Sumbar Darurat Kekerasan: P2TP2A Gaungkan 'Benteng Keluarga' dan 'Ruang Bersama Merah Putih' Lindungi Perempuan dan Anak

Kadis DP3AP2KB Sumbar, dr. Herlin Diany saat menjadi salah seorang pemateri dalam dialog interaktif bersama tokoh masyarakat serta masyarakat dari dua nagari di Kota Solok dan Kabupaten Solok. Dok kitapunya 

PADANG - Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sumatera Barat terus merangkak naik, memicu keprihatinan serius dan desakan untuk memperkuat ketahanan keluarga. Dalam upaya mitigasi, Tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Limpapeh Rumah Nan Gadang Sumbar menggelar dialog interaktif dengan tokoh dan masyarakat di daerah terdampak pada Selasa (1/7/2025).

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sumbar, dr. Herlin, mengungkapkan bahwa peningkatan kasus kekerasan ini menjadi alarm bagi semua pihak. "Kami terus melakukan ikhtiar lewat road show sebagai upaya meminimalisir berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak," kata dr. Herlin, menegaskan fokus P2TP2A pada pencegahan di hulu.

Fenomena 'Gunung Es' Kekerasan dan Peran Ayah yang Hilang

Data menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2021-2024, tercatat 803 kasus kekerasan pada anak yang dilaporkan, namun angka ini diperkirakan hanya puncak gunung es. Hasil screening di SMA pada tahun 2024 menemukan bahwa kasus yang tidak dilaporkan bisa mencapai tiga kali lipat dari angka resmi. Dharmasraya, Pasaman Barat, dan Padang menjadi daerah dengan kasus tertinggi, namun daerah tanpa laporan bukan berarti aman. Ironisnya, banyak pelaku adalah orang terdekat korban.

"Korban kekerasan butuh waktu lama untuk sembuh dari stres mentalnya. Yang sudah menjadi korban punya potensi besar jadi pelaku," ungkap dr. Herlin, menyoroti lingkaran setan kekerasan yang harus diputus.

Dialog ini juga menyoroti isu "fatherless" atau minimnya komunikasi anak dengan ayah. Penelitian di Eropa menunjukkan bahwa individu yang terlibat kriminalitas seringkali adalah mereka yang kehilangan kasih sayang ayah. "Memang ibu adalah pendidik, tapi ayah adalah kepala sekolah. Punya tanggung jawab besar," tegas dr. Herlin. Kurangnya interaksi ayah dengan anak perempuan, misalnya, bisa membuat anak mencari idola dari luar, yang jika tidak tepat, bisa berujung pada hal negatif.

Meluruskan Kodrat dan Membangun 'Ruang Bersama Indonesia'

Pembahasan juga menyentuh miskonsepsi tentang peran gender. "Mengasuh anak, mengurus rumah tangga, memasak, itu bukan kodrat tapi tugas bersama," jelas dr. Herlin, meluruskan bahwa kodrat perempuan adalah melahirkan, menyusui, dan hamil. Pola asuh seorang ayah sangat dibutuhkan dalam keluarga.

Untuk mengatasi permasalahan ini, P2TP2A bergerak di hulu, fokus pada pencegahan melalui program "Ruang Bersama Indonesia (RBI)". RBI adalah gerakan kolaboratif yang bertujuan menciptakan lingkungan inklusif, aman, dan setara bagi perempuan dan anak. "Target kami adalah terbentuknya satu RBI per nagari," kata dr. Herlin.

Selain RBI, inisiatif "Sekolah Ramah Anak" juga menjadi fokus utama, mengingat banyak kasus kekerasan terjadi di lingkungan sekolah, yang menempati urutan kedua setelah rumah. "Pusat sekolah anak regional di Sumbar untuk mencegah kekerasan. Minimal satu ada RBI di daerah," tambahnya.

Tantangan dan Harapan: Komitmen Bersama untuk Sumbar yang Lebih Baik

Partisipasi ayah yang masih kurang dalam kelas ibu hamil menjadi pekerjaan rumah besar. Selain itu, sikap "tetangga masa bodoh" dan pudarnya nilai-nilai kearifan lokal seperti "kemenakan mamak" di Minangkabau juga menjadi tantangan.

Istri Wali Kota Padang, Dona Ramadhani, menekankan pentingnya peran bersama dalam meningkatkan kepedulian. "Kalau ada tetangga yang mengungkit-ungkit (masalah), ditanya. Karena ada yang tidak bisa mengendalikan perasaan," ujarnya.

"Orang tua yang paling bertanggung jawab pada anaknya. Hentikan kekerasan pada perempuan dan anak," tegasnya, mengajak masyarakat untuk menjadi "CCTV bagi lingkungannya".

Rencana tindak lanjut dari dialog ini mencakup sosialisasi dan advokasi RBI, pembentukan relawan SAPA (Sahabat Perempuan dan Anak), penyusunan tim RBI, pelantikan, pembagian tugas, serta kolaborasi dengan stakeholder terkait. Diharapkan, sinergi antara rumah, sekolah, dan tempat ibadah dapat memutus mata rantai kekerasan dan mewujudkan ketahanan keluarga yang kuat di Sumatera Barat.

0 Comments