![]() |
| Anggota DPR RI Nevi Zuairina. Ist |
JAKARTA, KITAPUNYA.ID- Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Hj. Nevi Zuairina, menyoroti munculnya kekhawatiran masyarakat terkait ketahanan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional yang saat ini dilaporkan berada di kisaran 21 hingga 25 hari.
Nevi memperingatkan pemerintah bahwa tanpa komunikasi publik yang jernih, angka tersebut bisa memicu panic buying yang justru merugikan sistem distribusi nasional.
Legislator asal Sumatera Barat II ini menilai, informasi mengenai kapasitas cadangan operasional harus dijelaskan secara komprehensif agar tidak terjadi salah tafsir di tengah masyarakat.
Cegah Kelangkaan Buatan (Artificial Scarcity)
Nevi menjelaskan bahwa ketakutan masyarakat sering kali lebih besar daripada kondisi sebenarnya. Ia khawatir angka "tiga minggu" tersebut dianggap sebagai waktu berakhirnya pasokan BBM, padahal itu adalah angka kapasitas cadangan operasional di tangki penyimpanan.
"Ketika sebagian orang mulai menimbun karena takut langka, masyarakat lain akan ikut-ikutan. Inilah yang memicu antrean panjang dan menciptakan kelangkaan buatan atau artificial scarcity. Pemerintah harus hadir agar psikologi massa ini tetap tenang," ujar Nevi di Jakarta.
Menurutnya, faktor ketidakpastian informasi yang berpadu dengan tensi geopolitik global menjadi bahan bakar utama pemicu spekulasi di lapangan.
Bandingkan dengan Negara Lain: Urgensi Cadangan Strategis
Lebih jauh, Nevi memberikan catatan kritis terhadap ketahanan energi jangka panjang Indonesia. Ia membandingkan cadangan BBM nasional yang masih tertinggal jauh jika dikomparasikan dengan negara-negara besar lainnya.
Jepang: Memiliki cadangan hingga 254 hari.
Amerika Serikat: Mencapai 90–120 hari.
China & Uni Eropa: Rata-rata minimal 90 hari.
“Saat ini cadangan kita masih di kisaran 20-an hari. Ini harus menjadi alarm bagi kita untuk memperkuat cadangan energi strategis. Pembangunan tangki penyimpanan baru dan penguatan cadangan nasional adalah agenda wajib untuk ketahanan energi masa depan,” tegasnya.
Langkah Tegas: Komunikasi dan Pengawasan
Sebagai solusi jangka pendek, Politisi PKS ini mendorong pemerintah melakukan tiga langkah taktis:
Komunikasi Berbasis Data: Menjelaskan secara terbuka jadwal pasokan dan distribusi agar masyarakat tidak merasa terancam kelangkaan.
Kelancaran Distribusi: Memastikan alur dari kilang ke depo hingga ke SPBU tidak terhambat.
Pengawasan Ketat: Memperketat pemantauan terhadap potensi penimbunan dan penyalahgunaan BBM oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari situasi rentan.
"Jangan sampai spekulasi mengganggu hak masyarakat untuk mendapatkan energi dengan harga stabil," pungkas Nevi Zuairina.

0 Komentar
silakan komentar yang berguna