Ini Tulisan Juara II Lomba Penulisan Jurnalis BNI 2026

                       

Soesilo Abadi Piliang

    

Tulisan ini ditulis oleh jurnalis senior Harian Singgalang Padang, Soesilo Abadi Piliang. Bercerita tentang perjuangan petani cengkih di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat.  Lewat karyanya Mas Susilo begitu dia akrab disapa berhasil meraih juara II dalam kompetisi penulisan lomba jurnalis yang diselenggarakan oleh BNI tahun 2026.

Tulisannya berjudul Aroma Sansibar dan Mimpi Petani di Balik Ombak Mentawai.

Berikut narasi lengkap yang ditulis dalam bentuk feature dan terbit di Harian Singgalang cetak edisi 12 Juni 2026.                                    

MENTAWAI - Debur ombak dari pesisir Dusun Pogari, Desa Goiso Oinan Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, terdengar lamat-lamat, menyusup di antara celah-celah daun hijau di perkebunan cengkih milik rakyat  setempat. 

Di sinilah, di hamparan perbukitan yang berbatasan langsung dengan cakrawala tak bertepi Samudra Hindia, sebuah kisah tentang peluh dan harapan sedang dirajut.

Hari itu, Kamis, 22 April 2026. Langit Mentawai bertelanjang tanpa awan, membiarkan teriknya membakar semangat para petani. Hanya berjarak sekitar 500 meter dari landasan pacu Bandara Rokot—yang kini bersolek dengan nama baru, Bandara Mentawai—aroma khas cengkih yang tajam dan pekat menguar ke udara. Wangi itu seolah menjadi bahan bakar bagi langkah kaki para petani yang berderap lincah, menyongsong musim panen yang telah lama dinanti.

Di antara barisan pepohonan, tampak Andika. Lelaki berusia 45 tahun itu berdiri tegap di tanah miliknya sendiri. Peluh bercucuran, mengalir deras dari dahi dan membasahi baju kaos yang kusam. Namun, keletihan fisik itu kalah telak oleh binar bahagia yang memancar dari sepasang matanya.

Dengan gerakan perlahan, jemarinya yang legam  menunjuk ke arah pucuk-pucuk pepohonan yang merunduk, sarat oleh dompolan bunga cengkih yang siap petik.

"Ini varietas Sansibar," tutur Andika. Nada suaranya bergetar, menyelipkan rasa bangga yang tidak dibuat-buat.

Bagi Andika, dan mungkin bagi seluruh hamparan bumi Mentawai, Sansibar bukan sekadar nama tanaman dalam katalog pertanian. Ia adalah urat nadi. Setiap batang pohon yang tumbuh molek dan kokoh di bukit ini mampu menyumbang sekitar 30 hingga 40 kilogram cengkih kering berkualitas prima pada setiap musim petik.

Sambil menyeka keringat, Andika berkisah kepada Singgalang. Suaranya berat, menceritakan bagaimana tanah Mentawai telah diberkati sejak leluhur mereka ada; menjadi rahim subur yang melahirkan salah satu kualitas cengkih terbaik di seantero Nusantara.

Di balik keagungan mutu Sansibar yang tersohor, selalu terselip sekelumit lara yang mengendap di hati para petani. Ini adalah romansa klasik tentang harga yang kerap kali tak berpihak pada peluh yang telanjur tumpah. Aroma rindu akan kesejahteraan yang mapan berembus pelan bersama angin laut, membawa harapan-harapan yang digantungkan di pucuk pohon.

"Pada penghujung 2025 lalu, harga cengkih sempat bertengger manis di angka Rp120.000 per kilogram," kenang Andika. Matanya menerawang menatap riak samudra di kejauhan. "Tentu, di tahun berjalan ini, kami menggantungkan mimpi agar harganya bisa merangkak naik lagi. Setidaknya bertahan."

Ucapan Andika bukan sekadar keluhan pribadi. Itu adalah representasi dari bisikan hati kolektif para petani Mentawai yang menggantungkan dapurnya pada fluktuasi angka-angka di pasar luar pulau.

Realitas pasar ini diamini oleh Johannes Taileleu, seorang pedagang pengumpul cengkih di Desa Tua Pejat. Saat ditemui Singgalang pada Selasa, 19 Mei 2026, Johannes mengonfirmasi betapa nasib para petani lokal sebenarnya kerap disetir dari jauh.

"Harga cengkih di Mentawai memang sangat berfluktuatif," ungkap Johannes.

Ia membeberkan bahwa angka di papan harga bukan mereka yang menentukan. Kuasa itu berada di tangan para agen besar di Kota Padang, bahkan hingga agen yang datang jauh-jauh dari Surabaya. Saat ini, harga cengkih kering di tingkat petani lokal Mentawai bergerak labil, berkisar antara Rp110.000 hingga Rp120.000 per kilogram.

Di bawah bayang-bayang mesin pesawat yang sesekali mendarat di Bandara Mentawai, para petani di Pogari tetap memanjat pohon-pohon cengkih mereka. Mereka terus memetik harapan, berdoa agar wangi cengkih yang mereka hirup setiap hari, kelak juga mewarnai kesejahteraan mereka.

Permadani Hijau di Sisi Barat Sumatra

Jauh sebelum wangi pekat Syzygium aromaticum menyelimuti  bumi Mentawai adalah tentang sunyinya ladang tradisional. Di bawah rimbunnya hutan tropis, masyarakat adat sejak mula merawat kehidupan lewat kebersahajaan tumpukan sagu, keladi yang digali dari tanah basah, serta juntaian pohon pisang. Sagu dan keladi adalah pemenuh lambung, penjaga ketahanan yang tunduk pada adat leluhur.

