![]() |
PADANG, KITAPUNYA.ID-Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) menyelenggarakan Workshop Validasi Pembelajaran Respon Siklon Senyar di Ruang Pola Lantai 3, Kantor Gubernur Sumatra Barat pada Kamis (25/6/2026).
Kegiatan ini bertujuan untuk memvalidasi serta mendokumentasikan berbagai catatan pembelajaran dan praktik baik (good practices) dari penanganan respons bencana yang lebih inklusif bagi kelompok disabilitas.
Rina selaku anggota MPBI sekaligus panitia penyelenggara, menyampaikan, bahwa rangkaian kegiatan ini merupakan proses penting untuk mengumpulkan rekam jejak penanganan respons bencana di tiga provinsi yang telah dikunjungi sebelumnya (Aceh, Medan, Padang). Catatan ini nantinya akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan (policy brief) demi mendorong penanganan bencana yang lebih ramah disabilitas di masa depan.
Memasuki sesi utama, workshop menghadirkan presentasi dari Ela Nurlaela selaku peserta On-Job Training (OJT) kelompok disabilitas dan Indah Sari Kencono Putri perwakilan dari MPBI. Ela memaparkan hasil observasi langsung, wawancara, serta Focus Group Discussion (FGD) yang telah dilakukan di lapangan setelah sebelumnya mendapatkan pelatihan kelas intensif di Aceh.
Penyampaian materi tersebut memicu tanggapan aktif dari peserta yang hadir, di antaranya Ilham serta Tommy Setiawan dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Diskusi berjalan interaktif saat memasuki sesi tanya jawab dan perumusan rekomendasi, yang turut dikawal langsung oleh Pangarso Suryo Utama, M. MB dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kehadiran BNPB dalam forum ini memperkuat komitmen bahwa suara dan temuan dari kelompok disabilitas di lapangan akan didengar oleh pemangku kebijakan.
Melalui program Sehati (Strengthening inclusion in humanitarian action through cluster mechanism) yang dijalankan bersama Kementerian Sosial (Kemensos), serta program CERDAS (Community Empowerment for Resilience Through DRR, Adaptation and Sustainability) yang bermitra dengan BNPB, MPBI berkomitmen mengubah paradigma penanggulangan bencana di Indonesia.
Program Sehati sendiri .direncanakan berjalan hingga tahun 2027 atas kerja sama dengan YEU, CBM Global, dan dukungan dari Pemerintah Australia melalui Siap Siaga. Melalui integrasi program-program ini, kelompok disabilitas diharapkan tidak lagi dipandang sekadar sebagai objek, melainkan subjek aktif yang dilibatkan penuh dalam setiap tahap pola koordinasi dan kebijakan penanganan bencana.

0 Komentar
silakan komentar yang berguna