Di bangku tua kelas yang kami lalui,
kami menganyam hari dengan mimpi-mimpi muda kala itu.
Kami duduk di deretan variasi,
bersama nama-nama kecil sahabat yang akrab dengan buku,
pena, dan lembar-lembar pelajaran.
Setiap akhir semester,
nama-nama kami kerap tersebut diurutan yang selalu dinamis, ada kalanya di atas, tengah dan nyaris paling akhir.
Bukan sekadar angka urutan,
melainkan jejak ikhtiar yang kami ukir bersama melalui dzikir dan pikir.
Di deretan bangku,
Kerap mereka menoleh,
mengintip, berbisik tentang catatan dan jawaban.
Meminjam buku yang penuh coretan pelajaran.
Kami tertawa,
berbagi ilmu tanpa menghitung untung dan rugi.
Waktu pun berlalu,
membawa kami ke jalan takdir karir masing- masing.
Saat kenangan itu kembali singgah,
kami tersenyum dalam kesyukuran.
Siapa sangka,
buku-buku yang dahulu sering berpindah tangan dan sampai kusam
menjadi saksi perjalanan anak-anak negeri
yang kelak mengemban amanah untuk masyarakat.
Begitulah hidup,
bangku-bangku kelas sering kali menyimpan rahasia tentang harapan
bahwa para masa depan
pernah duduk bersama,
bercanda,
belajar,
dan meminjam buku dari sahabat-sahabat penuh ketulusan.
Teruslah belajar tulus, karena ketulusan selalu tidak terasa tapi ada dan bermakna.
Salam#Tulus260706
0 Komentar
silakan komentar yang berguna