PADANG, KITAPUNYA.ID- Bagi sebagian besar petugas, melayani ratusan jemaah haji di Arab Saudi adalah tugas yang menguras fisik dan mental.
Di tengah cuaca gurun yang ekstrem, jadwal padat, dan tanggung jawab medis yang taruhannya adalah nyawa, kelelahan adalah hal yang lumrah.
Namun, paradigma itu runtuh bagi dr. Yelvi Novita Roza. Dokter kloter yang baru saja menginjakkan kaki kembali di Asrama Haji Debarkasi Padang ini justru pulang dengan binar mata bahagia. Baginya, Tanah Suci adalah ruang keajaiban di mana logika medis sering kali tunduk pada kuasa spiritual.
“Arab Saudi itu tempat yang ajaib. Anehnya, saya tidak merasa lelah sama sekali meski aktivitas begitu padat. Semua pertolongan dari Tuhan terasa begitu nyata, dekat, dan selalu datang pada saat yang tepat,” ungkap dr. Yelvi dengan senyum hangat, Sabtu (13/6/2026).
Miniatur Kehidupan dan Runtuhnya Sekat Perbedaan
Bagi dr. Yelvi, penugasan sebagai Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) tahun ini bertransformasi menjadi sebuah perjalanan spiritual yang menjungkirbalikkan cara pandangnya tentang kehidupan. Ia melihat ibadah haji sebagai sebuah miniatur kehidupan manusia yang sesungguhnya.
Di tengah kesibukan mengobati jemaah yang drop akibat kelelahan, ia menyaksikan bagaimana ego manusia luruh. Sekat-sekat sosial, asal daerah, dan latar belakang ekonomi mendadak menguap di bawah langit Makkah dan Madinah.
“Di sana kita belajar tentang kesabaran, keikhlasan, kepedulian, dan kebersamaan. Apa yang kita lakukan di Tanah Suci sebenarnya menggambarkan bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari di Indonesia. Kami menemukan keluarga-keluarga baru di tengah perjuangan,” kenangnya haru.
Hari-hari panjang dengan waktu tidur yang sangat terbatas tak pernah dirasakannya sebagai beban yang mencekik. Sebaliknya, setiap kali tim medis dihadapkan pada situasi darurat, jalan keluar selalu muncul dari arah yang tidak disangka-sangka.
Berkah Ketulusan: Karpet Merah di Raudhah dan Ka'bah
Hukum tabur-tuai spiritual tampaknya berlaku instan di Tanah Suci. Karena hari-harinya dihabiskan untuk merawat jemaah yang sakit dengan penuh ketulusan, dr. Yelvi berulang kali mendapatkan kemudahan yang sulit dinalar secara rasional.
Di saat jutaan orang harus mengantre berjam-jam dan berebut via aplikasi untuk masuk ke taman surga, dr. Yelvi justru melenggang masuk ke Raudhah tanpa hambatan berarti. Tak hanya itu, momen magis kembali berulang saat ia bisa mendekat dan menyentuh dinding Ka’bah dengan begitu mulus di tengah lautan manusia yang berjejal.
“Banyak hal luar biasa yang saya alami di sana. Rasanya seperti mendapatkan undangan khusus dari Allah. Semua terjadi begitu saja dan meninggalkan rasa syukur yang mendalam,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Pelajaran Berharga: Bantu Manusia, Allah yang Mudahkan
Meski kini tugasnya telah usai dan telah kembali ke Tanah Air, memori di pelataran Baitullah tetap terpatri kuat di benaknya. Ia merasa membawa pulang "oleh-oleh" yang jauh lebih berharga dari sekadar air zamzam atau kurma, yakni sebuah pembuktian iman.
Sistem pelayanan kesehatan haji Indonesia 2026 yang dinilainya berjalan solid berkat kerja keras para dokter dan perawat, menjadi bukti bahwa kerja kemanusiaan yang diiringi keikhlasan selalu membuahkan hasil manis.
“Yang paling saya syukuri adalah pelajaran hidupnya. Di sana saya belajar dan membuktikan sendiri, bahwa ketika kita ikhlas membantu orang lain, Allah akan membukakan begitu banyak jalan kemudahan yang tidak pernah kita duga sebelumnya,” pungkas dr. Yelvi mengakhiri kisahnya. (Hum/Red)

0 Komentar
silakan komentar yang berguna