P2TP2A Sumbar Gaungkan Penguatan Ketahanan Keluarga dan Perlindungan Perempuan-Anak Lewat Dialog Interaktif


BUKITTINGGI– Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Limpapeh Rumah Nan Gadang Provinsi Sumatera Barat terus menunjukkan komitmennya dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh dan aman. Hal ini dibuktikan melalui penyelenggaraan Dialog Interaktif bersama tokoh dan masyarakat terdampak di Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam pada 18-19 Juni 2025 lalu, bertempat di Grand Bunda Hotel.

Kegiatan yang merupakan tindak lanjut dari Surat Perintah Tugas Ketua P2TP2A Limpapeh Rumah Nan Gadang Provinsi Sumatera Barat ini bertujuan utama untuk menguatkan ketahanan keluarga di tengah berbagai tantangan zaman, sekaligus mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tim P2TP2A yang terdiri dari Wilda Khairani, Tasnidar, Suardi Z DT. Garang, Dra. Asri Suherti, dan Ardiles, SE turut serta dalam perjalanan dinas penting ini.

Pilar Ketahanan Keluarga: Fondasi Masyarakat Berdaya

Sesi dialog interaktif ini menghadirkan sejumlah narasumber dengan perspektif yang beragam dan mendalam. Quartita Evarihamdiana, SKM,. MM, Pengurus P2TP2A Limpapeh Rumah Nan Gadang Provinsi Sumbar, memaparkan pentingnya “Peningkatan Ketahanan Keluarga dalam Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak”. Ia menekankan bahwa ketahanan keluarga di Sumatera Barat bukan hanya soal ekonomi dan fisik, melainkan juga kekuatan nilai spiritual, moral, peran sosial, serta kemampuan menghadapi krisis.

Menurut Quartita, lima elemen utama ketahanan keluarga mencakup spiritualitas dan moral, keterikatan emosional, keseimbangan fungsi keluarga, ketahanan krisis, serta kemandirian ekonomi. Ia menganalogikan struktur ketahanan keluarga sebagai rumah yang kokoh: spiritualitas sebagai fondasi, komunikasi dan kasih sayang sebagai tiang, peran ayah-ibu-anak sebagai dinding, serta komitmen dan perlindungan sosial sebagai atap pelindung.

"Ruang Bersama Indonesia" untuk Perlindungan Holistik

Materi mengenai “Ruang Bersama Indonesia (RBI)” disampaikan oleh Ibu Desra Elena, SKM,. MKM, Kabid PHPA Dinas DP3AP2KB Prov. Sumbar. Beliau menyoroti bahwa perempuan dan anak adalah sumber daya potensial yang besar bagi pembangunan bangsa, namun sayangnya masih menghadapi tingginya angka kekerasan, terutama dalam bentuk emosional dan psikologis di lingkungan terdekat.

RBI hadir sebagai inisiatif strategis untuk memutus rantai kekerasan dengan pendekatan holistik. Ini mencakup penguatan peran keluarga (bukan hanya ibu, tapi juga ayah), pembekalan keterampilan problem solving kepada anak, serta pelatihan dukungan psikologis awal bagi pendidik dan teman sebaya. Program Sahabat PPA juga digulirkan untuk skrining dan deteksi dini kasus kekerasan.

Kearifan Lokal Minangkabau: Peran Sentral Bundo Kanduang

Perspektif budaya Minangkabau turut memperkaya dialog ini. Ibu Ir. Nelyati, M.Si, Ketua Bundo Kanduang Kota Bukittinggi, mengangkat tema “Penerapan Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Meningkatkan Ketahanan Keluarga”. Ia menjelaskan posisi sentral Bundo Kanduang sebagai pendidik pertama, pengelola rumah tangga, penjaga adat dan budaya, pelestari harta pusaka, dan penggerak ekonomi keluarga.

Nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kebersamaan, kejujuran, dan tanggung jawab yang ditanamkan melalui Bundo Kanduang menjadi fondasi kokoh bagi keluarga dalam menghadapi tantangan modern, sekaligus memperkuat jati diri masyarakat Minangkabau.

Strategi Bukittinggi dalam Wujudkan Ruang Bersama Merah Putih

Dari Pemerintah Kota Bukittinggi, Nauli Handayani, SKM., M.Si, Kepala Dinas P3APPKB Kota Bukittinggi, memaparkan “Potensi dan Strategi Kota Bukittinggi dalam Mewujudkan Ruang Bersama (RBI) Merah Putih”. Inisiatif ini dirancang sebagai ruang kolaboratif dan aman yang berakar pada falsafah Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Strategi pelaksanaannya mencakup penguatan identitas budaya melalui kurikulum muatan lokal (PKBAM dan PUPB), pembinaan pelaku seni, hingga optimalisasi ruang kelurahan sebagai pusat kegiatan lintas sektor (forum anak, layanan kesehatan ramah anak, rumah tahfidz, musyawarah Bundo Kanduang, rembug warga). Semua ini dibangun melalui kolaborasi multipihak antara pemerintah, tokoh adat, komunitas lokal, dunia usaha, dan institusi pendidikan.

Curahan Hati dan Saran dari Masyarakat

Sesi tanya jawab dan tanggapan menjadi momen penting bagi masyarakat untuk menyampaikan keresahan dan harapan. Perwakilan dari LKAM Kota Bukittinggi menyoroti kurangnya waktu orang tua untuk bercerita dengan anak dan hilangnya kebiasaan makan bersama keluarga yang krusial untuk internalisasi karakter. Mereka juga menyarankan kolaborasi P2TP2A dengan Dinas Pendidikan untuk penanaman karakter dan menjadikan program "Sekolah Keluarga Gemilang" sebagai inovasi bersama.

Tokoh Masyarakat Kabupaten Agam Nagari Banuhampu Pekan Senayan mengungkapkan kekhawatiran terkait narkoba, LGBT, dan kekerasan pada anak. Dampak handphone terhadap pergaulan bebas serta fenomena hilangnya adat dan rasa di Minang juga menjadi perhatian utama.

Sementara itu, Pengurus MUI Kabupaten Agam mengingatkan bahwa keluarga adalah lingkungan utama dalam Islam, dengan peran penting suami dalam menjaga keluarga. Krisis kepercayaan, keteladanan, dan keistiqomahan dalam mendidik anak juga disorot, menegaskan bahwa ibu (Bundo Kanduang) adalah madrasah utama dan role model di rumah.


Komitmen Lanjutan: Satu RBI per Kelurahan/Nagari

Sebagai tindak lanjut dari dialog ini, disepakati rencana konkret untuk mewujudkan Ruang Bersama Indonesia (RBI) per kelurahan di Kota Bukittinggi dan per nagari di Kabupaten Agam. Rencana tersebut meliputi sosialisasi dan advokasi RBI, pembentukan tim RBI termasuk relawan SAPA (Sahabat Perempuan dan Anak), penyusunan SK, pelantikan tim, pembagian tugas, sosialisasi luas kepada masyarakat, kolaborasi dengan berbagai stakeholder, pembentukan RBI, dan evaluasi berkala.

Dengan semangat kolaborasi dan komitmen bersama, P2TP2A Limpapeh Rumah Nan Gadang Provinsi Sumatera Barat optimis dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman, berdaya, dan harmonis bagi perempuan dan anak, berlandaskan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal Minangkabau.

0 Comments