Proyek Rekonstruksi GOR Agus Salim Dimulai, Ratusan Pedagang Kecil Terancam Kehilangan Mata Pencaharian

 

Petugas mengangkat kontainer milik salah seorang pedagang yang terkena imbas pembangunan GOR Agus Salim Padang. Ist 

PADANG, KITAPUNYA.ID– Wajah Gelanggang Olahraga (GOR) Haji Agus Salim, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), dipastikan akan segera berubah. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat resmi memulai proyek rekonstruksi dan penataan besar-besaran kawasan olahraga kebanggaan warga Ranah Minang tersebut.

Namun, di balik megahnya rencana pembangunan fisik tersebut, riak-riak sosial mulai bermunculan di lapangan. Penutupan akses dan sterilisasi kawasan GOR langsung memukul telak ratusan pedagang kecil yang selama ini menggantungkan urat nadi perekonomian mereka di sana.

Pantauan di lokasi pada Rabu (17/6/2026), suasana riuh berubah menjadi haru. Sejumlah pedagang tampak sibuk membongkar sendiri lapak kayu dan tripleks yang selama bertahun-tahun menjadi tempat mereka menjemput rezeki.

Surat Dadakan dan Minimnya Solusi Tempat Pengganti

Kekecewaan mendalam dirasakan oleh para pelaku usaha mikro akibat mekanisme pengosongan lahan yang dinilai sangat mendadak. Ita, salah seorang pedagang makanan yang sudah 15 tahun mencari nafkah di GOR Agus Salim, mengaku syok saat menerima surat perintah pengosongan.

"Surat pemberitahuannya sangat mendadak, baru diberikan kemarin sore dan hari ini kami sudah harus bongkar. Kenapa tidak dari jauh-jauh hari? Kalau tahu lebih awal, tentu kami bisa bersiap-siap mencari tempat berjualan yang baru," ujar Ita dengan mata berkaca-kaca.

Ita meratapi nasib keluarganya jika pemerintah hanya bisa melarang tanpa memberikan solusi konkret. "Kami menggantungkan hidup di sini. Kalau tempat lama ditutup dan tempat baru tidak disediakan, kami mau kerja apa?" keluhnya.

Baru 78 Pedagang yang Direlokasi Mandiri

Hingga saat ini, kejelasan mengenai nasib para pedagang masih simpang siur. Berdasarkan data di lapangan, baru sekitar 78 pedagang dari kawasan Pujasera yang dialokasikan untuk pindah sementara ke area depan Kolam Renang Teratai. Berdasarkan pengakuan Marlinda, salah seorang pedagang, lapak sementara di lokasi baru itu pun harus mereka bangun secara mandiri dengan biaya sendiri.

Sementara itu, ratusan pedagang lainnya—terutama pedagang kaki lima yang biasa beroperasi di sepanjang tepi jalan kawasan GOR—masih luntang-lantung tanpa kepastian lokasi pengganti.

Andri, pedagang Mie Ayam di area parkir depan stadion, menyebutkan bahwa banyak pedagang yang awalnya sengaja menahan diri tidak membongkar lapak karena menunggu jaminan tempat relokasi dari pemerintah.

"Memang sebelumnya sudah ada sosialisasi, tapi karena belum ada kejelasan akan pindah ke mana, maka banyak pedagang menunda membongkar lapaknya. Jadi baru hari ini terpaksa mulai dibongkar," kata Andri.

Ancaman Pengangguran Baru di Kota Padang

Ketakutan akan kehilangan mata pencaharian juga disuarakan oleh Ijas, pedagang kuliner Korea di kawasan GOR. Ia mengingatkan bahwa jika pemerintah daerah egois dan hanya berfokus pada estetika pembangunan fisik tanpa memikirkan dampak ekonomi rakyat, maka proyek ini justru akan melahirkan angka pengangguran baru.

"Kalau tidak ada tempat pengganti yang disediakan oleh pemerintah, otomatis kami tidak bisa jualan dan menjadi pengangguran," tegas Ijas.

Kini, para pedagang GOR Haji Agus Salim Padang hanya bisa berharap Pemerintah Provinsi Sumatera Barat segera turun tangan. Mereka menuntut adanya kebijakan penataan yang humanis: sebuah solusi relokasi yang layak agar roda ekonomi wong cilik tidak ikut hancur di tengah deru buldozer rekonstruksi.

Sementara, Kasat Pol PP Kota Padang, Chandra Eka Putra, mengatakan bahwa pihaknya siap mendukung penuh program revitalisasi GOR H. Agus Salim sebagai aset penting yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Barat.

‎"Revitalisasi GOR H. Agus Salim merupakan program strategis yang bertujuan menghadirkan fasilitas olahraga yang lebih baik bagi masyarakat. Untuk itu, Satpol PP Kota Padang siap mendukung dan mengawal proses penataan kawasan, termasuk melakukan pemetaan dan penertiban PKL secara humanis serta mengedepankan pendekatan persuasif kepada seluruh pihak yang terdampak," ujar Chandra Eka Putra.

‎Selain melakukan penertiban PKL, personel Satpol PP Kota Padang juga disiagakan untuk membantu pengamanan dan pengaturan akses menuju kawasan GOR H. Agus Salim. Langkah tersebut dilakukan guna menjaga ketertiban umum serta memastikan seluruh tahapan revitalisasi dapat berlangsung dengan aman dan lancar.

‎Chandra Eka Putra juga mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung program revitalisasi tersebut demi kemajuan fasilitas olahraga di Sumatera Barat.

‎"Kami berharap seluruh pihak dapat bersama-sama mendukung program ini. Revitalisasi GOR H. Agus Salim merupakan upaya menghadirkan sarana olahraga yang lebih representatif dan membanggakan bagi masyarakat Sumatera Barat. Dengan dukungan semua pihak, proses pembangunan dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat," harap Chandra.

Pengosongan GOR Agus Salim dari PKL melibatkan Tim Gabungan Pemprov Sumbar dan Kota Padang. Seperti Satpol PP Provinsi Sumatera Barat, Satpol PP Kota Padang, Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Barat, Dinas Perhubungan Kota Padang, Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatera Barat, serta unsur Kepolisian.

‎.

0 Komentar

silakan komentar yang berguna