PADANG, KITAPUNYA.ID – Menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027 yang tinggal lima hari lagi, aktivitas penjualan seragam sekolah di Pasar Raya Padang masih belum menunjukkan peningkatan. Hingga Rabu (8/7/2026), sejumlah pedagang mengaku jumlah pembeli jauh lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Para pedagang menilai Program Seragam Sekolah Gratis yang dijalankan Pemerintah Kota Padang selama dua tahun terakhir menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penurunan penjualan. Banyak orang tua memilih menunda membeli seragam karena masih menunggu kepastian apakah anak mereka termasuk penerima bantuan tersebut.
Salah seorang pedagang seragam, Yeni (40), mengungkapkan bahwa kondisi penjualan tahun ini masih lesu meski awal masuk sekolah sudah semakin dekat. Ia mengatakan situasi tersebut sangat berbeda dibandingkan sebelum program seragam gratis diterapkan.
Menurutnya, program tersebut berdampak pada pelaku usaha kecil yang selama ini menggantungkan pendapatan dari penjualan seragam sekolah. Selain itu, ia menyebut penyedia seragam gratis berasal dari luar daerah sehingga pelaku UMKM lokal tidak ikut merasakan manfaatnya.
Yeni menambahkan, pembeli yang datang saat ini justru lebih banyak berasal dari luar Kota Padang, seperti Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, dan Kabupaten Pasaman. Sementara masyarakat Kota Padang masih menunggu hasil pendataan penerima bantuan seragam dari sekolah.
Hal serupa disampaikan pedagang lainnya, Leni (44). Ia mengatakan sebagian besar orang tua, khususnya dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, memilih menunda berbelanja hingga ada kepastian mengenai bantuan seragam gratis.
Menurut Leni, kondisi pasar yang biasanya ramai menjelang tahun ajaran baru kini justru terlihat lengang. Jika sebelumnya para pedagang sibuk melayani pembeli dan mengatur stok barang, kini mereka masih memiliki banyak waktu luang karena minimnya transaksi.
Dampak dari sepinya pembeli juga dirasakan pada perputaran modal usaha. Ia mengaku pendapatan harian yang biasanya bisa mencapai sekitar Rp1 juta kini hanya berkisar Rp300 ribu, sementara hasil tersebut masih harus digunakan untuk membayar tiga orang karyawan.
Leni juga menilai program seragam gratis belum memberikan manfaat bagi pelaku usaha lokal karena vendor penyedia seragam disebut berasal dari luar Provinsi Sumatera Barat.
Keluhan serupa datang dari Anto (52), yang memperkirakan penjualannya turun sekitar 50 persen dibandingkan sebelum program tersebut berjalan.
Ia menjelaskan, pada tahun-tahun sebelumnya orang tua biasanya sudah mulai membeli seragam sejak beberapa bulan sebelum sekolah dimulai. Namun kini sebagian besar memilih menunggu kepastian dari pihak sekolah.
Meski demikian, Anto memperkirakan pasar akan mulai ramai sekitar tiga hari menjelang hari pertama sekolah. Orang tua yang anaknya tidak terdaftar sebagai penerima bantuan diperkirakan baru akan membeli seragam secara mandiri di pasar.
Ia menambahkan, hingga saat ini mayoritas pembeli masih berasal dari luar Kota Padang. Sementara warga Kota Padang umumnya masih menunggu hasil pendataan penerima program seragam gratis sebelum memutuskan untuk membeli kebutuhan seragam sekolah.(def*)

0 Komentar
silakan komentar yang berguna