JAKARTA, KITAPUNYA.ID— Di balik pulasan lipstik, presisi warna foundation, hingga efektivitas serum kecantikan yang beredar di pasar, terdapat proses ilmiah yang sangat kompleks.
Menjawab tantangan industri yang menuntut produk serba personal dan inklusif, ParagonCorp resmi memperkenalkan Smart Lab 2.0. Ini adalah sebuah ekosistem Riset dan Pengembangan (R&D) berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang siap merevolusi industri kosmetik nasional.
Langkah strategis ini dipaparkan langsung oleh dr. Sari Chairunnisa, Sp.D.V.E, FINSDV, Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, dalam forum bergengsi Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) 2026 yang diinisiasi oleh PERKOSMI di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (8/5/2026).
Evolusi R&D ParagonCorp: Menuju Era Otomatisasi
Bagi raksasa kosmetik yang kini menaungi lebih dari 17 brand dengan 2.000 lebih portofolio produk aktif ini, digitalisasi bukan lagi hal baru. Transformasi laboratorium mereka bergerak dalam cetak biru yang sangat terstruktur:
Masa Lalu: Sistem konvensional berbasis kertas dan logbook manual.
Smart Lab 1.0: Transisi ke platform formulasi berbasis web digital.
Smart Lab 2.0 (Fase Saat Ini): Membangun lapisan AI di atas infrastruktur digital yang telah terintegrasi untuk formulasi, pengelolaan bahan baku, hingga platform konsumen.
Smart Lab 3.0 (Masa Depan): Menyiapkan ekosistem robotic formulation, automated warehouse, hingga close-system automated pilot scale.
“Kami tidak lagi berada pada tahap digitalisasi dasar, tetapi mulai membangun lapisan AI di atas infrastruktur R&D yang telah terintegrasi. Tujuannya bukan hanya mempercepat inovasi, tetapi juga membantu proses riset menjadi lebih adaptif, sistematis, dan scalable,” ujar dr. Sari.
Lompatan Teknologi: Pangkas Waktu Formulasi hingga 60%
Implementasi AI di dapur R&D ParagonCorp terbukti membawa efisiensi eksponensial melalui beberapa terobosan mutakhir, di antaranya:
1. AI Color Matching
Lewat pendekatan kalibrasi alat spektrofotometer dan basis data warna (colorant tinting database), sistem ini mampu memprediksi formula warna kosmetik dengan tingkat akurasi di atas 95%. Hebatnya, teknologi ini mampu memangkas waktu formulasi hingga 60% dibandingkan metode konvensional.
2. Pemanfaatan Biological Big Data
AI digunakan untuk memproses data biologis raksasa (biological big data), mulai dari skin genomics, metabolomics, hingga skin microbiome. Pendekatan canggih ini memudahkan peneliti mengidentifikasi kandidat bahan aktif (ingredients) yang paling potensial untuk kebutuhan spesifik kulit, seperti mencerahkan (brightening), mengatasi jerawat (anti-acne), hingga memperbaiki lapisan pertahanan kulit (skin barrier).
3. Dataset Keberagaman Kulit Indonesia
ParagonCorp telah membangun dataset warna kulit dari lebih dari 1.000 perempuan Indonesia. Langkah ini memastikan produk kategori complexion seperti cushion dan foundation yang mereka ciptakan benar-benar representatif dan inklusif bagi keunikan warna kulit lokal.
Filosofi Co-Pilot: Manusia Tetap Pegang Kendali
Meskipun AI menawarkan efisiensi tinggi, ParagonCorp menegaskan bahwa teknologi ini tidak akan menggantikan peran manusia. Etika, keamanan, dan pertimbangan ilmiah murni tetap menjadi fondasi utama.
“AI bagi kami adalah co-pilot, bukan autopilot. AI membantu mempercepat proses dan membuka kemungkinan baru, tetapi sentuhan manusia tetap menjadi penentu utama dalam menghadirkan inovasi yang bertanggung jawab,” tegas dr. Sari.
Melalui partisipasinya di ICI 2026, ParagonCorp berkomitmen penuh untuk mendorong industri kosmetik tanah air agar tidak hanya bergerak cepat, tetapi juga minim limbah (minim waste), lebih efisien, dan memiliki daya saing tinggi di kancah global.
(Humas)

0 Komentar
silakan komentar yang berguna