-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Pesantren Entrepreneur Payakumbuh Ini Sediakan Pendidikan Gratis Bagi Santrinya

Saturday, 14 May 2022 | 06:18 WIB Last Updated 2022-05-16T12:32:34Z

 PAYAKUMBUH-Panas begitu terik di Kota Payakumbuh, sejak beberapa waktu belakang. Di Pesantren Entrepreneur anak-anak bersiap ke dapur, guna membuat aneka takjil yang hendak dijual dengan cara berkeliling setiap Ramadhan tiba.


Ada yang menjual kolak, minuman segar dan aneka pabukoan. Semuanya diolah dan dibuat sendiri oleh para santri. Uang untuk membuat bahan juga dari santri itu sendiri. Semua yang dikerjakan santri adalah proses pembelajaran dan sebagai bekal nantinya, kelak ketika mereka tamat dari pondok pesantren.


Bunga Maharani santri kelas VIII, ba'da Zuhur sibuk mempersiapkan dagangannya dengan ragam bentuk. Mulai dari bola ubi ungu lumer, kroket tahu, telur mini dan sejumlah kue basah lain. Dalam beberapa jam dia berhasil membuat aneka kue tersebut.


Tepat setelah menunaikan shalat Ashar, dia bergegas membawa kue-kue itu keliling kampung tak jauh dari pesantren, tempat dia menimba ilmu.


Santri bersiap menjajakan jualannya yang dibuat sendiri. Ist[/caption]


"Kalau lagi beruntung semua dagangan saya laris semua. Namun ada kalanya jual beli hanya sedikit," ujarnya kepada topsatu.com belum lama ini.


Bunga, adalah seorang dhuafa. Ayah ibunya berpisah. Dan ia tinggal bersama sang ibu yang menderita penyakit kelejar tiroid yang sudah menjalar ke perut. Meski kondisi keluarganya demikan, Bunga tak pernah surut untuk menuntut ilmu.


Apalagi dia bersekolah di Pesantren Entrepreneur Payakumbuh, yang menggratiskan semua biaya pendidikan bagi santrinya.


Sekolah gratis inilah yang dicari Bunga bersama kaun dhuafa lainnya. Sebab untuk mendapatkan pendidikan di sekolah Islam sekarang membutuhkan biaya yang sangat mahal. Sebuah angka yang tak akan dapat dijangkau Bunga dan  kalangan ekonomi lemah lain.


"Semoga makin banyak pesantren yang menggratiskan biaya pendidikan bagi anak-anak tak mampu,"harap Bunga.


Lain lagi Adam Malik, yatim, 4 bersaudara itu menggeleuti perabotan dan perbengkelan selama menimba ilmu di Pesantren Entrepreneur Payakumbuh. Kelak ketika lulus dari pesantren itu, dia akan membuka usaha perabot dan bengkel di kampungnya, Pasaman.


"Setelah tamat saya mau buka usaha perabot dan bengkel," kata siswa kelas IX itu.


Santri belajar mandiri mengerjakan. Ist[/caption]


Menimba ilmu di Pesantren Entrepreneur Payakumbuh merupakan sebuah keberuntungan bagi Adam dan santri lainnya. Sebab mereka tak akan sanggup menimba ilmu tanpa pendidikan gratis tersebut.


Adam mengetahui Pesantren Enterpreneur Payakumbuh dari saudaranya, yang juga bersekolah di pesantren tersebut. Dia bergegas mempersiapkan segala persyaratan agar bisa masuk di pesantren yang dia impikan. Sampai akhirnya dia tercatat sebagai santri dan akan terus menimba ilmu hingga jenjang SMA.


Semua Demi Membantu Dhuafa


Tingginya biaya masuk sekolah islam dewasa ini, menjadi salah satu motivasi bagi H. Ihsan Fadila, ST,MM, pemilik, sekaligus pengelola Pesantren Entrepreneur Payakumbuh. Berbekal pengalaman mengelola program remaja masjid disebuah televisi swasta dia mendirikan Yayasan Raudhatul Jannah pada Juli 2019.


Dia kembali ke kampung halaman di Payakumbuh, mendirikan pondok pesantren yang didukung penuh istri dan keluarga besarnya.