Namun, sejarah bergeser arah pada tahun 1978. Angin perubahan meniupkan benih baru ke gugusan pulau di sisi barat Sumatra ini. Tanaman cengkih mulai ditanam secara luas, memikat perhatian masyarakat, dan perlahan mengubah lanskap perladangan berganti rupa menjadi bentangan hijau yang menakjubkan.

Kini, di areal kebun rakyat itu, cengkih tumbuh melampaui takdirnya yang biasa. Ia tidak dibiarkan berdiri sendiri dalam kesunyian monokultur. Para petani setempat mempraktikkan kearifan tumpang sari. Di bawah naungan pohon cengkih yang menjulang tinggi, mereka menyisipkan barisan tanaman kakao serta  pohon kelapa. Sebuah ekosistem kecil yang berlapis, tempat beragam sumber rezeki saling bertumpu pada sekeping tanah yang sama.

Data dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Mentawai menyebutkan, riwayat kebun rempah ini tersebar merata, mengakar kuat dari bumi Siriloggui di Siberut Utara sebagai sentra utama, melintasi titik-titik subur di Goiso Oinan di Sipora Utara, hingga ke pelosok Sipora Selatan. 

Bagi Mentawai, cengkih bukan sekadar pelengkap bumbu di sudut dapur atau penambah cita rasa pada gulungan rokok kretek. Ia adalah denyut nadi ekonomi yang melanglang buana, sebuah komoditas ekspor andalan yang membawa nama kepulauan ini ke panggung dunia.

Catatan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Mentawai mempertegas kejayaan itu. Tanah ini kokoh berdiri di peringkat kelima sebagai lumbung cengkih terbesar di seantero Sumatra Barat. Grafik produksinya sempat melesat indah, terekam dalam angka yang memukau: dari 146,9 ton pada tahun 2023, melonjak tajam menjadi 211,4 ton pada tahun 2024.

"Potensi dan sebarannya merata, terutama di Pulau Siberut dan Sipora," ungkap Andre Kasinius P, Kabid Tanaman Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Mentawai, saat dihubungi Singgalang, Rabu (20/5).

Andre menjelaskan bahwa dari tiga varietas cengkih yang tumbuh di sana—Sansibar, Sikotok, dan Siputih—Sansibar adalah primadona sejati. Manfaat varietas ini merentang luas tak bertepi, mulai dari kebutuhan raksasa industri sigaret, seni kuliner, hingga racikan sakral dalam dunia pengobatan. 

"Sejak dulu kala, Mentawai diakui sebagai penghasil cengkih terbaik di Sumatera Barat, dengan Desa Siriloggui di Siberut Utara sebagai wilayah paling dominan," tambahnya.

Namun, kehidupan  petani cengkih tidak melulu berbicara tentang keuntungan.Sering kali, ada mendung yang bergelayut di atas hamparan permadani hijau tersebut. Akhir-akhir ini, semangat yang meluap dari dada para petani perlahan meredup. Ironisnya, kelesuan itu berimbas langsung pada penurunan produksi tanah mereka. Penyebabnya adalah momok klasik yang selalu menghantui setiap kali musim panen tiba: fluktuasi harga jual cengkih kering yang kerap merosot tanpa ampun, menyisakan lara di sela peluh yang terlanjur tumpah.

Tanggapi Harapan Petani

Menyikapi jeritan sunyi dari balik kebun-kebun cengkih tersebut, secercah harapan coba dialirkan dari seberang lautan. Jarak geografis Mentawai yang menantang memang kerap menjadi tembok tebal. Gugusan kepulauan ini terdiri dari 323 pulau kecil yang berserak di samudra, dengan hanya empat pulau utama yang berpenghuni—Pulau Siberut yang terbesar dan terpadat, Pulau Sipora sebagai jantung pemerintahan, serta duo Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan. Kondisi alam inilah yang kerap mengisolasi petani dari akses perbankan yang sehat.

"Kami sangat memahami kesulitan para petani cengkih untuk mendapatkan akses ke bank karena Mentawai merupakan kawasan kepulauan," tutur Randy Efrinof, Anggota Tim Humas BNI Wilayah 02 (Sumbar, Riau, Kepri) saat dihubungi Singgalang di Padang, Selasa (17/6/2026).

Guna menjembatani jurang pemisah tersebut, BNI mulai menyalurkan lini pembiayaan atau kredit kepada para pelaku usaha di akar rumput, mulai dari petani kecil, pedagang pengumpul padi, hingga pemilik mesin giling (hueller), lewat perhitungan bunga yang diklaim transparan.

Lewat skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) ritel, katanya, kucuran modal yang disiapkan bergerak di angka minimal Rp101 juta hingga menyentuh Rp500 juta. Strateginya dirancang dengan pendekatan yang lebih personal: one on one, langsung mendatangi pelaku usaha untuk kebutuhan modal kerja atau investasi perluasan lahan pertanian. "BNI memberikan kredit sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan bayar petani," jelas Randy, mencoba meyakinkan bahwa perbankan kini hadir bukan sebagai beban, melainkan sebagai penopang.

Randy menyebutkan, khusus untuk sektor KUR Pertanian di Sumatra Barat, hingga Mei 2026 dana sebesar Rp23 miliar telah mengalir ke dalam 93 rekening nasabah. Angka ini melanjutkan estafet perjuangan tahun 2025, di mana penyaluran KUR Pertanian sempat menyentuh angka Rp40,3 miliar bagi 181 rekening nasabah.(*)


0 Komentar

silakan komentar yang berguna