PADANG PARIAMAN, KITAPUNYA.ID – Bulan Ramadhan 1447 Hijriah yang jatuh pada Februari 2026 membawa kesan yang sangat berbeda bagi Susi Suryanti (45) dan 40 keluarga lainnya yang tinggal di Hunian Sementara (Huntara) di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Biasanya bulan suci ini dirayakan dengan sukacita, namun bagi Susi dan keluarga lainnya, Ramadhan kali ini dibalut kesedihan mendalam. Mereka harus menjalani hari-hari terpisah dari keluarga besar, dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Susi mengenang peristiwa yang mengubah hidupnya. Bencana hidrometeorologi yang melanda Padang Pariaman pada November 2025 menghancurkan rumahnya yang dibangun dengan susah payah. Arus deras Batang Anai mengikis tebing dan menelan rumah beserta seluruh isinya hanya dalam hitungan jam.
“Kejadiannya sangat cepat, sekitar jam 3 pagi. Arus sungai menghanyutkan rumah kami beserta semua barang,” kenangnya saat diwawancara, Selasa (17/2).
Bersama suami, Susi hanya bisa pasrah menyaksikan rumah mereka hilang. Mereka berlari menyelamatkan diri bersama anak-anak ke tempat yang lebih aman.
Meski terpukul, Susi berusaha bersyukur dan ikhlas menghadapi kenyataan. “Jika dibandingkan korban lain yang kehilangan anggota keluarga, kami masih beruntung karena keluarga kami masih utuh,” ujarnya sambil menahan air mata.
Di balik ketegaran itu, Susi mengaku sering menangis sendiri mengenang bencana yang terjadi. Selama bulan Ramadhan ini, ia, suami, dan tiga anaknya masih tinggal di tenda pengungsian tanpa kepastian masa depan.
Membangun kembali rumah pribadi saat ini terasa mustahil. Dengan profesi sebagai ibu rumah tangga dan suaminya sebagai petani, mereka harus menabung setiap sisa penghasilan demi harapan memiliki rumah kembali.
Harapan terbesar Susi kini tertuju pada pemerintah. Ia berharap pembangunan Hunian Tetap (Huntap) untuk penyintas bencana segera terealisasi. Ia pun meminta lokasi Huntap agar lebih dekat dengan akses jalan raya dan pasar, tidak seperti Huntara yang mereka tempati saat ini.
“Untuk ongkos sekolah anak, kami harus mengeluarkan lebih dari lima puluh ribu rupiah setiap hari karena jaraknya sekitar lima kilometer. Kalau rumah lama, anak-anak bisa jalan kaki,” keluh Susi.
Bagi mayoritas umat Muslim, Ramadhan adalah bulan penuh sukacita. Namun bagi Susi, bulan ini dipenuhi kesedihan, jauh dari keluarga besar.
Meskipun Huntara berukuran 4×4 meter jauh lebih layak dibanding tenda darurat sebelumnya, Susi tetap terharu setiap kali mengingat masa lalunya.
“Alhamdulillah, sudah tiga minggu kami menetap di sini. Setidaknya tidak lagi berdesakan di tenda darurat,” ujarnya sambil menyeka air mata.
Di kamar sempit itu, di sela doa Ramadhan, Susi menaruh harapan sederhana: tidak meminta kemewahan, hanya ingin kembali memiliki atap sendiri sebagai tempat bernaung permanen, pelipur lara atas rumah yang hilang terbawa arus Batang Anai.(def*)

0 Comments