Dalam pandangannya generasi Islam yang hidup di bawah garis kemiskinan, ilmu keagamaanya sangat kurang. Sebab sekolah Islam ternama saat ini rata-rata hanya untuk orang kaya. Karena tingginya biaya pendidikan di sana. Jika pun ada sekolah Islam negeri, pendidikannya ada yang bagus dan banyak yang kurang.


"Atas kondisi itu saya sangat prihatin. Kasihan generasi Islam. Masa depan mereka terkait keislaman, seperti akhlak jauh dari harapan," ujar Ihsan, mantan GM TVOne tersebut.


Harusnya kata Ihsan yang juga mantan Ketua Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia itu, harus ada kesamaan akses pendidikan bagi orang tak mampu dengan orang-orang yang berpunya mampu.


"Jangan orang berpunya saja dapat pendidikan Islam yang layak, tapi orang tak mampu mesti dapat pendidikan yang sama," ulasnya.


Santri berjualan menggunakan gerobak. Ist[/caption]


Kontrak Enam Tahun


Di Pesantren Entrepreneur Payakumbuh, santri yang menjalani pendidikan melakukan kontrak selama enam tahun. Artinya mereka masuk dari kelas 1 SMP dan tamat setelah menempuh pendidikan SMA. Saat ini terdapat 26 santri, terdiri dari 13 perempuan dan 13 laki-laki. Mereka berasal dari berbagai daerah di Sumbar. Seperti Payakumbuh, Limapuluh Kota, Pasaman, Pariaman, Padang dan daerah lain.


Para santri tinggal di asrama yang terletak di atas lahan seluas enam hektare. Di sana mereka tinggal, belajar ilmu agama dan ilmu menjadi seorang pengusaha.


"Pasentren kami menerapkan sistim paket atau pendidikan non formal dan punya ijazah paket sendiri. Kami memilih sistim paket tujuannya agar anak-anak lebih fokus pendidikannya dan ketika mereka tamat bisa terasa langsung manfaat dari ilmu yang mereka dapat, selama sekolah di sini," beber Ihsan lebih jauh.


Di Pesantren Entrepreneur Payakumbuh memfokuskan dua program bagi santrinya. Program keislaman secara umum. Seperti membaca kitab bahasa Arab,qiroh dan lainnya.


"Khusus program Entrepreneur, memang untuk mempersiapkan mentalitas santri menjadi seorang Entrepreneur. Sebab pembentukan karakter santri lebih utama. Misal mereka tidak malu tampildi depan umum. Menjual dagangan yang dibuat sendiri dan dipasarkan sendiri. Kami siapkan mental santri yang tahan dan kokoh," kata suamia dari Farida Jasri, S. Komp itu.



Santri belajar memanah. Ist[/caption]

Tak jauh dari pesantren terdapat sebuah sekolah. Anak-anak panti memasarkan jualan mereka di sana. Di lapangan, apakah mereka mendapat perlakukan kurang baik, dari sana santri belajar tahan banting. "Santri kami ajarkan agar tidak mudah menyerah. Misal ketika berdagang mereka tidak selalu untung. Ada ruginya juga. Itu tantang dan proses pembelajaran bagi mereka," urai lulusan S1 Teknik Sipil, ITB dan S2 Manajemen, PPm Jakarta tersebut.


Praktik Entrepreneur dilakukan santri saat Sabtu dan Minggu. Selama tiga tahun berjalan, para santri sudah punya langgan sendiri. Kondisi ini memberikan keuntungan bagi santri, dimana mereka mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah mencapai jutaan.


"Alhamdulillah dagangan santi dari tahun ke tahun meningkat. Sebab mereka sudah ada langanan tetap. Saat memasak anak-anak didampingi pengelola pesantren atau orangtua mereka, sebab kami memang belum punya tenaga dapur. Jadi anak masak sendiri, makanan yang akan dimakan. Setelah masak mereka bereskan semua yang kotor. Itu juga proses pembelajar bagi mereka," katanya.


Aneka makanan dan minuman yang dibuat santri dibuat dengan modal sendiri. Sebab saat masuk pesantren pada tahun pertama santri wajib menyimpan uang saku yang diberikan orangtua sebesar 25 persen. Misal, jika diberi Rp100 ribu, maka Rp25 ribu akan ditabung. Sisanya dipakai untuk keperluan sendiri.


