suasana yang dirasakan oleh wisatawan. Tukang palak, parkir semaunya ini penghalang.

Jalan dari Padang ke daerah tujjan wisata jangan mirip sekarang, bisa menhhabiskan waktu di jalanan dan kehilangan waktu menikmati perjalanan.

Akhirnya jika penataan keterlibatan hulu hilir bisa disiapkan, maka dalam jangka panjang akan muncul spesialisasi wisata yang berujung pada lama menginap, serta variasi pengeluaran oleh wisatawan. Baru dia dirasakan efek sebar dari wisata itu secara positive.

Baca Juga
Berita Terbaru
  •  Efek Manfaat Wisata
  •  Efek Manfaat Wisata
  •  Efek Manfaat Wisata
  •  Efek Manfaat Wisata
  •  Efek Manfaat Wisata
  •  Efek Manfaat Wisata
Posting Komentar