-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Lama di Rumah, Rindu Siswa Tumpah di Sekolah

Wednesday, 15 July 2020 | 13:24 WIB Last Updated 2020-07-15T06:26:24Z
Seorang murid SD Citra Almadina Padang mencuci tangan di wastafel yang telah disiapkan sekolah,sebagai antisipasi penularan virus Covid-19. Ist

PADANG-Ada rindu di sekolah. Ini kata sebagian besar pelajar di negeri ini, ketika proses belajar mengajar dipindahkan ke rumah masing-masing akibat wabah Covid-19 mulai masuk Indonesia awal 2020.

Senin (12/7) sejumlah sekolah di Sumbar mulai dibuka, dengan menerapkan sistim protokol kesehatan. Kembali ke sekolah benar-benar dinantikan pelajar. Mereka rindu suasana sekolah, berjumpa teman karib, guru kesayangan dan kantin sekolah. Empat bulan lamanya belajar di rumah, membuat mereka seakan "terkurung". Pergerakan terbatas hanya dalam rumah. Sesekali keluar namun tetap tak bisa bergerak bebas seperti kondisi normal, sebelum datangnya virus Covid-19.

Hingga hari yang dinanti tiba, anak-anak pun bergembira. Seperti yang terlihat di SD Citra Almadina Padang. Di sekolah itu Senin kemarin, merupakan jadwal pengambilan buku. Antar kelas dipisahkan harinya. Misal pada Senin jadwal untuk kelas 1 dan 2, Selasa kelas 3 dan 4, kemudian Rabunya jadwal pengambilan buku kelas 5 dan 6.

Saat mengambil buku, anak-anak memakai baju seragam dan didamping orangtua masing-masing. Jadwal pengambilan buku dibatasi dari pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB. Waktu yang ada dimanfaatkan muriduntuk saling melepas rindu. Mereka bercerita satu sama lain, bermain, berlarian mengitari sekolah yang lama ditinggalkan. Mereka pastinya memakai masker, meski sesekali masker lepas dan dipasang kembali.

Selama sekolah di tinggalkan, tampak ada perubahan. Misalnya saja di gerbang pintu masuk SD Citra Almadina, terdapat sejumlah wastafel yang berjejer. Di sana terdapat sabun cuci tangan untuk murid. Wastafel yang disediakan sekolah, wadah bagi anak untuk mencuci tangan setelah melakukan aktivitas.

Murid-murid sedang membaca buku pelajaran yang akan mereka pelajari secara daring ke depannya. Ist
"Kamu kemana saja selama libur?" tanya seorang anak setengah berisik. Cerita mereka pun berlanjut. Mereka tertawa. Suasana pun jadi riuh. Kemudian mereka berlarian, kejar-kejaran melepaskan raga yang terkungkung selama wabah pandemi melanda negeri.

Kepala SD Citra Al Madina, Rimita Ningsih, SE. M.Pd, mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu instruksi dari pemerintah untuk sistim belajar tatap muka di sekolah. Sambil menunggu informasi tersebut, sekolah menerapkan sistem daring.

"Kami di sekolah juga akan melakukan survei, apakah orangtua maunya sekolah daring atau tatap muka di sekolah. Kebanyakan orangtua mau tatap muka, tapi ada beberapa yang enggan tatap muka. Alasannya ya masih takut karena Covid-19," terang Rimita.

Sejumlah orangtua pun mengeluhkan kondisi anak-anaknya selama belajar di rumah. Anak kata mereka telah bosan dan ingin sekolah secara tatap muka.

"Anak-anak sudah rindu sekolah. Kami sebagai orangtua juga sudah binggung menyuruh mereka belajar di rumah. Kebanyakan anak pengen main dan menonton hingga lupa belajar. Kalau mereka di sekolah, mereka pasti nurut sama guru dan mau belajar," terang Una, salah seorang orangtua siswa.

Sementara, dihari pertama sekolah daring yang menggunakan aplikasi zoom, orangtua disibukkan dengan penggunaan media online tersebut. Bagi orangtua yang sudah terbiasa dengan zoom tak jadi soal, tentu tidak bagi mereka yang belum pernah mencoba menggunakan aplikasi itu.

"Hari pertama anak hanya mendengarkan arahan dari kepala sekolah. Hari kedua anak masuk masa pengenalan sekolah dan diri pada teman-teman, sama wali kelas via zoom," kata Devi salah seorang orangtua siswi MTsN Gunung Pangilun Padang.

Pada hari pertama dan kedua belajar daring tersebut, orangtua mendampingi anak mereka. Prosesnya berlangsung dari pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB. Selama proses itu, masih banyak orangtua yang mengeluhkan penggunaan zoom yang tidak tersambung.
 Mereka menumpahkan keluh kesah dalam WA grup kelas masing-masing.

Di sisi lain empat daerah di Sumbar telah melakukan PBM di daerah masing-masing. Yakni Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Bukittinggi dan Pasaman Barat. Empat daerah tersebut masuk zona hijau karena semua kasus positif Covid di daerah itu sembuh.

Sedangkan Padang sebagai ibukota provinsi hingga kini masih berstatus zona merah, karena masih adanya kasus positif. Kondisi ini pula yang menyebabkan PBM masih daring. Di Sumbar secara keseluruhan total positif Covid-19 Rabu (15/7) sudah berada diangka 805 kasus. YL
×
Berita Terbaru Update