PADANG, KITAPUNYA.ID– Disabilitas tidak menjadi penghalang untuk menempuh pendidikan tinggi dan meraih impian. Hal ini dibuktikan oleh empat peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Negeri Padang (UNP) pada Kamis (23/4/2026).
Keempat peserta tersebut merupakan penyandang disabilitas netra yang tetap berjuang memperebutkan kursi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Meski langkah mereka mungkin lebih perlahan dibanding peserta lain, semangat dan keyakinan yang mereka miliki tetap kuat.
Dalam pelaksanaan ujian, mereka ditempatkan di ruang khusus yang telah disiapkan agar memberikan kenyamanan serta mendukung konsentrasi. Selama 195 menit pengerjaan, mereka dibantu dengan perangkat seperti aplikasi pembaca layar, software khusus, serta headset sebagai sarana utama dalam mengerjakan soal.
Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah Rayhan Hidayat, asal Bukittinggi. Ia datang ke lokasi ujian diantar oleh kakak iparnya yang juga berprofesi sebagai pengemudi ojek daring. Kehadiran sang kakak menjadi bagian dari perjalanan panjang Rayhan hingga bisa sampai di tahap ini.
Rayhan tidak sejak awal menyandang disabilitas. Ia kehilangan penglihatan akibat glaukoma ketika duduk di kelas dua SMA. Kondisi tersebut membuatnya sempat terpuruk dan menarik diri dari lingkungan selama hampir satu tahun.
“Awalnya dia sempat jatuh semangat, bahkan tidak mau keluar kamar. Tapi kami terus memberi dukungan,” ujar kakak iparnya saat ditemui oleh tim Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis.
Seiring waktu, dukungan keluarga dan lingkungan sekitarnya perlahan membangkitkan semangat Rayhan. Ia mulai bangkit, menerima keadaan, dan kembali melanjutkan pendidikan dengan cara belajar yang berbeda. Hingga akhirnya, ia berani mengikuti UTBK, dengan memilih Program Studi Pendidikan Luar Biasa UNP sebagai pilihan pertamanya.
Di lokasi yang sama, peserta lainnya, Aldi Sulaiman, juga membagikan pengalamannya. Lulusan SMKN 7 Padang itu datang bersama ayahnya. Ia mengaku mendapat pendampingan dari panitia, bahkan telah dihubungi sebelumnya untuk mengikuti simulasi sebelum hari ujian.
Aldi yang sejak lahir mengalami keterbatasan penglihatan hanya mampu melihat bayangan cahaya. Namun kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk terus belajar. Ia menggunakan huruf Braille, mendengarkan materi, menghafal, dan berusaha memahami pelajaran dengan caranya sendiri.
“Saya ingin kuliah agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” ungkapnya singkat namun penuh keyakinan.
Ia juga mengikuti latihan sebelumnya untuk menyesuaikan diri dengan perangkat bantu, meski sempat menghadapi beberapa kendala teknis. Namun baginya, melanjutkan pendidikan tetap menjadi tujuan utama.
UNP sendiri menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang menyediakan layanan seleksi inklusif dan setara. Tahun ini, UNP menjadi satu-satunya kampus di Sumatera Barat yang memfasilitasi peserta UTBK disabilitas, dengan total tujuh peserta berkebutuhan khusus, terdiri dari empat tunanetra dan tiga tunarungu, yang mengikuti ujian dengan jadwal khusus sesuai kebutuhan masing-masing.
Langkah ini sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 4 tentang pendidikan berkualitas yang menjamin akses setara bagi semua kalangan.
Selain itu, juga mendukung SDG 10 mengenai pengurangan kesenjangan, dengan memberikan kesempatan yang sama bagi penyandang disabilitas untuk mengakses pendidikan tinggi dan meraih masa depan yang lebih baik.(def*)

0 Komentar
silakan komentar yang berguna