arrow_upward

Socrates

Monday, 5 September 2022 : 19:06


Oleh 

K Suheimi 


Socrates mati dalam nestapa. Dia harus meneguk racunnya sendiri sebagai sanksi hukuman oleh negara demokrasi yang dibangunnya sendiri. Dia kecewa. Bapak demokrasi itu menemui kematiannya justru di negara demokrasi yang dibidanginya kelahirannya.. 

Demokrasi telah memakan korban pertamanya  ialah socrates bapak dan pencetus ide demokrasi itu sendiri. Ternyata Socrates, sang bapak pencari kebenaran orang-orang barat, harus menenggak racun hukuman mati yang diputuskan oleh pengadilan dari pemerintahan yang berasaskan demokrasi.

Menarik dan tragis sekali, seperti tragisnya pencari demokrasi di zaman kini yang juga memakan korban harta benda yang tidak sedikit bahkan nyawa.

Padahal inti demokrasi adalah toleransi. Karena itu, sifat seorang demokrat adalah pasti menghormati dan menghargai orang atau kelompok lain.

Demokrasi itu mahal karena menelan banyak waktu. Ia memdiperlukan kesabaran untuk mendengarkan perbedaan, bahkan menghormati perbedaan sebagai sebuah keniscayaan.

Ada keraguan, apakah benarkah sistem demokrasi yang dianut?. Atau adakah yang salah, apakah yang salah dan siapakah yang salah?.Mungkin sistem demokrasi itu tak salah, tapi korban sudah berjatuhan.

Saya teringat kampung halaman saya Minangkabau. Di kampung yang saya cintai, semua keputusan diambil dengan azas musyawarah mufakat. Bulek aia jo pambuluah, bulek kato jo mufakat, lamak di awak katuju dek urang. Kabukik samo mandaki. Kalurah samo manurun. Tatilantang samo makan angin, tatungkuik samo makan tanah. Saciok bak ayam, sadanciang bak basi.

Tidak ada kerusakan apalagi kehancuran, tak memakan korban. Oh alangkah indahnya kehidupan yang demikian, tidak ada istilah voting.

Dalam demokrasi, tentu, orang mengejar hasil. Tetapi, hasil tidak boleh diraih dengan menghalalkan cara. Kita sadari bahwa Demokrasi memakan ongkos yang sangat tinggi. Ia menghabisi pundi-pundi rakyat. Ia hanya bagus dalam aturan, tetapi buruk dalam implementasi. Sebab, secara kultural, kita memang belajar demokrasi bukan dari praktik keseharian dalam kehidupan, melainkan lewat buku-buku.

Ironis jika demokrasi sebagai simbol ketinggian peradaban kita tegakkan dengan kekerasan. Tragis jika nasib bangsa ini ditentukan melalui cara-cara rendah dengan adu kekuatan dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Demokrasi betapa manisnya kata-kata itu dan cita-cita itu. Semua itu tentu saja lebih mudah diomongkan dari pada dilaksanakan. 

Kita sedang memeragakan bentuk lain kebodohan karena menyamakan kebebasan berpendapat dengan kebrutalan. Perkara yang nyata sekaligus memalukan. 

Socrates menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk menjadi pengekor dari pendapat/ keputusan komunal dan seringkali gagal untuk bertahan pada pendapat mereka sendiri. Menurut Socrates, hal ini mungkin terjadi karena manusia yang bersangkutan  tidak memiliki kepercayaan diri atas keputusannya yang telah didapat mereka sendiri. 

Menurut Socrates, hal ini mungkin terjadi karena manusia yang bersangkutan  tidak memiliki kepercayaan diri atas keputusannya yang telah diambilnya. Ini terjadi karena manusia cenderung malas untuk melakukan eksplorasi mendalam tentang keputusan yang diambilnya. 

Sebagaimana yang telah dikenal masyarakat kita sejak lama, proses pengambilan keputusan berdasarkan voting hanya dapat dilakukan ketika musyawarah mufakat 

Agaknya demokrasi Islam merupakan pilihan. Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman Sucinya dalam Al_Qur'an 

Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. An-nisa :58)

Dan Al-Hadist:

“Jika amanah disia-siakan, tunggulah saat kehancuran”. Sahabat bertanya: “Bagaimana menyia-nyiakan amanah itu?” Rasul menjawab: “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya” (HR. Bukhari). (*)