-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kisah Petugas Kesehatan di Lokasi Kantina Perumahan Nelayan Padang

Wednesday, 16 December 2020 | 20:11 WIB Last Updated 2020-12-16T13:11:21Z

Petugas kesehatan bersama pasien positif Covid-19 di komplek perumahan Nelayan Lubuk Buaya Padang. Ist


PADANG-Tak pulang-pulang selama belasan hari bahkan berbulan-bulan ke rumah, ini yang dirasakan petugas kesehatan selama wabah Covid-19 melanda. Mereka silih berganti melayani pasien dan harus rela meninggalkan keluarga demi tanggung jawab.


Sri Parmala Susi, SST (40) Ahli Gizi, Konselor Menyusui, Fasilitator Makan Bayi dan Anak Puskesmas Anak Air Lubuk Minturun Padang, satu dari ratusan nakes Sumbar, yang harus rela berpisah dari keluarga. Setelah komplek perumahan nelayan di Lubuk Buaya dioperasikan sebagai lokasi karantina, dia ditunjuk dinas kesehatan sebagai tim dalam memberikan pelayanan kepada pasien-pasien di lokasi itu.


Ibu dua anak itu mendapat tugas pada September 2020. Ketika itu angka positif Covid-19 di Padang naik tajam. Dia dan rekannya bahu membahu membantu dan melayani ratusan pasien positif yang juga masuk silih berganti.


Di sana perempuan yang akrab disapai Susi ini, masuk dalam tim I bersama dokter, perawat dan petugas kesehatan lain memotivasi pasien positif. Mereka umumnya stres tingkat tinggi. Dari ratusan orang yang dirawat, ada ibu-ibu yang baru siap melahirkan. Mereka harus rela berpisah dari anak-anaknya.


"Banyak yang stres apalagi ibu-ibu usai melahirkan. Mereka stres karena jauh dari anak dan tidak mau memberi ASI, karena takut menularkan virus pada anak-anak mereka. Lalu kami mengedukasi dan motivasi agar mereka tetap memberi ASI sebab tidak akan menularkan virus," terang Susi.


Selama menjadi petugas pasien Covid-19, ada empat perempuan yang baru melahirkan. Tiga di antaranya memberikan ASI untuk sang bayi, satu perempuan lainnya tidak. Perempuan itu memilih memberikan bayinya susu formula. Bayinya itu kemudian dinyatakan positif. Sedangkan bayi yang mendapatkan ASI negatif.


Saat memerah ASI, petugas mendampingi para perempuan tersebut, sehingga ASI yang diperah tetap steril dan aman dikonsumi bayi.


"Setelah ASI diperah kami sterilkan dan disimpan dalam kulkas. Kemudian kami menghubungi ayah atau keluarga bayi. Mereka senang dan langsung menjemput ASI," terang Susi.


Dalam menjalankan tugas, Susi yang tergabung dalam tim I bergantian dengan tim II. Jadwalnya masing-masing satu minggu. Setelah satu minggu bertugas mereka akan menjalani swab. Jika hasilnya negatif baru mereka pulang dan istirahat selama 1 minggu. Kemudian, bertugas di puskesmas tempat dia dinas, setelah itu siap-siap kembali ke lokasi karantina.


Diawal bertugas melayani pasien covid, anak-anak Sushi sempat protes. Mereka menangis dan menolak ibunya ditunjuk ke lokasi karantina. Lalu Susi pun memberi pengertian pada dua jantung hatinya. Menolong pasien positif covid adalah tanggung jawab petugas kesehatan.


"Mereka akhirnya paham dan selalu ingin tahu apa saja pengalaman yang dijalani masing-masing pasien," terang Susi.


Saat berpisah dengan anak, adalah duka bagi Susi dan ibu lainnya. Sebab di tengah pandemi anak-anak belajar secara daring dan harus didampingi.


"Sedih tapi saya kuatkan diri demi tugas dan tanggung jawab saya pada pasien harus tetap dijalankan. Anak-anak pasti bisa belajar dan mengurus diri sendiri. Sampai akhirnya saya dan anak-anak terbiasa," sebutnya.


Kesedihan Susi jauh dari anak-anaknya, terobati ketika mampu menyemangati para pasien yang sangat stres karena positif covid. Lambat laun para pasien itu dapat menerima kenyataan kalau mereka tertular virus tersebut.


"Ada kebahagiaan tersendiri bagi kami nakes dapat membantu pasien kembali berpikir normal. Akhirnya mereka kembali beraktivitas dan termotivasi untuk segera sembuh jauh dari keterpurukan," ujarnya.


Menurutnya, selama bertugas di lokasi karantina banyak pasien yang telah sembuh dianggap seperti keluarga.


Sisi lain yang pernah dialami Susi, ketika bertugas di lokasi karantina, dia sedikit mendapat sindiran dari orang sekitarnya. Apakah tidak membawa virus saat pulang dari lokasi karantina.


"Ada yang bilang apa saya tidak positif atau membawa virus? Padahal kami sebelum pulang sudah diswab dan hasilnya negatif baru boleh pulang," terang Susi.


Dia berharap, semua lintas sektor terus mengedukasi masyarakat tentang apa itu Covid-19, bagaimana cara penularannya agar masyarakat terus sadar akan pentingnya protokol kesehatan bagi diri sendiri dan lingkungan masing-masing. Mulai dari memakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan mandi sekembali beraktivitas di luar rumah. YL







×
Berita Terbaru Update