PADANG, KITAPUNYA.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mencatat pertumbuhan ekonomi daerah pada tahun 2025 mencapai 3,37 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa roda perekonomian masih bergerak, meskipun jika dilihat dari perspektif historis, pertumbuhan tersebut mencerminkan tren perlambatan yang berlangsung selama lebih dari satu dekade terakhir.
Pada awal 2010-an, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat masih kuat, berada di atas 6 persen. Namun seiring waktu, laju tersebut menurun ke sekitar 5 persen di pertengahan dekade, kemudian stabil di angka 4 persen, dan dalam beberapa tahun terakhir bergerak mendekati level 3 persen.
Wakil Rektor II Universitas Andalas (Unand) sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Hefrizal Handra, menilai penurunan ini bukanlah fenomena kebetulan. Menurutnya, perlambatan terjadi secara bertahap dan konsisten, menandakan bahwa masalah yang dihadapi bersifat struktural, bukan fluktuasi jangka pendek.
“Pola perlambatan ini tidak muncul tiba-tiba. Jika hanya siklus bisnis biasa, pemulihan pascapandemi seharusnya mampu membawa pertumbuhan kembali ke kisaran 5–6 persen,” ujar Hefrizal, yang meraih gelar doktor di bidang Keuangan Publik dari Flinders University of South Australia.
Ia menambahkan, pergeseran komposisi pengeluaran Sumatera Barat turut memengaruhi laju ekonomi. Konsumsi rumah tangga menurun, net ekspor meningkat, dan iklim investasi relatif stabil. Namun perubahan ini belum cukup menjadi katalis untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.
Masalah utama, menurut Hefrizal, terletak pada struktur produksi yang stagnan. Sektor primer, terutama pertanian, masih menjadi tulang punggung PDRB, namun proses hilirisasi berjalan lambat. Industri pengolahan belum menunjukkan kontribusi signifikan dan bahkan cenderung menurun. Sektor jasa berkembang, tetapi lebih banyak mengandalkan konsumsi domestik tanpa menambah nilai tambah secara signifikan.
Terkait sektor pariwisata, Hefrizal menilai kontribusinya belum optimal. Data menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumatera Barat relatif stagnan selama sepuluh tahun terakhir. Meskipun sempat mencapai puncak pada 2016, angka turis asing kini tertahan sekitar 56 ribu per tahun pascapandemi.
“Dengan basis kunjungan yang kecil dan stagnan, sulit menyebut pariwisata sebagai mesin pertumbuhan baru. Diperlukan upaya serius dalam peningkatan daya saing destinasi, konektivitas, dan integrasi rantai nilai agar dampaknya lebih terasa di masyarakat,” tegasnya.
Hefrizal menekankan, angka pertumbuhan 3,37 persen bukanlah krisis, tetapi alarm peringatan bagi para pembuat kebijakan. Tanpa penguatan struktur industri, hilirisasi pertanian, dan peningkatan produktivitas sektor jasa serta pariwisata, ekonomi Sumatera Barat diprediksi akan tetap berada di level moderat 3–4 persen di masa mendatang.(def*)

0 Comments