Korban Banjir Sumbar Siap-siap Didata, Ratusan Mahasiswa KKN Unand Mulai Turun ke Lokasi Terdampak

Inilah mahasiswa KKN Unand yang akan turun ke lapangan untuk mendata kerusakan rumah warga terdampak banjir Sumbar. Ist 

KITAPUNYA.ID, PADANG – Semangat "Sumbar Bangkit" pascabencana hidrometeorologi memasuki babak baru yang krusial. 

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, secara resmi melepas 400 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas (Unand) yang akan bertugas sebagai tim verifikasi rumah terdampak bencana di 13 kabupaten/kota di Sumatera Barat, Jumat (2/1/2026).

Penugasan ini bukan sekadar KKN biasa, melainkan misi kemanusiaan strategis untuk memastikan ribuan warga terdampak mendapatkan hak rekonstruksi rumah mereka secara akurat dan tepat sasaran.

Target Singkat, Data Akurat 

Gubernur Mahyeldi menegaskan bahwa waktu adalah kunci. Tim mahasiswa ini ditargetkan menyelesaikan seluruh proses verifikasi lapangan pada 9 Januari 2026. Hasil kerja keras mereka akan menjadi dasar utama penyusunan dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Provinsi Sumbar.

"Kita butuh data yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, mahasiswa akan didampingi tim teknis dari BNPB dan BPBD, serta mendapatkan pengawalan dari Babinsa di setiap wilayah. Ini penting untuk menjaga kelancaran tugas dan meminimalisir potensi intervensi di lapangan," tegas Gubernur Mahyeldi.

Apresiasi dari BNPB: Sumbar Tercepat dalam Penanganan 

Sekretaris Utama (Sestama) BNPB, Rustian, yang hadir dalam pelepasan tersebut memberikan apresiasi tinggi bagi Sumatera Barat. Menurutnya, dari tiga provinsi yang terdampak bencana akhir November lalu, Sumbar adalah yang tercepat dalam transisi status.

"Saat ini, 12 dari 13 daerah di Sumbar sudah keluar dari status Tanggap Darurat dan memasuki masa transisi menuju Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Hanya Kabupaten Agam yang masih berstatus Tanggap Darurat. Ini menunjukkan kolaborasi pemerintah dan masyarakat di sini sangat solid," ungkap Rustian.

Ia juga menambahkan bahwa penanganan bencana harus menggunakan skema pentahelix, melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media karena tidak ada satu daerah pun di Indonesia yang benar-benar bebas dari risiko bencana.

Harapan Ribuan Warga di Pundak Mahasiswa 

Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, menitipkan pesan mendalam kepada para mahasiswanya. Ia mengingatkan bahwa kecepatan dan ketepatan data yang mereka kumpulkan adalah harapan bagi ribuan warga yang rumahnya rusak.

"Ada ribuan warga yang menanti kepastian. Saya instruksikan kepada mahasiswa untuk bekerja sesuai kriteria dan standar ketat dari BNPB. Laksanakan tugas ini dengan integritas tinggi," pesan Rektor Efa.

Dengan diterjunkannya 400 mahasiswa ini, diharapkan dokumen R3P dapat segera rampung sehingga bantuan perbaikan rumah bagi masyarakat terdampak dapat segera dikucurkan oleh pemerintah pusat melalui BNPB. BD





0 Comments