Tradisi Khas Piaman Laweh: Bersih Diri dan Hidupkan Silaturahmi Jelang Puasa

 

Tradisi “Marandang” hingga “Mandi Balimau” Warnai Piaman Laweh 


PADANG PARIAMAN, KITAPUNYA.ID– Menyambut bulan suci Ramadan, Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman mulai bersolek dengan berbagai tradisi khas yang tetap hidup hingga kini. Warga tidak hanya membersihkan rumah ibadah, tetapi juga menghidupkan kembali budaya turun-temurun yang menjadi simbol penyucian diri dan penguat tali silaturahmi di wilayah yang kerap disebut Piaman Laweh ini.

Beberapa tradisi yang tetap lestari di ‘Piaman Laweh’ menjelang Ramadan antara lain:

1. Marandang: Aroma Rendang di Setiap Rumah
Sehari sebelum puasa, pemukiman warga dipenuhi aroma gurih santan dan rempah. Tradisi Marandang, yakni memasak rendang secara serentak, telah menjadi kebiasaan yang tak tertulis bagi masyarakat setempat. Bagi warga lokal, rendang bukan sekadar hidangan, tetapi simbol kesiapan menyambut tamu dan bekal sahur pertama. “Kami menyiapkan rendang agar bisa dinikmati seluruh keluarga saat sahur pertama setiap tahunnya,” kata Hani Anjani, warga Kecamatan Ulakan Tapakis, Rabu (11/2).

2. Malam Nisfu Sya’ban dan Ziarah Kubur
Menjelang Ramadan, warga Piaman Laweh ramai-ramai mengunjungi makam keluarga dan ulama. Dengan membawa air bunga dan membacakan doa, tradisi Ziarah Kubur ini menjadi pengingat akan asal-usul dan leluhur. Di masjid dan surau, lantunan zikir pada malam Nisfu Sya’ban terdengar lebih khidmat dari biasanya.

3. Balimau: Ritual Penyucian Diri di Sungai
Puncak tradisi terjadi sehari sebelum puasa, saat warga berkumpul di sungai atau pemandian untuk melaksanakan Balimau. Air dicampur perasan jeruk nipis dan wewangian alami, melambangkan pembersihan diri dari dosa dan kesalahan sebelum menjalankan ibadah puasa. “Ritual ini simbolik untuk membersihkan diri secara lahir dan batin,” ujar Riko Harianto, tokoh masyarakat di Pariaman Selatan.

4. Makan Bajamba: Kebersamaan dalam Satu Talam
Di surau dan masjid tertentu, tradisi Makan Bajamba menutup rangkaian persiapan Ramadan. Warga duduk melingkar dalam satu talam, menikmati hidangan yang sama tanpa membedakan status sosial. Pejabat, tokoh adat, dan warga biasa duduk bersama, menegaskan rasa kebersamaan dan persaudaraan yang tinggi.(def*)

0 Comments