![]() |
| Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat peluncuran di Garuda Spark, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026). Humasn Komdigi. Ist |
JAKARTA, KITAPUNYA.ID– Langkah konkret pelindungan anak di ranah siber terus diperkuat. Sebagai bentuk kepatuhan dan tanggung jawab platform digital terhadap regulasi nasional,
YouTube resmi meluncurkan Digital Wellbeing Guidebook. Buku panduan digital ini diterbitkan guna mendukung implementasi Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026, yang merupakan aturan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).
Peluncuran panduan praktis ini menjadi komitmen nyata YouTube dalam menyajikan edukasi masif bagi para orang tua dan pendidik, agar mampu mengawal aktivitas digital anak secara sehat dan aman.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menyatakan bahwa kehadiran buku panduan ini menjadi jawaban atas tingginya kegelisahan para orang tua dalam menghadapi tantangan pola pengasuhan (parenting) di era gempuran teknologi.
“Kita melihat masih banyak orang tua yang bingung dan bertanya, bagaimana cara mendampingi anak menggunakan media sosial, bagaimana menyikapi maraknya gim daring, serta bagaimana menjaga mereka tetap aman di ruang digital. Oleh karena itu, kami meluncurkan buku panduan ini,” tegas Meutya Hafid saat meresmikan peluncuran di Garuda Spark, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026).
Filosofi Menkomdigi: Jaga Pintu dan Jendela 'Rumah Baru' Anak
Lebih lanjut, Meutya menekankan bahwa lanskap pengasuhan anak saat ini telah berubah total. Proteksi yang diberikan orang tua tidak boleh lagi hanya terbatas pada ruang fisik, melainkan wajib merambah ke ruang digital yang kian kompleks dan dinamis.
“Jika dunia digital adalah rumah baru bagi anak-anak kita, maka kita sebagai orang tua juga harus menjaga pintu dan jendelanya,” perumpamaan tegas dari Menkomdigi.
Ia juga meluruskan persepsi bahwa semangat dari regulasi ini bukan untuk mengekang atau membatasi anak dari akses teknologi, melainkan memastikan bahwa pemanfaatan ekosistem digital berjalan aman, sehat dan selaras dengan tahapan perkembangan usia anak.
Kolaborasi Lintas Sektor: Libatkan UI hingga RSCM
Pihak YouTube menegaskan bahwa penerbitan Digital Wellbeing Guidebook merupakan pemenuhan kewajiban platform asing yang beroperasi di Indonesia dalam mematuhi hukum tata kelola konten, khususnya yang menyasar pengguna di bawah umur.
“Peluncuran Digital Wellbeing Guidebook ini adalah wujud tanggung jawab nyata YouTube sebagai platform untuk mendukung edukasi orang tua. Kami ingin memastikan implementasi regulasi pelindungan anak (PP TUNAS) dapat berjalan lebih efektif dan menyentuh tingkat keluarga,” jelas perwakilan manajemen YouTube.
Buku panduan ini tidak disusun secara sembarangan. Guna menghasilkan parameter yang valid, YouTube menggandeng kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Kementerian Komunikasi dan Digital, pakar akademis dari Universitas Indonesia (UI), tenaga medis dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), serta jajaran ahli psikologi anak.
Dengan sinergi ini, Digital Wellbeing Guidebook diharapkan menjadi instrumen taktis nasional yang mampu menekan angka kerentanan anak terhadap dampak negatif internet, sekaligus mendorong terciptanya generasi digital Indonesia yang produktif dan cerdas. (*)

0 Komentar
silakan komentar yang berguna