![]() |
Dokter edukasi pasien. Ist |
PADANG- Hepatitis B, sebuah penyakit yang seringkali tak menunjukkan gejala awal, menjadi momok kesehatan global dan nasional. Dengan sekitar 400 juta orang di dunia mengidapnya, dan 20 juta di antaranya berada di Indonesia, virus ini memicu kekhawatiran serius.
Diperkirakan 51 ribu jiwa melayang setiap tahun di Indonesia akibat komplikasi yang ditimbulkan.
Data BPJS Kesehatan tahun 2022 menunjukkan, 2.900 kasus kematian diakibatkan oleh Hepatitis B, yang bermuara pada sirosis hati dan kanker hati. Di Sumatera Barat sendiri, prevalensi Hepatitis B pada tahun 2018 mencapai 2,4 persen, dengan Padang sebagai penyumbang kasus terbanyak.
Dr. dr. Saptino Miro, Sp.PD-KGEH, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterohepatologi, menjelaskan bahwa virus Hepatitis A, B, C, D, dan E adalah penyebabnya. "Namun, yang paling berbahaya adalah Hepatitis B dan C. Keduanya bisa menjadi kronis dan berujung pada penyakit liver, kanker hati, dan kematian," tegasnya.
Ancaman Usia dan Gejala yang Terlambat
Meskipun semua usia berisiko tertular, komplikasi serius seperti sirosis dan kanker hati umumnya terjadi pada usia 30 tahun ke atas, dengan puncaknya pada usia 50 tahun.
"Meskipun jarang, kami pernah menemukan pasien anak dengan sirosis dan kanker hati di RSUP M. Djamil, menunjukkan bahwa paparan virus bisa terjadi sejak dini, katanya.
Yang mengkhawatirkan, penderita Hepatitis B seringkali tidak menunjukkan gejala di awal. "Paling-paling, hanya gejala umum seperti kuning atau mudah lesu," ujar Dr. Saptino.
Gejala baru muncul ketika penyakit sudah memasuki stadium sirosis liver atau kanker hati, ditandai dengan perut membesar (buncit), kaki bengkak, badan kurus, mata kuning, bahkan muntah darah. Pada kanker hati, pembesaran hati bisa terasa mendadak di perut kanan bawah.
"Angka kematian akibat kanker hati mencapai 100 persen. Harapan hidup setelah terdiagnosis liver dalam lima tahun sangat kecil," imbuh Dr. Saptino, menekankan betapa pentingnya deteksi dini.
Pentingnya Skrining dan Edukasi
Mengingat minimnya gejala awal, skrining merupakan cara paling efektif untuk mengetahui keberadaan virus Hepatitis B dalam tubuh. Tes HBsAg, diikuti dengan USG untuk memeriksa kondisi hati seperti perlemakan atau peradangan, sangat dianjurkan. Jika hasil tes darah dan USG positif, pasien akan dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
"Kami berharap masyarakat memahami bahaya Hepatitis B. Jangan diabaikan, karena di kemudian hari bisa menjadi penyakit liver atau kanker hati," pesan Dr. Saptino. Ia juga menegaskan bahwa jika seseorang sudah mengidap sirosis atau kanker hati akibat Hepatitis B, tidak ada obatnya. Namun, jika baru terpapar virus Hepatitis B dan belum terjadi komplikasi serius, pengobatan dengan konsumsi obat tertentu masih mungkin dilakukan.
Penyakit perlemakan hati, yang seringkali ditemukan saat USG, juga menjadi perhatian. Dr. Saptino menjelaskan bahwa kondisi ini sebagian besar disebabkan oleh kebiasaan hidup yang tidak sehat. Oleh karena itu, perubahan gaya hidup sehat menjadi kunci pencegahan yang tak kalah penting.
0 Comments