Untuk santri yang sudah masuk tahun kedua, semua uang dari orangtuanya ditabung 100 persen. Sebab mereka sudah punya modal untuk kebutuhan sehari-hari, hasil dari penjualan pada Ramadhan tahun pertama saat masuk pesantren.


Setiap pekan, penjualan dari santri akan dievaluasi.Dari sana akan ketahuan siapa yang untung dan yang rugi.


Hasil jual beli santri akan dikumpulkan dan disimpan pengelola pesantren. Pastinya dengan catatan yang jelas nilainya dari transaksi jual beli santri.


"Saat ini uang santri yang kami simpan paling besar Rp2 jutaan hingga Rp4 jutaan. Uang itu akan kami kembalikan ketika mereka tamat. Atau bisa diambil seperlunya ketika mereka akan pulang kampung. Jadi anak-anak bisa membantu orangtua dengan tabungannya sendiri. Bahkan ada anak yang mampu menghindarkan orangtuanya dari para rentenir,"terangnya.


Santri bersiap menjajakan hasil kebun yang dipanen sendiri. Ist[/caption]


Belajar Beternak dan Berladang


Para santri di Pesantren Enterpreneur Payakumbuh, juga belajar beternak. Ilmu didapat dari mentor yang sudah dipilih pihak pesantren. Dari para mentor itulah santri belajar tentang memberi makan ternak, bagaimana cara ternak tidak mati, hingga belajar menjual ternak dengan cara berkeliling dari satu kampung ke kampung lain.


"Mentor yang kami cari tidak sembarangan, tujuannya agar anak benar-benar belajar. Umumnya mentor adalah orang yang sukses di daerah terdekat dari pesantren. Anak-anak yang datang ke mentor masing-masing," terang Ihsan.


Sebagai pengelola pesantren, ayah tiga anak itu pun ingin para pengusaha besar di Sumbar dan Tanah Air, turut menjadi mentor bagi para santri mereka. Harapannya, ilmu Entrepreneur para santri mereka bisa lebih luas dari sekarang. Hingga para santri Pesantren Entreprenuer tersebut tidak semata jadi pengusaha lokal, tapi juga bisa menjadi pengusaha besar di Indonesia bahkan dunia.


Untuk berladang, para santri juga diajarkan menanam sejumlah tumbuhan. Seperti ubi, jagung. Ketika panen mereka akan melihat bagaimana cara panen, kemudian diolah menjadi aneka makanan, seperti keripik, memberi cabai kripiknya hingga dikemas sampai layak jual. Setelah semua selesai, para santri yang terlibat akan mendapat upah dari pekerjaan yang mereka lakukan. Uang itu dibawa ke pesantren untuk ditabung.

Kondisi bangunan tempat santri belajar dan berdaya guna. Ist[/caption]


Donatur Belum Banyak


Sejak berdiri pada Juli 2019, belum banyak donatur untuk pesantren yang kini memiliki lahan seluas enam hektare tersebut. Meski demikian, dalam berjalannya waktu ada saja donatur yang menyalurkan bantuan.


Bagi Ihsan dan istrinya, resep menjalankan pesantren hanya bermodal niat baik semata. Terkadang dia heran, saat butuh sesuatu ada saja yang menyalurkan bantuan.


"Inilah kuasa Allah. Allah sudah mengatur semuanya. Jadi jika dibilang donatur sudah banyak, jawabnya belum. Tapi alhamdulillah sampai saat ini pesantren kami masih berdiri dan mampu memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak ekonomi lemah. Ini sebuah kebesaran Allah," ujarnya.


Ke depan, Ihsan berkeinginan pesantren yang dipimpinnya mampu menyelesaikan model pendidikannya, sebab sekarang mereka masih dalam tahap merancang konsep model pendidikan yang diinginkan. Dia juga berharap, ke depan bisa dikelola secara profesional. Dimana pendidikan khususnya pendidikan Islam bisa dijangkau semua kalangan. Tentunya pendidikan yang layak sama layaknya dengan pendidikan yang dapat anak-anak dari kalangan berpunya.


Saat ini Yayasan Raudhatul Jannah memiliki lahan seluas enam hektare. Lahan itu dikelola untuk membesarkan santri di pesantren tersebut. Di lahan itulah mereka bertani, beternak guna menghasilan rupiah untuk mendidik dan memberdayakan para santri agar siap kerja ketika selesai menempuh pendidikan di pesantren tersebut. YL

 

×
Berita Terbaru Update