Kasus Anak Terduga Gagal Ginjal Akut Misterius di Sumbar Bertambah, Terbanyak di Payakumbuh



PADANG-Angka kasus anak yang diduga terjangkit ginjal akut misterius di Sumbar terus bertambah. Hingga Kamis (20/10) terdapat 22 kasus. Dari jumlah itu 12 anak di antaranya meninggal dunia.

Data dari Kemenkes RI, sebanyak 99 anak Indonesia, kembali diduga menghembuskan napas karena kasus ginjal akut tersebut.

Data secara nasional, kasus Gangguan Ginjal Anak (GGA) sebanyak 1.174 kasus. Rinciannya sebanyak 732 kasus untuk rawat inap tindak lanjut dan sebanyak 442 kasus rawat jalan tindak lanjut. 

"Kasus ganguan ginjal anak ini terdata sejak Januari hingga Agustus 2022. Sedangkan anak dengan kasus gangguan ginjal tersebut berusia dari 0-14 tahun," kata Kepala Humas BPJS Kesehatan RI, M Iqbal, melalui pesan singkatnya. 

Berdasarkan data di RSUP M. DJamil Padang kasus terbanyak terdapat di Payakumbuh sebanyak 5 orang, Bukittinggi 3 orang, Jambi (3), sisanya dari Padang, Pariaman dan Lubuk Basung. 

Dari 12 anak yang meninggal itu, 10 di antaranya meninggal di RSUP M Djamil, dan 2 luar RSUP M Djamil Padang. Sebaran kasusnya, 5 berasal dari Kota Payakumbuh, 3 Bukittinggi, 3 dari Jambi, dan sisanya dari Pariaman dan Lubuk Basung.

Penanggung Jawab Ruang Emergency RSUP M. Djamil Padang, dr. Indra Ihsan, Sp.A, M. Biomed, menjelaskan terjadia kenaikkan kasus yang cukup tinggi dibanding sebelum adanya kasus ginjal akut misterius anak tersebut.

“Dari Juli 2022 hingga Oktober 2022, kami mencatatkan 12 orang anak telah meninggal dunia yang diakibatkan oleh gangguan ginjal akut di Sumbar. 10 orang meninggal di M. Djamil, satu di Mentawai dan satu pasien lainnya di RSUD dr. Rasidin Padang," terangnya, Kamis (20/10).

Disebutkannya, rata-rata pasien anak dengan gejala ginjal akut mempunyai riwayat demam. Selain  itu, 50 persen terpapar diare dan gangguan ispa.

“Saat ini kita telah mengirimkan sampel ke laboratorium di Jakarta. Hasil dari sampel masing-masing pasien berbeda-beda. Yang jelas anak-anak itu belum menerima vaksinasi Covid-19. Diduga 50 persen anak – anak ini telah terpapar Covid-19 tetapi tanpa bergejala,”tambahnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Sumatera Barat (Sumbar) Lila Yanwar menambahkan, saat ini Dinkes Sumbar pada saat ini terdapat empat orang yang masih dirawat di RSUP M Djamil Padang di bawah pengawasan tim Satgas Gagal Ginjal Akut yang telah dibentuk Dinkes Sumbar.

"Pasien yang sembuh masih terdapat gangguan di ginjalnya, sisanya, sembuh dengan ginjal yang mulai membaik,” jelasnya.

Lebih lanjut, Lila Yanwar menambahkan, akan melakukan penelusuran ke keluarga pasien dengan langkah penyelidikan epidemiologi.

"Kira-kira ada kaitan dengan kasus lain atau tidak, baik itu konsumsi makanan atau konsumsi obat, lingkungan keluarga dan sebagainya. Kemudian informasi tersebut akan kita kombinasikan dengan data yang ada di RSUP M Djamil Padang untuk menjadi bahan edukasi kita," tambahnya.

Kepala Balai Besar  Pengawas Obat dan Makanan (POM) Padang Drs. Abdul Rahim, Apt., M.Si. yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menolak bahwa kasus gangguan ginjal akut yang menyerang anak- anak disebabkan mengkonsumsi obat batuk sirop dan parasetamol sirop seperti kasus di Gambia, Afrika.

“Kasus di Indonesia, khususnya di Sumbar tidak ada hubungannya dengan kasus yang terjadi di Gambia, Afrika. Penyebab dari gagal ginjal ini belum ada kesimpulannya. Apakah akibat Covid-19, vaksin, dan sebagainya belum ada keterangannya. 

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumbar Dr. dr. Finny Fitry Yani, Sp.A (K) yang juga hadir dalam kesempatan tersebut menambahkan, pada saat ini gejala penyakit demam ringan pada anak tidak bisa dianggap enteng, tetapi orangtua tidak perlu mencemaskannya. YL/YS

0 Comments