BANDUNG, KITAPUNYA.ID- Sabuga ITB bergemuruh pada Sabtu (14/2). Sebanyak 1.000 pendidik hadir secara fisik, sementara puluhan ribu lainnya tersambung melalui layar di penjuru negeri.
Mereka adalah bagian dari 25.000 guru yang resmi memulai perjalanan di Wardah Inspiring Teacher (WIT) Generasi 8, sebuah gerakan masif yang menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak dimulai dari angka pertumbuhan ekonomi, melainkan dari ruang-ruas kelas.
Sejak diluncurkan delapan tahun lalu, WIT kini telah menjangkau lebih dari 36.000 guru di 38 provinsi. Tahun ini, mengusung tema “Dari Kelas untuk Kebaikan Tanpa Batas”, program besutan ParagonCorp ini berevolusi dari sekadar pelatihan menjadi sebuah gerakan nasional yang kolaboratif.
Investasi pada Manusia, Bukan Sekadar Bisnis
CEO Paragon Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI), Salman Subakat, menyampaikan pesan kuat dalam keynote speech-nya. Ia menegaskan bahwa sektor swasta memiliki tanggung jawab moral untuk memperkuat fondasi peradaban.
"Bagi kami, kemajuan bangsa tidak dimulai dari pertumbuhan bisnis, tetapi dari pertumbuhan manusianya. Guru adalah arsitek peradaban. Jika kita ingin Indonesia berdaya saing, investasi terbesar harus diletakkan pada pendidikan yang bermakna," ujar Salman.
Terobosan Akademik: Pelatihan Guru Setara SKS di ITB
Salah satu kejutan besar dalam pembukaan WIT Gen 8 adalah kolaborasi strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara, mengumumkan bahwa para alumni WIT kini memiliki jalur formal untuk mendapatkan pengakuan akademik.
Melalui program micro-credential, pembelajaran berkelanjutan yang diikuti para guru dapat dikonversi menjadi SKS dan menjadi bagian dari jalur pendidikan tinggi di ITB.
"Pendidikan tinggi yang kuat tumbuh di atas fondasi pendidikan dasar yang kokoh. Kami ingin memastikan guru mendapatkan pengakuan akademik yang setara dan terstruktur," tegas Prof. Tata.
Kurikulum 5 Bulan: Dari Refleksi hingga AI
Para peserta WIT Gen 8 akan menjalani transformasi intensif selama lima bulan yang terbagi ke dalam tiga fase utama:
Penjelajah Makna (Bulan 1): Memperdalam identitas dan peran strategis pendidik.
Penenun Aksi (Bulan 2-3): Menguasai Design Thinking dan Project-based Learning (PjBL) untuk diterapkan di kelas. Oo
Pemantik Inspirasi (Bulan 4-5): Mendesiminasikan praktik baik melalui platform digital dan showcase kolaboratif.
Tak hanya itu, tersedia kelas khusus berbasis AI, Data, dan STEMBA untuk membekali guru dengan literasi teknologi mutakhir agar tetap relevan di era digital.
Guru sebagai Aktor Utama, Bukan Pelaksana Kebijakan
Senada dengan visi tersebut, Sekretaris Ditjen GTK Kemendikdasmen RI, Temu Ismail, menekankan pentingnya posisi guru dalam transformasi nasional. Menurutnya, kurikulum secanggih apa pun tidak akan berjalan tanpa guru yang berdaya.
"Guru harus diposisikan sebagai aktor utama perubahan, bukan sekadar pelaksana kebijakan," tuturnya.
Acara yang dipandu oleh Brand Ambassador Wardah, Dewi Sandra, ini ditutup dengan pesan haru yang merangkum semangat para pendidik:
"Dalam keterbatasan, guru tidak berhenti. Dari ruang kelas yang sederhana, lahirlah kebaikan tanpa batas."
0 Comments